Ya, dan pasti.
Apa yang tidak punah?
Kapan?
Tidak akan terjadi selama saya masih ada dan mampu berkarya untuk Buddha Dharma di Indonesia.
Biksu (Ashin) Jinarakkhita (1923-2002) bersama para sesepuh yang raganya telah meninggalkan kita berhasil membangkitkan kembali agama Buddha di Indonesia. Berkat jerih payah mereka, perkembangan agama Buddha meningkat pesat. Jumlah biksu/biksuni, samanera/samaneri, upasaka/upasika bertambah berlipat-lipat dibandingkan masa ketika Sukong (panggilan khas beliau) berjuang. Cetiya, wihara, sekolah, bahkan sekolah tinggi agama Buddha telah berdiri. Di era internet dan sosial media sekarang, Buddha Dharma dapat dipelajari dengan mudah melalui konten-konten yang setiap hari dipublikasikan melalui video atau tulisan.
Meskipun raga para pendahulu kebangkitkan kembali agama Buddha di Indonesia sudah tidak ada, tetapi jiwa dan semangat yang mereka tunjukkan tetap membara dalam diri banyak umat Buddha yang peduli-melayani. Selama mereka masih bersedia menjadi pengurus wihara, guru sekolah minggu Buddha, pandita dan dharmaduta, dan melakukan berbagai peran aktif lain demi kemajuan dan perkembangan agama Buddha, kita masih akan tetapi hidup melihat agama Buddha ada di Indonesia. Mereka telah melaksanakan instruksi Buddha untuk menyebarkan Dharma demi kebaikan, kesejahteraan dan kebahagiaan banyak makhluk, para dewa dan manusia, dan karena kasih kepada dunia (SN 4.5).
Salah satu solusi agar agama Buddha tetap ada di Indonesia adalah mendahulukan pelayanan daripada organisasi. Birokrasi perlu dipangkas agar umat dapat dengan mudah dilayani. Roda Dharma harus lebih kencang dan sering diputar daripada roda organisasi. Musyawarah-musyawarah di tingkat apa pun harus menghasilkan keputusan-keputusan yang langsung berhubungan dengan aktivitas membabarkan Dharma. Pelatihan untuk meningkatkan kualitas SDM pandita/dharmaduta dan guru Sekolah Minggu Buddha, kelas-kelas yang mengajarkan materi agama Buddha dari dasar hingga lanjutan, retret pemula hingga mahir, dan lain sebagainya harus menjadi keputusan dalam rencana jangka menengah atau panjang dari musyawarah-musyawarah itu. Tentukan jadwal dan agendanya. Buat rencana strategisnya. Umat tidak butuh keputusan yang hanya mementingkan roda organisasi berputar. 2500 tahun yang lalu Buddha memutar roda Dharma. Lalu, bila organisasi seret memutar roda Dharma tetapi lancar memutar roda organisasi, lantas ia masih layak disebut organisasi Buddhis?
Solusi lain adalah peningkatan kesejahteraan guru agama Buddha, dharmaduta, dan pandita. Siapa yang mau jadi guru agama Buddha bila gajinya tidak cukup dan diberi tempat tinggal seadanya di wihara oleh pengurus tetapi diberikan tugas yang banyak dan tanggungjawab yang berat. Mereka juga manusia yang butuh kesejahteraan. Dharmaduta dan pandita juga layak diperhatikan. Paling tidak ada sebuah sistem yang dapat diterapkan untuk menilai kinerja sehingga penghargaan dan kesejahteraan dapat diberikan kepada yang dibutuhkan. Sebuah konsep yang komprehensif perlu direncanakan lebih lanjut untuk kemudian diimplementasikan sehingga kesejahteraan para guru agama Buddha, dharmaduta, dan pandita meningkat.
Apakah dua-jutaan umat Buddha di Indonesia akan lenyap suatu saat nanti?
Ya.
Tetapi selama saya masih hidup, paling tidak akan tersisa satu orang Buddha di Indonesia.
Kemudian, bagaimana kita meningkatkannya?
Putar roda Dharma! Sejahterakan guru agama Buddha, dharmaduta, dan pandita.

















