Top 10 Penulis

Akibat Meditasi, Kena Tipu Pun Tidak Marah

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

gray rocks on seashore during daytime
Photo by Alejandro Piñero Amerio

Berawal dari pikiran yang gelisah menghadapi masa pensiun setelah habiskan waktu 28 tahun bekerja. Bermacam-macam pikiran, pertanyaan berkecamuk, “Apakah bisa hadapi hari tanpa ada kesibukan, bagaimana nanti kalau stres, jenuh?”   

Semua pemikiran tersebut bermain di kepala. Ketika saatnya tiba semua berjalan seperti air mengalir, tenang, walaupun terkadang muncul rasa sepi tetapi itu wajar selama kita masih bernafas. Pemikiran, ide yang dulu saat bekerja tidak bisa saya kerjakan karena kesibukan, bermunculan tanpa saya sadari. Saya mendalami berbagai macam hobi, dance, yoga, dan bermeditasi.  

Berkat seorang sahabat meditasi, terbentuklah kelompok kecil sederhana yang kami namakan “Sahabat Maditasi.“ Kelompok tersebut berisikan teman masa kecil dan keluarga.

Saya dan teman-teman sangat bersemangat di kelompok Sahabat Meditasi, mendengarkan nara sumber berbagi pengalaman hidup, mendapatkan manfaat yang sangat besar berkat meditasi. Saya melihat, merasakan, dan membuktikan sendiri (Ehipassiko), bagaimana meditasi mampu merubah kehidupan suami dan saya menjadi jauh lebih berkualitas.  

Masih teringat jelas musibah yang menimpa saya, tetapi kesadaran yang muncul berkat latihan meditasi menyelamatkan saya dari musibah yang lebih dalam.                                                           

Suatu malam seseorang mengirimkan pesan, sebutlah Namanya “Bapak A” Ia mau menyewa apartemen saya yang kebetulan kosong. Melalui pembicaraan yang cukup panjang, terbentuklah kesepakatan soal harga dan lainnya.  

Seperti biasanya, sebagai penyewa, si Bapak A ini mengirimkan kartu identitas. Selain itu dia juga bercerita kalau dirinya akan tinggal bersama istri. Melihat kartu identitas serta mendengarkan jika apartemen saya akan ditempati oleh suami istri, membuat hati saya bahagia. Karena hari sudah malam, kami sepakat untuk melanjuti pembicaraan pada esok hari .

Keesokan harinya pembicaraan berlanjut ke arah cara pembayaran dan tanggal masuk. Setelah semua sepakat akhirnya Bapak A membayar uang muka. Saya bingung, mengapa bukti transfer uang mukanya lebih besar dari yang dijanjikan? 

Bapak A menelpon saya seperti tergesa-gesa dan menjelaskan kalau istrinya salah transfer jumlah uangnya. Ia lalu meminta tolong agar uang selisihnya bisa segera ditransfer. Sebabnya ada sesuatu yang urgent, dia mau membayar tiket ke Jakarta dari daerah asalnya.

Si Bapak A ini juga menjelaskan jika limit waktu pembayaran tiket hanya tinggal beberapa menit lagi. Karena terbiasa dengan bermeditasi saya terbiasa melihat segala sesuatu dari sisi positif. Ditambah lagi, suasana yang diciptakan oleh sang bapak terkesan sedang bingung.

Segeralah saya kembalikan kelebihan uang tersebut. Saya tidak ada pikiran sama sekali untuk mengecek rekening saya, apakah dana tersebut sudah masuk. 

Tak lama kemudian si Bapak A menelpon kembali dan mengucapkan terima kasih karena kelebihan uangnya sudah diterima. Pembicaraan selanjutnya, Bapak A menjelaskan jika pimpinan tempat dia bekerja akan segera transfer full uang sewa, tetapi nilainya lebih tinggi dari harga yang kami sepakati.  

Dia berdalih, posisi yang ia tempati pada perusahaan tersebut, mendapatkan paket uang sewa dua kali lipat dari harga sewa apartemen saya. Kembali lagi bukti transfer kedua dikirimkan dan dengan sangat halus meminta tolong kembali untuk mentransfer ulang kelebihannya. Persis sama seperti kejadian pertama .

Saya tidak ada rasa curiga sama sekali saat melihat bukti transfer yang yang cukup besar sudah sampai ke saya. Si Bapak A ini kembali berkirim pesan, “saya sudah transfer yah Bu, tolong bantuannya untuk transfer kembali kelebihan dananya ke rekening Istri saya yang tadi, trima kasih sekali lagi bu “. 

Sekali lagi, tanpa berpikir panjang saya segera mentransfer kelebihan uang sewa tersebut. Tetapi tiba-tiba di kepala saya seperti ada yang membisikan “SADAR YOL- SADAR YOL.”

Lantas, tanpa pikir panjang lagi, jari-jari tangan saya dengan lancar mulai memeriksa uang masuk ke rekening saya. Tenyata tidak ada sama sekali. Bahkan transfer yang awal pun tidak ada . 

Anehnya, tanpa curiga saya masih berpikir mungkin butuh waktu untuk masuk ke rekening saya. Selanjutnya, seperti ada yang mengerakan jari saya untuk menelpon layanan perbankan 24 jam. 

Petugas tersebut menerangkan “tidak ada uang yang masuk pada hari ini Bu, yang ada hanya uang keluar dari Ibu ke rekening bank lain“ yaitu istri si Bapak A . 

Tiba-tiba semua menjadi jelas dan saya sadar kalau saya tertipu. Bapak A masih berkirim pesan dan bertanya, “Maaf Bu, uangnya mengapa belum masuk yah?”

Saya lalu menjawab dengan tenangnya “uang yang Bapak kirim juga belum masuk.“

Namun anehnya, saat menjawab pesan dari si Bapak A, saya tidak merasakan marah ataupun benci. Hanya senyum kecil diwajah “ yah saya kena tipu “.   

Dengan pengalaman ini saya malah bersyukur, bisa segera sadar sehingga tidak menimbulkan kerugian yang lebih parah.”

Dan saya sangat yakin jika ini semua berkat rajin latihan meditasi yang membuat kesadaran saya dengan cepat kembali. Bayangkan kalau saya tidak mengenal meditasi pastinya saya akan terus berhubungan dengan si Bapak A.

Ataupun kalau saya sadar tertipu, mungkin sumpah serapah dan menyalahkan kebodohan diri akan mengikuti terus hari-hari saya. Tetapi berkat mendalami meditasi walaupun masih harus banyak belajar, saya bisa tetap tenang dan pergi tidur dengan hati dan pikiran positif. Tidak lupa juga untuk bertekad selalu belajar agar lebih waspada dikemudian hari.   

Semoga semua mahluk berbahagia .

****

Pilihan

Terpoler Minggu Ini

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

brown ice cream cone
Semoga dengan kejadian yang menimpa A, akan banyak membawa kesadaran bagi diriku sendiri. Disaat intuisiku, batinku berkata bahwa sudah waktunya sitting kembali, “lakukanlah Yol“ tidak lagi punya keraguan tentang “jeda waktu.“
woman walking with shadow
Aku bertanggung jawab atas perbuatan ku sendiri, terlahir dari karma ku sendiri.

Tulisan Terkait