Top 10 Penulis

104 Hanyalah Angka

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

woman sitting on wheelchair
Photo by Steven HWG

Tetangga di belakang rumahku seorang wanita lansia berusia 104 tahun. Sebut saja Elisabeth, orang-orang biasa memanggilnya tante Elis atau oma Elis.

Di rumah itu oma Elis hanya bertiga. Oma sendiri dan ditemani seorang suster dan seorang asisten rumah tangga.

Rumah tiga kamar tidur itu berada di dalam perumahan. Kebetulan posisinya di jalan buntu sehingga sedikit kendaraan yang lewat di depan rumahnya. Sangat ideal dengan kondisi penghuninya yang membutuhkan ketenangan.

Setiap pagi suster Nur menemani oma Elis dengan kursi rodanya berjemur sambil mondar-mandir di sepanjang jalan depan rumahnya.

Tadi pagi sekitar jam 8, kulihat Oma di kursi roda sendirian di bawah terik sinar matahari.

Diam-diam kuhampiri beliau. Tanpa mengucapkan apa-apa kudorong kursi roda ke tepi jalan di bawah pohon rindang.

Dengan harapan Oma aman, tidak terlalu kepanasan dan saya bisa langsung melanjutkan jalan-jalan pagi.

“Suus…” panggil Oma tiba-tiba.

Dari dalam rumah muncul suster Nur dan menyapa saya dengan senyumannya yg ramah.

Sambil tertawa suster Nur berkata, “Oma suka panas Non… di bawah pohon kurang panas “.

Ups… Ternyata Oma memanggil Susternya karena itu toh.. 😅 “Oma sangat peka, tahu itu bukan cara mendorong  sang suster..”, dalam batinku.

Kemudian kuelus tangan keriput itu. Oma tidak dapat melihat dengan jelas. Beliau merasakan sentuhanku dan bertanya, “Ini dengan siapa ya..?”

“Saya Tina, di blok K di belakang dengan rumah Oma”, jawabku.

Suster Nur mengulang kata-kataku dengan suara lebih keras.  Kemudian Oma berkata lagi, “Kok diam saja.. ayo omong-omong”, kata Oma dengan logat suroboyoan.

Aku tersenyum sambil melirik suster Nur. “Kadang bisa dengar, kadang tidak “.. Jelas suster Nur setengah berbisik.

“Gak kepanasan Oma..?” , tanyaku prihatin.

Dengan suara lirih Oma menjawab, “Tidak..Oma suka berjemur, enak, hangat”.

“Sus..Oma dimandikan pakai air hangat ya Sus ?”, tanyaku.

“Pakai air biasa Non.. Oma mau mandi sendiri ” jelas suster.

“Saya hanya mengantar ke kamar mandi dan membantu membukakan pakaiannya”, imbuhnya.

“Selanjutnya Oma mandi sendiri, posisi duduk di kursi kayu”.

“Kalau makannya bagaimana Sus ?” tanyaku seolah mencari tahu rahasia sehat dan panjang umurnya Oma.

“Oma makan jam 4 pagi dan jam 9 pagi”, aku terkejut..

“Ooh…jadi gak ada makan siang dan makan malam ?”.

“Ya dua kali itu saja makannya.. siang hari makan buah atau minum jus”, jawab Suster.

Masih penasaran tentang makanan, kutanyakan makanan kesukaan Oma.

Perawatnya menjelaskan, bahwa makanannya sama seperti kita, yaitu; nasi, sayur, daging yang empuk, krupuk pun masih suka.

Tidak ada yang khusus , tidak ada pantangan. Dengan wajah sumringah suster menyampaikan, “Oma sehat, jarang sakit”.

Sambil menepi di bawah pohon rindang, suster melanjutkan ceritanya.

“Ingatannya pun masih tajam lhoo..”

Dengan nada tidak percaya spontan terucap olehku, “Oya..?”

“Sebagai contoh, berapa jumlah uangnya dia tahu”, jelas Suster.

Saya tersenyum mendengar Oma pegang uang.  Terbesit dalam benakku pertanyaan, “Kira-kira buat apa ya pegang uang..?”

“Iya.. Oma rutin diberi uang saku oleh cucu-cucunya”, lanjut suster menegaskan tanpa ditanya.

“Saat tahun baru Imlek Oma bisa memberi angpao ke anak-anak dari  cucu-cucunya dengan uang saku yang disimpannya itu”.

“Ooh..begitu..”, baru faham saya.

Menurut cerita yang Suster dengar.. 

Sebenarnya beliau punya dua putra, tapi kedua-duanya sudah mendahuluinya, juga tentang masa muda Oma dan suaminya yang suka menolong orang. 

Tidak heran sampai saat ini masih banyak yang menyayangi dan mengunjunginya.

Seperti kata-kata bijak yang pernah kubaca ;  “Harumnya bunga melati tidak dapat melawan arah angin, tetapi harumnya kebaikan dapat menyebar ke segala penjuru”.

Ini terbukti di kehidupan oma Elis.

Tak terasa sudah waktunya Oma mandi. Saya mendekati Oma.”Oma..saya pulang dulu ya..” saya pamit sambil menyentuh tangannya.

Oma langsung menolehku dengan tersenyum dan menganggukkan kepala.

“Mampir-mampir ya kalau ada waktu”, pesan Oma sambil melambaikan tangan. “Ya Oma..” kubalas lambaian Oma dan suster Nur yang sabar dan ramah.

Saat itu ada perasaan haru melihat Oma yang tetap semangat menjalani hari-harinya. Penderitaan masa tua dijalani dengan tanpa kemelekatan membuat hidup lebih ringan dan bahagia.

Pilihan

Terpoler Minggu Ini

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

woman sitting on wheelchair
Sebenarnya beliau punya dua putra, tapi kedua-duanya sudah mendahuluinya, juga tentang masa muda Oma dan suaminya yang suka menolong orang.
woman standing near wall
Setiap makhluk memiliki seorang ibu / Sosok penebar cinta kasih tanpa batas

Tulisan Terkait