Top 10 Penulis

Apa Beda Dhamma Dengan dhamma?

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

persons face in close up
Photo by Anh Tuan To

Beberapa tahun lalu, mencoba memahami konsep anatta, dari kalimat “sabbe dhamma anatta”, saat itu yang saya pahami dari kata dhamma adalah ajaran Sang Buddha.

Anatta artinya tidak dapat disebut diri (bukan diri), sehingga membingungkan. Dari kalimat “sabbe dhamma anatta”, mengapa ajaran Sang Buddha disebut bukan diri, bukan aku?.

Sampai suatu kali saya membaca sebuah buku, “Di Kehidupan ini Juga” ditulis oleh Sayadaw U Pandita, satu kalimat yang membuatnya menjadi jelas.

Dijelaskan bahwa, Dhamma, jika ditulis dengan D huruf besar adalah ajaran Sang Buddha, seperti Buddha, Dhamma, Sangha. Sedangkan dhamma, jika ditulis dengan d huruf kecil adalah objek pikiran.

***

Apa itu objek pikiran?. Sang Buddha menjelaskan enam indra, yaitu panca indra ditambah dengan indra pikiran, dalam bahasa Pali, pikiran adalah mano.

Jika indra penglihatan (cakkhu), objek dari mata adalah benda-benda. Kalau pendengaran (sota), objek dari telinga adalah suara, kalau penciuman (ghāna), objek dari hidung adalah wewangian, kalau pengecap (jivhā), objek dari lidah adalah rasa. 

Indra sentuhan (kāya), objek jasmani adalah seluruh jasmani itu sendiri, dan yang bersetuhan dengan jasmani. Contoh dari objek jasmani yang merupakan jasmani itu sendiri (organ tubuh), seperti rasa lapar, sakit perut, kebelet pipis, yang diluar jasmani sudah jelas, segala sesuatu yang bersentuhan dengan kulit.

***

Kalau indra pikiran  (mano), objek dari mano adalah “dhamma” (dapat dibaca  “Ādittapariyāya Suttam” yang ada di buku paritta).

Mano tidak bisa mengenali objek diluar diri, seperti sepatu, mobil, jendela, harum bunga, suara berisik, rasa manis, pahit, asin, tetapi mano mengenali objek yang muncul dalam pikiran, seperti: bahagia, kecewa dan lainnya.

Misalkan jika orang lain marah, kita dapat mengenali melalui suara, wajah dan gerak badan yang sedang marah melalui panca indra.

Kalau kita sendiri yang marah dalam hati atau khawatir, tidak ada orang yang mengetahui, tetapi mano mengenali.

Objek lain yang dapat dikenali oleh mano, seperti benci, iri, ragu, keyakinan, bingung, malas, kenangan masa lalu, ide-ide dan lainnya. Objek-objek inilah yang disebut dhamma.

Sayangnya tidak semua dhamma (objek dari mano) itu dapat kita kenali, butuh latihan untuk mengenalinya, sehingga kalau mampu melihat dhamma maka disebut memiliki mata dhamma atau dhamma-cakkhu.

Semua dhamma (objek dari mano) telah dijelaskan oleh Sang Buddha dengan sepenuhnya, secara menyeluruh, dari kemunculan hingga kelenyapannya, sebab kemunculannya, bagaimana lenyapnya.

Mereka yang sudah melatih begitu melihat, langsung paham, seperti mencicipi buah matoa, begitu menyentuh lidah langsung paham, tidak perlu menunggu.

Bagi mereka yang berlatih dan memiliki dhamma-cakkhu, maka dhamma yang muncul, lalu lenyap dapat dikenali dengan jelas.

Sayangnya bagi mereka yang sudah mampu melihat dhamma (objek dari mano), tidak dapat menjelaskan pada orang lain, seseorang harus mengalami sendiri apa itu yang namanya dhamma. Walaupun seseorang dapat menghafal semua buku, tetapi kalau tidak pernah melihat langsung dhamma, maka ia tidak akan memahami yang sebenarnya.

Dengan mengenali karakteristik dhamma (objek dari mano), maka akan berhati-hati, dan waspada agar tidak terjerumus kedalam penderitaan, dan akan berjuang dengan sungguh-sungguh (vayadhammā saṅkhārā, appamādena sampādethā), karenanya mengenali dhamma sepantasnya atau patut dilakukan. Mengenalinya bukan dengan mencari di buku-buku, di gunung, di laut tetapi dalam diri masing-masing.

***

Dhamma menjadi objek perenungan seperti dalam paritta Dhammānussati.

Dhammānussati
Svākkhāto bhagavatā dhammo,
Sandiṭṭhiko akāliko ehipassiko,
Opanayiko paccattaṃ veditabbo viññūhīti.

Yang artinya

Dhamma telah sempurna dibabarkan oleh Sang Bhagavā,
terlihat amat jelas, tak bersela waktu, mengundang untuk dibuktikan,
patut diarahkan ke dalam batin, dapat dihayati oleh para bijaksanawan dalam batin masing-masing.

Mari kita renungkan arti dari Dhammānussati, jika “Dhamma” sebagai Ajaran Sang Buddha dan jika “dhamma” sebagai objek dari mano.

Pilihan

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

persons face in close up
Anatta artinya tidak dapat disebut diri (bukan diri), sehingga membingungkan. Dari kalimat “sabbe dhamma anatta”, mengapa ajaran Sang Buddha disebut bukan diri, bukan aku?.
an empty road with mountains in the background
Bhikkhu, apakah Para Tathāgata muncul di dunia atau tidak, terdapat kondisi yang tetap dari segala sesuatu, terdapat hukum yang pasti dari segala sesuatu....

Tulisan Terkait