Sebagai umat Buddha, pasti tidak asing lagi dengan kata taṇhā, yang merupakan penyebab dari Dukkha (ketidakpuasan) yang disebutkan dalam Empat Kebenaran Mulia, dalam sutta pertama, Dhammacakkappavattana Sutta,
- Dukkha Ariyasacca, Kebenaran Mulia tentang Penderitaan, yang dalam sutta disebutkan patut dipahami
- Dukkha Samudaya Ariyasacca, Kebenaran Mulia tentang Asal Mula Penderitaan, patut dihindari
- Dukkha Nirodha Ariyasacca, Kebenaran Mulia tentang Lenyapnya Penderitaan, patut dicapai
- Dukkha Nirodha Gāminī Paṭipadā Ariyasacca, Kebenaran Mulia tentang Jalan Menuju Lenyapnya Penderitaan, patut dikembangkan
***
Dalam keseharian kadang bingung, taṇhā itu seperti apa?. Bagaimana mengetahui kalau perbuatan kita didasarkan oleh taṇhā. Penjelasan yang lebih mudah dipahami adalah keserakahan (lobha), kebencian (dosa) , kebodohan batin (moha).
Keserakahan (lobha), dikenali dengan “aku” menarik sesuatu yang aku inginkan, yang aku senangi, aku sukai. Apakah sesuatu itu dalam bentuk benda, suara, rasa atau hanya khayalan.
Kebencian (dosa), dikenali dengan “aku” menghancurkan, menyingkirkan sesuatu yang tidak sesuai dengan yang aku senangi.
Kebodohan-batin (moha), dapat dikenali dengan: ini aku. Seperti sombong, walau pun sudah tau salah, tetapi tetap melakukan. Tidak mau tau sesuatu yang benar.
***
Taṇhā sepertinya lebih mudah dipahami berdasarkan kutipan Dhammacakkappavattana Sutta, sebagai berikut:
Yāyam taṇhā ponobbhavikā nandirāgasahagatā tatra tatrābhinandinī seyyathīdam: kāmataṇhā, bhavataṇhā, vibhavataṇhā.
Yang artinya:
Ketagihan (Taṇhā) yang menyebabkan tumimbal lahir, disertai dengan nafsu indria (nandi sāga sahagatā) yang mengejar kesenangan di sana sini, yaitu:
kāma-taṇhā:ketagihan akan kesenangan indria,
bhava-taṇhā:ketagihan akan penjelmaan,
vibhava-Taṇhā:ketagihan akan pemusnahan diri sendiri.
Secara jelas menyebutkan bahwa taṇhā penyebab kelahiran kembali. Taṇhā juga dengan penuh nafsu mengejar kesenangan ke sana sini.
Penjelasan bahwa taṇhā kalau muncul pikiran kesana, kemari mengejar sesuatu demi kesenangan.
Bagi mereka yang pernah bermeditasi, misalkan mengamati nafas masuk-keluar secara alami atau meditasi cinta-kasih, pasti akan mengetahui bagaimana pikiran beraksi.
Baru mengamati nafas masuk, pikiran sudah berlari entah kemana, lalu mengembara. Balik lagi ke nafas, pergi lagi ke mall, balik lagi ke nafas, pergi belanja. Pikiran selalu mengejar kesenangan kesana kemari, begitulah taṇhā.
***
Kembali ke lobha (keserakahan) dan dosa (kebencian). Kalau keserakahan lebih mudah dipahami sebagai taṇhā, karena mengejar sesuatu. Tetapi kebencian, agak sulit dipahami sebagai taṇhā, karena kalau kebencian muncul, akan menyingkirkan.
Sebenarnya baik keserakahan dan kebencian, keduanya mengejar. Kalau ada orang yang disukai, maka akan cari akun nya di sosial media, untuk dilihat gambarnya, ditonton videonya dan di-like, senang rasanya.
Sebaliknya kalau ada orang yang dibenci, juga dicari akun sosial media nya. Dilihat gambar dan videonya untuk mengetahui apakah ia menderita atau enggak, kalau ia menderita senang rasanya.
Kadang kita paham apa yang akan dikerjakan adalah sesuatu yang salah, tetapi gak peduli tetap saja mengerjakan, demi kesenangan.
Begitulah taṇhā, kalau sedang muncul akan mengejar demi kesenangan.
***
Penjelasan mengenai taṇhā, lebih detail dijelaskan dalam Taṇhā Sutta (silahkan baca selengkapnya di tautan ini), di bawah ini bagian pertama:
“Para bhikkhu, Aku akan mengajarkan kepada kalian tentang ketagihan – yang menjerat, yang mengalir, yang menyebar luas, dan lengket yang dengannya dunia ini tercekik dan terbungkus, dan yang dengannya dunia menjadi gelondongan benang kusut, gumpalan benang kusut, sekumpulan tanaman buluh dan belukar,sehingga tidak dapat melampaui alam sengsara, alam tujuan yang buruk, alam rendah, saṃsāra. Dengarkan dan perhatikanlah; Aku akan berbicara.”
Ketika seseorang terseret oleh taṇhā, seperti terjerat, terseret, tercekik, terbungkus seperti benang kusut. Sebuah gambaran yang menggambarkan bagaimana keadaan seseorang ketika dalam cengkeraman taṇhā.
Sulit sekali memahami apakah diri kita sedang dalam pengaruh taṇhā atau tidak, tetapi pada sutta tersebut menjelaskan lebih detail, untuk mengetahui apakah kita sedang dalam pengaruh tanha tidak.
“Dan apakah delapan belas arus ketagihan yang berhubungan dengan apa yang internal/eksternal? Ketika ada [gagasan] ‘Aku,’ maka ada [gagasan]
- ‘Aku demikian,’
- ‘Aku hanya seperti itu,’
- ‘Aku adalah sebaliknya,’
- ‘Aku abadi,’
- ‘Aku sementara,’
- ‘Aku mungkin menjadi,’
- ‘Aku mungkin menjadi demikian,’
- ‘Aku mungkin hanya seperti itu,’
- ‘Aku mungkin adalah sebaliknya,’
- ‘Semoga aku menjadi,’
- ‘Semoga aku demikian,’
- ‘Semoga aku menjadi hanya seperti itu,’
- ‘Semoga aku menjadi sebaliknya,’
- ‘Aku akan menjadi,’
- ‘Aku akan menjadi demikian,’
- ‘Aku akan menjadi hanya seperti itu,’
- ‘Aku akan menjadi sebaliknya.’
Ini adalah delapan belas arus ketagihan yang berhubungan dengan apa yang internal/eksternal.
“Demikianlah ada delapan belas arus ketagihan yang berhubungan dengan apa yang internal, dan delapan belas arus ketagihan yang berhubungan dengan apa yang eksternal. Ini disebut tiga puluh enam arus ketagihan. Ada tiga puluh enam arus ketagihan yang berhubungan dengan masa lampau, tiga puluh enam yang berhubungan dengan masa depan, dan tiga puluh enam yang berhubungan dengan masa sekarang. Maka seluruhnya ada seratus delapan arus ketagihan.
Catatan:
Disebutkan secara internal dan eksternal, masa lalu, sekarang, akan datang, sehingga total ada 18 x 2 x 3 = 108
***
Setelah membaca kutipan sutta di atas, sekarang kita dapat memeriksa diri sendiri, apakah kita sedang diliputi oleh taṇhā atau tidak.
Sebagai umat awan yang belum tercerahkan, sudah pasti hampir setiap perbuatan melalui pikiran, ucapan maupun tindakan didasarkan atas taṇhā.
Mengetahui bahwa perbuatan masih diliputi oleh taṇhā bukan soal benar atau salah, tetapi soal mengetahui adanya taṇhā. Karena taṇhā adalah penyebab dari penderitaan (dukkha), sehingga mengetahui adanya taṇhā berarti secara tidak langsung mengetahui adanya dukkha. Kebenaran adanya dukkha merupakan urutan pertama dari Empat Kebenaran Mulia.
Dengan menyadari kehadiran taṇhā, seharusnya mendorong berkembangnya kehati-hatian dalam bersikap, agar selalu berbuat ke arah menambah kebaikan dan menghindari kejahatan.

















