Ini adalah kisah tentang diriku. Sewaktu saya masih duduk di bangku SD kelas 2. saya itu pulang sekolah selalu jalan kaki, karena jarak sekolah dan rumah memang tidak terlalu jauh, dan orang tua juga percaya saya mandiri dan bisa sendiri. Kebetulan sekali rumah saya bersebelahan dengan sebuah sekolah SMA yang setiap tahun mereka sering mengadakan kegiatan pembunuhan binatang untuk acara tertentu, dimana di saat itu, pagar depan sekolahan sma itu belum ada penutupnya, jadi semua aktivitas di halaman pasti terlihat dari jalan.
Pada suatu hari saat saya pulang sekolah, terlihat ada keramaian di sekolah sma tersebut, saya kira ada apa, saya juga ikut tertarik, lalu saya melihat. Berhubung saya kecil, sama orang-orang yang juga melihat acara itu, saya disuruh maju ke depan. Nah, disini kelihatan semua aktivitas di acara itu. Ternyata mereka sedang menyembelih seekor sapi yang besar, di halaman sekolah itu.
Langsung saja saat itu saya lari ketakutan pulang kerumah, dan itu traumanya sampai tidak hilang-hilang, bisa jadi mungkin sampai sekarang. Tapi sekarang sudah tidak terlalu menakutkan dibandingkan waktu kejadian pertama, karena umur yang semakin dewasa, tapi rasa ngeri itu masih saja ada.
***
Suatu saat saya juga tidak sengaja membaca buku, tapi lupa judulnya, tentang psikologi begitulah, dimana mereka menuliskan bahwa, seseorang yang melakukan tindakan tidak baik, waktu itu dicontohkan memang pembunuhan, akan diawali dari hal yang kecil, lalu lama-lama korbannya akan membesar, karena sebuah kebiasaan yang juga pembenaran yang dia ciptakan sendiri di dalam pikirannya.
Misal: waktu itu contohnya, seseorang yang membunuh jangkrik, karena telah biasa dilakukan, dia pun tidak segan untuk membunuh katak, lalu mulai lah membunuh tikus, dan lain lain, dimana korbannya akan semakin membesar. Ini karena faktor pembiasaan yang dilakukan dan pikirannya yang membenarkan apa yang dilakukan, dimana bisa jadi tumbuh bibit psikopat di dalam dirinya.
***
Kembali ke cerita saya, kalau menurut pengalaman saya, ini pendapat dan pemikiran saya sendiri, juga berdasarkan kesimpulan atas buku yang saya baca, mungkin lebih baik anak-anak tidak dipertunjukkan atau di tontoni suatu aktivitas yang sadis, sebelum mereka dapat mencerna dan menerima aktivitas itu dengan benar, agar tidak membawa efek yang tidak baik.
Jagalah anak-anak kita dengan baik, biarlah mereka menikmati masa bahagia nya tanpa kekerasan, damai penuh ketenangan dalam cinta dan welas asih. Ajarkan mereka aktivitas-aktivitas yang membawa kebaikan-kebaikan, yang melatih cinta kasih kepada sesama, yang melatih kesabarannya, yang melatih pikirannya untuk berkembang dalam hal-hal yang positif, misalnya : menyayangi, menghargai dan menghormati yang lebih tua, mencintai binatang-binatang di sekitarnya, meditasi, berderma, membantu orang lain dan sebagainya.
Dimana itu semua akan menjadi kebiasaan baik yang akan dibawanya kelak sampai dewasa bahkan sampai tua, yang mungkin juga ia kenang dimana itu adalah hal-hal yang baik, yang juga membawa kebaikan bagi diri nya sendiri maupun bagi semua orang disekitarnya. Dan biasanya pikiran masa kecil itu adalah pikiran yang indah, pikiran yang murni, yang bersih, tetapi juga paling berkesan, paling sulit hilang, jadi jangan dinodai oleh sesuatu yang buruk, meskipun setiap orang membawa karmanya masing-masing, tetapi kita setiap saat harus berusaha menjadi sesuatu yang lebih baik dari saat yang lalu atau bahkan kelahiran yang lalu.
Demikianlah sedikit dari saya, semoga bermanfaat, silahkan dimaknai, terima kasih
Semoga semua makhluk berbahagia

















