Top 10 Penulis

4 Tahap Merespon vs Bereaksi terhadap Situasi

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

Hand with red nails showing four fingers
Photo by Zulfugar Karimov

Bagi seorang yang hidup di dunia ini tentunya memiliki target yang ingin dicapai. Seorang yang memiliki gol dan cita-cita pasti akan menyusun rencana dengan baik.

Lalu dia akan eksekusi rencana tersebut dengan penuh perhatian, konsisten, tekun, dan penuh semangat.

Namun jikalau dia mengalami kegagalan dalam suatu pencapaian pasti ada rasa kecewa.

Kecewa pun bisa muncul dari pengharapan yang melesat, tidak sesuai ekspektasi, keadaan yang berubah, sesuatu yang tidak memuaskan, tidak stabil, rentan, sulit dikontrol, kehilangan, tidak sempurna, cacat, dan rapuh.

Rasa kecewa sebenarnya merupakan perasaan yang wajar dan pasti akan terjadi karena memang semuanya bukan milik kita dan tidak ada “aku” atau “tuan” yang sebenarnya.

Namun kekecewaan jangan sampai membawa penderitaan yang lebih serius seperti rasa putus asa, ratap tangis, kesedihan, dan kekecewaan mendalam, serta depresi.

Nah, melalui artikel inilah penulis ingin berbagi tentang pentingnya tetap merespon situasi dengan baik. Meskipun telah mengalami kekecewaan akibat kegagalan dan berbagai hal lainnya seperti kekalahan, penolakan, dan lain-lain yang tidak sesuai ekspektasi.

Mari langsung dibahas saja.

Penulis mengambil contoh pada saat kita mengalami kecewa karena kegagalan, cobalah untuk tidak bereaksi dengan tanpa pertimbangan dan terburu-buru.

  1. Daripada kita membiarkan emosi awal membentuk reaksi yang negatif, cobalah untuk merasakan emosi itu. Kita bisa memberikan izin bagi diri sendiri untuk merasakannya.
  2. Lalu tanpa mengatakan hal pertama yang terlintas di pikiran sebagai sebuah reaksi, cobalah untuk meluangkan waktu yang cukup untuk memikirkan tindakan selanjutnya dengan berhati-hati. Berikan jeda waktu di sana. Ada kalanya kita akan terhanyut dan terbawa oleh emosi negatif. Saat itu kita lebih mengandalkan dan menurut emosi semata. Ini lah yang harus dihindari.
  3. Alih-alih membiarkan emosi mengambil keputusan sebagai sebuah bentuk reaksi, kita bisa memperhatikan fakta dari situasi dan perubahan pada emosi. Dari sana kita lebih bisa mengerti akan emosi yang muncul. Apakah emosi yang positif atau negatif. Apakah emosi itu yang bermanfaat atau berbahaya.
  4. Kalau sudah sampai di sana, kita bisa berusaha untuk memandang situasi apa yang menyebabkan kegagalan dari perspektif yang berbeda. Bukan dari perspektif kita semata-mata. Yaitu persepsi dari luar diri kita.

Dengan demikian kita bisa mengarahkan emosi pada hal yang wajar, tidak berada di sana terus menerus, dan tidak menyalahkan keadaan dan pihak luar.

Itulah serangkaian dari respon yang baik dan bukan berupa reaksi yang buruk dan terburu-buru.

Bagaimana? Bukankah lebih baik kita menghadapi situasi dengan tenang, sabar, dan tidak gusar?

Apalagi keadaan dan pihak luar benar-benar sulit untuk dikontrol sesuai kehendak. Kita hanya bisa fokus pada apa yang bisa dikontrol yaitu bagaimana kita merespon situasi.

Bagaimana sobat Mettasik, apakah kita ingin menjadi pribadi yang mudah terbawa emosi negatif atau sebaliknya?

Yuk, belajar merespon segala situasi dengan baik dan bijaksana tanpa memunculkan reaksi yang negatif.

Pilihan

Terpoler Minggu Ini

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

Hand with red nails showing four fingers
Rasa kecewa sebenarnya merupakan perasaan yang wajar dan pasti akan terjadi karena memang semuanya bukan milik kita dan tidak ada “aku” atau “tuan” yang sebenarnya.

Tulisan Terkait