Top 10 Penulis

Apa sih yang Buddha Ajarkan?

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

silhouette photo of Buddha statue
Photo by RKTKN

Keadaan hidup manusia terjadi karena dukungan berbagai kondisi, karena itu tidak mungkin menjadi kebahagiaan yang langgeng. Inilah yang Buddha maksud dengan sabbe saṅkhārā dukkhā.

Mengapa pasti tidak memuaskan?

Karena segala sesuatu yang muncul tidak kekal, sabbe saṅkhārā aniccā. Kebahagian ada penyebabnya, penyebabnya, ada sebab sebelumnya, penyebab sebelumnya ada penyebab sebelumnya, dan semua penyebab tidak kekal. Karena penyebabnya tidak kekal, maka kebahagian juga tidak kekal, apapun yang ada penyebabnya tidak kekal (anicca)

****

Tetapi ketidak-kekalan (anicca) bukanlah penyebab dari penderitaan itu sendiri, keinginan untuk mempertahankan sesuatu yang tidak kekal yang menyebabkan penderitaan. Dalam Dhammaniyāma, “O, para Bhikkhu, apakah Para Tathāgata muncul di dunia atau tidak, terdapat kondisi yang tetap dari segala sesuatu (Dhamma), terdapat hukum yang pasti dari segala sesuatu, bahwa: “Semua yang terbentuk tidak kekal.” 

Saat terjadi kontak (phasa), baik dari panca indera maupun dari pikiran, dari ingatan masa lalu, terjadilah perasaan (vedana) menyenangkan, tidak menyenangkan atau netral, selanjutnya menikmati perasaan ini.

Setelah menikmati muncul ketagihan (tanha) ingin mengulang, berusaha untuk mempertahankan, melekat (upādāna), tetapi usaha untuk menjadikannya milik yang abadi adalah sia-sia. Sekalipun berhasil bertahan sesaat, cepat atau lambat ia akan lenyap.

Karena sudah lenyap, ketagihan (tanha) terus menerus mengejar kesana kemari dengan penuh nafsu, sayangnya tidak mungkin terpuaskan. Jika berhasil mendapatkan walaupun hanya sekejap, lalu melekat, merasa jadi milikku, lalu dianggap sebagai diriku, aku. Sayangnya semua ini segera lenyap. 

***

Lebih detail Buddha mengatakan: lahir adalah dukkha. Tua adalah dukkha, Mati adalah dukkha. Sakit, stress adalah dukkha. Bertemu yang dibenci adalah dukkha. Berpisah dengan yang dicintai adalah dukkha. Tidak mendapatkan yang diinginkan adalah dukkha. Singkatnya melekat pada unsur kehidupan adalah dukkha. Dukkha dapat diartikan sebagai sesuatu yang tidak memuaskan, kadang disebut sebagai penderitaan.

***

Buddha mengajarkan cara untuk bebas dari dukkha, yaitu dengan lenyapnya ketagihan (tanha).

Untuk mengikis ketagihan, harus memahami sifat sejati dengan melihat sebagaimana apa adanya (yathābhūta) dari objek yang dikejar. 

Apa pun yang dikenali oleh pikiran sebenarnya adalah hasil dari proses persepsi (saññā) yang dibentuk oleh pengalaman. Karena persepsi sering kali terdistorsi oleh nafsu, kebencian, dan kebodohan, maka apa yang dikenali belum tentu sesuai dengan kenyataan (yathābhūta). 

Agar pikiran tidak salah mengenali, maka harus melihat “apa adanya” atau “sesuai dengan kenyataan”, yathābhūta. Ketika pikiran mengenali apapun sebagai apa adanya, bahwa semua itu tidak kekal, maka pikiran tidak terkecoh lagi. 

Ketika melihat dengan cara “apa adanya”, maka semua yang dikenali oleh pikiran, adalah tidak kekal (anicca), tidak bertahan lama, tidak memuaskan (dukkha). Karena semua yang muncul lenyap memiliki penyebabnya sendiri, sehingga tidak mungkin dapat dikendalikan kemunculannya dan kelenyapannya. Apapun yang dikenali oleh pikiran (dhamma), tidak kekal, tidak memuaskan, tidak dapat dikendalikan, tidak dapat dijadikan milikku, diriku, aku (anatta).

***

Ketika memahami hal ini, berkembang pemahaman yang selaras (sammā-diṭṭhi). Dengan pemahaman yang selaras ini berkembang, ketika keselarasan lainnya berkembang. Maka pikiran akan menjadi selaras (sammā-saṅkappa), ucapan menjadi selaras (sammā-vācā), tindakan menjadi selaras (sammā-kammanta), mata pencarian menjadi selaras (sammā-ājīva), daya upaya menjadi selaras (sammā-vāyāma), perhatian menjadi selaras (sammā-sati),  Artinya dan konsentrasi menjadi selaras (sammā-samādh).

***

Pemahaman yang mendalam ini menjadi kebijaksanaan (pañña), bukan sekadar tahu secara teori, tapi karena membuktikan (ehipassiko) ke dalam (opanayiko) dilakukan oleh dirinya sendiri (paccattaṃ), proses kemunculan, kelenyapan, tak bertahan lama, tidak bisa dijadikan milikku, diriku, aku. Pemahaman atas Anicca, Dukkha dan Anatta.

Pertunjukan sulap memang mampu memukau penonton karena kesan ajaibnya yang seperti mukjizat. Rasa kagum itu sering kali memunculkan keinginan untuk menyaksikan sulap lainnya. Namun, begitu rahasia di balik trik tersebut terungkap, daya tarik pertunjukan itu pun lenyap seketika. Demikian pula kebijaksanaan (pañña) seperti sudah melihat semua rahasia fenomena batin dan jasmani.

Kekuatan kebijaksanaan (pañña) memiliki kekuatan yang sangat dahsyat, saat ada sesuatu yang muncul dan ingin dikejar, ketika kebijaksanaan muncul, lenyap seketika.

Ketika kebijaksanaan ini muncul disertai dengan perhatian (sati), maka pengamatan menjadi sati-sampajañña perhatian (sati) yang muncul bersamaan dengan kebijaksanaan (pañña)

Lenyap, karena sama sekali tidak tertarik pada objek tersebut, paham bahwa akan lenyap, tidak akan memuaskan, tidak mungkin dimiliki. Mengejar yang demikian hanyalah kesia-siaan. 

Karena sifat dari kebijaksanaan yang menghancurkan ini, simbol dari kebijaksanaan adalah pedang. Pedang yang menghancurkan kebodohan. Beberapa arca dari Mahayana, Vajrayana memegang pedang, simbol dari kebijaksanaan.

Karena tidak tertarik lagi, akhirnya muncul kebosanan terhadap duniawi (nibbidā). Karena bosan, ia melepaskan nafsu kemelekatan (virāga). Karena nafsu telah lenyap, ia menjadi terbebas (vimutti) dan tidak lagi mengejar.

Karena sudah terbebas, maka tidak ada lagi ikatan. Maka muncullah cahaya batin yang terang benderang (āloko), menjadi cerah dan tercerahkan. Ia tahu dengan pasti: “Telah habis proses kelahiran kembali” (khīṇā jāti).

Karena tidak ada kelahiran, maka semua dukkha tidak akan dapat muncul lagi. Bebas dari dukkha. 

Pilihan

Terpoler Minggu Ini

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

silhouette photo of Buddha statue
Apa pun yang dikenali oleh pikiran sebenarnya adalah hasil dari proses persepsi yang dibentuk oleh pengalaman. Karena persepsi sering kali terdistorsi oleh nafsu, kebencian, dan kebodohan, maka apa yang dikenali belum tentu sesuai dengan kenyataan.
Semua makhluk akan mengalami kematian Mereka telah berkali-kali mengalami kematian, dan akan selalu demikian; Begitu pula saya, pasti mengalami kematian juga. Keragu-raguan tentang ini tidak ada dalam diriku.

Tulisan Terkait