Top 10 Penulis

Anak Sulung Cari Jodoh, Kitab Ribuan  Tahun pun Dibuka

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

Vibrant red traditional wedding scene with bride in veil and candles.
Photo by 木莲 杨

Jadi begini,

Seperti biasa, menjelang imlek, kunjungan ke rumah Ko Ahong adalah hal wajib. Tujuannya untuk meramal nasib.

Katanya, sih, di tahun Kuda Api, tidak banyak yang berubah dalam hidupku yang adem-ayem ini. Syahdan, yang perlu dibahas hanya tentang tata cara sembahyang, agar rezeki makin nomplok. 

Ah, tiap tahun juga seperti itu. Enteng!

Tapi, yang bikin cenat-cenut adalah ramalan tentang putra sulungku. Menurut Koh Ahong, tahun ini dia harus dapat jodoh. 

Saya tekankan lagi, ya. Harus! Bukan Akan!

Pusinglah kepalaku.

Sebenarnya, tidak ada masalah dengan si Sulung. Ia ramah, baik hati, dan terbuka kepada siapa saja. 

Pun kualifikasinya cukup mumpuni. Berpendidikan tinggi, punya pengalaman kerja di negeri orang. Tinggi badan 178cm, dengan dada bidan, dan perut yang sedikit buncit. Wajahnya mirip Lee Min-ho, meski ia tak suka drama. 

Tapi, problemanya adalah, dia itu tipe Gen Z yang menganggap bahwa jodoh adalah urutan ke sekian dari sekian banyak prioritas. Meskipun, usianya sudah tak lagi muda—28 tahun.

Itulah, mengapa ia tak kawin-kawin.

“Kenapa harus cari jodoh tahun ini?” Tanyaku dengan kening mengkerut.

Koh Ahong menjawab, “karena Ba-zi nya (ramalan Bintang) seperti itu.”

“Si putra sulung berunsur logam. Tahun ini adalah kuda api. “Jadi, dia harus ‘dibakar,’ agar rezekinya melimpah,” tambah dia. 

Aku tak lagi bertanya, karena pesannya jelas. Si Sulung harus segera dapat jodoh.

Sebelum aku sempat protes, Koh Ahong melanjutkan lagi, “Tatanan surga telah tercatat ribuan tahun. Sebagai orang Tionghoa, dengarlah nasihatku.”

Aku pun terdiam. Memang si peramal yang satu ini pandai mengulik perasaan. Tatanan surga katanya. Itu artinya sesuatu yang tak bisa Anda lawan.

Tapi, dia ada benarnya juga. Perjodohan bagi orang Tionghoa bukan hanya soal kawinan dan punya anak. 

Lebih daripada itu.

Ribuan tahun berlalu, purnama bersinar selalu.
Jodoh memang perlu, urusan cinta hanya soal waktu.

Perjodohan dan perkawinan bagi orang Tionghoa memiliki makna filosofis yang sangat dalam. Hal ini dipandang sebagai keselarasan dua prinsip alam semesta sebagaimana yang tertera pada konsep Yin-Yang.

Dalam filsafat itu, Yin melambangkan unsur feminin, dan Yang sebaliknya: aktif, agresif, protektif, dan ekspansif. 

Perkawinan membuat kedua unsur ini bersatu, bukan hanya sekadar hubungan emosional atau komitmen bersama untuk menciptakan keluarga, tapi juga menyelaraskan keseimbangan, menjadikan keluarga sebagai miniatur harmoni semesta.

Lebih lanjut, ajaran Konfusius yang menjadi pilar filsafat hidup orang Tionghoa pun mengatakan bahwa pembentukan keluarga adalah fondasi moral Masyarakat. Karena dari sana, lahirlah keteraturan sosial, etika, dan tanggung jawab.

Konfusius menekankan ajaran Xiao (bakti kepada orang tua dan leluhur) sebagai hal fundamental.    

Di dalam ikatan perkawinan, seorang anak tidak hanya menjadi pasangan bagi yang dicintainya, tetapi juga penerus nilai dan penjaga nama keluarga. Rumah tangga dipandang sebagai sekolah pertama kebajikan, tempat rasa hormat, kesetiaan, dan pengendalian diri dilatih dalam keseharian. Dan, dari sanalah tumbuh generasi yang memahami asal-usulnya, menghormati leluhurnya, dan meneruskan kebajikan kepada masa depan.

Yuan Fen adalah Sesuatu Hal yang Sakral

“Jadi, waktu kami hanya setahun untuk mencarikannya jodoh?” ujarku mulai meragu. “Lalu, kalau tidak ketemu, artinya rezekinya bakal tidak aman?” 

Koh Ahong hanya tersenyum-senyum simpul mendengarkan protesku. “Kamu pernah dengar tentang Yuan Fen?” tanyanya.

“Tentu, Yuan Fen arti harafiahnya adalah jodoh, bukan?”

Koh Ahong menggeleng. “Lebih dari itu,” katanya santai.

Alih-alih menjawab pertanyaanku, dia melatunkan sebuah pepatah dalam bahasa Tionghoa yag artinya: 

“Sepuluh tahun kebajikan membuat kita menyeberang dalam satu perahu; seratus tahun kebajikan membuat kita berbagi bantal.”

Pepatah bernuansa Buddhis-Tionghoa ini menggambarkan bahwa menjadi suami istri adalah hasil akumulasi Kebajikan dari karma kehidupan masa lampau. Konon, ada Dewa Cinta (Yue-Lao) yang telah mengikat benang merah pada kaki suami-istri sejak mereka lahir di dunia ini.

Aku masih bingung, dan Koh Ahong buru-buru menyimpulkan, “Hanyalah masalah waktu hingga putra sulungmu menemukan jodohnya.”

Untungnya, Koh Ahong yang baik hati tidak membiarkan kami kebingungan sendiri. “Kalau bisa cepat-cepat, kenapa tidak sekarang,” tambah dia sembari mengeluarkan sebuah buku tulis bersampul kusam. 

“Jangan khawatir, saya punya stok banyak,” ujarnya. “Isinya daftar klien yang sedang mencari jodoh untuk anaknya.”

Lalu, bagaimana perasaanku sebagai ayah?

Dengan cepat, di kepalaku berseliweran simbol-simbol Shuang Xi. Itu adalah simbol pernikahan. Warnanya merah dan wajib dipajang sebagai aksesoris bagi pengantin. Secara harfiah maknanya adalah Kebahagiaan (xi) dan Ganda (Shuang). Atau bisa juga Dua Kebahagiaan.

Simbol ini tidak saja berarti penyatuan dua hati, dua keluarga yang membawa keberuntungan, tapi juga harapan akan kelahiran keturunan yang baik di masa depan. Dan, ini berarti kebahagiaan yang berkelanjutan bagi pasangan dan keluarga mereka.

Ah, Keturunan … Cucu

Rasanya, sih, aku sudah lebih dari siap menjadi Engkong. Usia hanyalah soal angka, tapi punya cucu itu adalah kebahagiaan tersendiri. Bisa bawa hoki pula, kata Koh Ahong.

Pilihan

Terpoler Minggu Ini

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

Vibrant red traditional wedding scene with bride in veil and candles.
Perjodohan dan perkawinan bagi orang Tionghoa memiliki makna filosofis yang sangat dalam. Hal ini dipandang sebagai keselarasan dua prinsip alam semesta sebagaimana yang tertera pada konsep Yin-Yang.
gold and white religious print book on red textile
“Bagi-bagi angpao itu bawa hoki, lho. Ntar kamu pasti dapat lebih banyak.”

Tulisan Terkait