Top 10 Penulis

Menelusuri Sutta: Apa yang Dipahami oleh Seorang Sotāpanna

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

clear straight road
Photo by Daniele Nabissi

Ketika Sang Buddha Gautama mengajarkan sutta pertama, Dhammacakkappavattana Sutta, yang isinya menjelaskan Empat Kebenaran Mulia untuk pertama kalinya, hanya satu orang yang mencapai pencerahan, mencapai tingkat kesucian pertama (Sotāpanna), yang disebut sebagai pemasuk arus, yaitu Bhante Kondañña.

Sang Buddha mengatakan bahwa “Aññā Kondañña”, yang artinya “Kondañña telah mengerti”, karena itulah Bhante Kondañña dikenal dengan nama Aññā Kondañña.

Selagi Sang Buddha menyampaikan Empat Kebenaran Mulia, muncul Mata-Dhamma (dhammacakkhu) Bhante Kondañña, 

“imasmiñca pana veyyākaraṇasmiṃ bhaññamāne āyasmato koṇḍaññassa virajaṃ vītamalaṃ dhammacakkhuṃ udapādi, Yaṁ kiñci samudayadhammaṁ sabbaṁ taṁ nirodhadhamman’ti”

Ketika sabda ini disampaikan, timbullah pada Yang Ariya Kondañña Matta-Dhamma (Dhammacakkhu) yang bersih tanpa noda bahwa: Segala sesuatu yang muncul, sewajarnya akan lenyap.

Pemahaman ini merupakan kalimat sangat penting: “Yaṁ kiñci samudayadhammaṁ sabbaṁ taṁ nirodhadhamman“.

Kalimat yang artinya: “Segala sesuatu yang muncul, sewajarnya akan lenyap”. Kalimat ini juga menjadi tagline dari buku “Ini Pun Akan Berlalu”, buku Ajahn Chah yang terkenal.

Saat itu sebenarnya Sang Buddha sedang menyampaikan 

  1. Kebenaran Mulia tentang Penderitaan, 
  2. Kebenaran Mulia tentang Asal Mula Penderitaan, 
  3. Kebenaran Mulia tentang Terhentinya Penderitaan dan 
  4. Kebenaran Mulia tentang Jalan Menuju Terhentinya Penderitaan

Bhante Kondañña memiliki Dhammacakkhu (Mata-Dhamma) berhubungan dengan kemunculan, kelenyapan, yang merupakan proses ketidak-kekalan, Anicca, sesuai yang Sang Buddha ajaran mengenai kemunculan dan kelenyapan Dukkha.

Dengan memiliki Dhammacakkhu, Bhante Kondañña mencapai tingkat kesucian Sotāpanna, berhasil mematahkan tiga belenggu (Samyojana):

  1. Vicikiccha (Keragu-raguan)
  2. Sakkaya-ditthi (Pandangan Salah tentang Diri)
  3. Silabbata-paramasa (Kemelekatan pada Ritual)

Pemahaman pada Ketidak-kekalan (Anicca) memunculkan keyakinan bahwa yang diajarkan adalah sebuah kebenaran, sehingga tidak ada keraguan lagi pada Dhamma ajaran Sang Buddha, sehingga lenyaplah belenggu keraguan-raguan (Vicikiccha).

Dengan melihat kebenaran tentang ketidak-kekalan (Anicca), maka tidak lagi percaya bahwa ada entitas yang kekal pada diri, sehingga pandangan salah tentang diri juga lenyap (Sakkaya-ditthi), demikian belenggu bahwa dengan ritual seseorang dapat mencapai pembebasan (Silabbata-paramasa) juga dilenyapkan.

***

Jika ditelusuri kalimat “Yaṁ kiñci samudayadhammaṁ sabbaṁ taṁ nirodhadhamman” dalam website suttacentral.com, maka ditemukan sutta lainnya yang menyebutkan kalimat yang sama dan juga menjelaskan tentang munculnya Mata-Dhamma.

Kūṭadanta Sutta
Dīgha Nikāya 5

Kemudian Sang Bhagavā membabarkan ceramah bertingkat kepada Kūṭadanta, tentang kedermawanan, tentang moralitas dan tentang alam surga, menunjukkan bahaya, penurunan dan kekotoran dari kenikmatan-indria, dan manfaat dari meninggalkan keduniawian. 

Dan ketika Sang Bhagavā mengetahui bahwa pikiran Kūṭadanta telah siap, lunak, bebas dari rintangan, gembira dan tenang, maka ia membabarkan ceramah Dhamma secara singkat: tentang penderitaan, asal-mulanya, lenyapnya, dan sang jalan. 

Dan bagaikan sehelai kain bersih yang noda-nodanya telah dihilangkan dapat diwarnai dengan sempurna, demikian pula Brahmana Kūṭadanta, selagi ia duduk di sana, muncul Mata-Dhamma yang murni dan tanpa noda, dan ia mengetahui: ‘Segala sesuatu yang memiliki asal-mula pasti akan lenyap.’

Mahāpadāna Sutta
Dīgha Nikāya 14

‘Dan Buddha Vipassī membabarkan khotbah bertingkat tentang kedermawanan, tentang moralitas dan tentang surga, menunjukkan bahaya, penurunan dan kekotoran dari kenikmatan-indria, dan manfaat dari meninggalkan keduniawian. 

Dan ketika Buddha Vipassī mengetahui bahwa pikiran Khaṇḍa dan Tissa telah siap, lunak, bebas dari rintangan, gembira dan tenang, kemudian Beliau membabarkan khotbah istimewa para Buddha secara ringkas: tentang penderitaan, tentang asal-mulanya, lenyapnya, dan sang jalan. 

Dan bagaikan kain yang bersih yang semua nodanya telah dihilangkan akan dapat diwarnai dengan sempurna, demikian pula Pangeran Khaṇḍa dan Tissa, putra Brahmana kerajaan, saat mereka duduk di sana, muncul mata-Dhamma yang murni dan tanpa noda, dan mereka mengetahui: “Segala sesuatu yang mempunyai asal-mula pasti akan lenyap.”

Sutta lainnya : Brahmāyu Sutta Majjhima Nikāya 91, Dīghanakha Sutta, Majjhima Nikāya 74, Kiṁsukopama Sutta, Saṁyutta Nikāya 35.245, silahkan pembaca dapat menemukan lainnya.

***

Upatissa-pasine (Pertanyaan Upatissa)

Upatissa adalah nama dari Bhante Sariputta, sebelum memasuki kebhikkhuan beliau bersama sahabat nya, Kolita, kelak menjadi Bhante Monggalana. 

Upatissa dan Kolita lahir di dua desa bertetangga dekat Rajagaha. Mereka berasal dari keluarga Brahmana yang sangat kaya dan terpandang. Sejak kecil, mereka adalah sahabat karib yang selalu melakukan segala hal bersama-sama.

Suatu hari, mereka menonton sebuah pertunjukan besar di festival tahunan. Di tengah kemeriahan itu, muncul kesadaran mendalam pada batin mereka: Mereka menyadari bahwa dalam waktu kurang dari seratus tahun, semua penonton dan aktor di sana akan mati.

Muncul pertanyaan: “Apa gunanya hiburan ini jika kita semua belum bebas dari cengkeraman kematian?”

Awalnya, mereka menjadi murid dari petapa mengembara Sanjaya. Namun, setelah mempelajari semua ajarannya dalam waktu singkat, mereka merasa ajaran Sanjaya tidak memberikan jawaban yang memuaskan tentang akhir dari penderitaan.

Mereka pun membuat janji: “Siapa pun di antara kita yang lebih dulu menemukan Jalan Kebebasan, ia harus segera memberitahu yang lainnya.” lalu berpisah.

Suatu pagi di Upatissa bertemu dengan Bhante Assaji, salah satu dari lima murid pertama Sang Buddha, beliau kagum melihat keanggunan, ketenangan, setiap gerakannya sempurna Bhante Assaji, lalu mengikuti, tetapi karena Bhante Assaji sedang mengumpulkan makanan dan selesai makan, Upatissa mengajukan pertanyaan:

“Tenang dan damai, O bhikkhu, kesadaran Anda penuh, kulit Anda terang dan bersih. Untuk kepentingan siapakah, O bhikkhu, Anda meninggalkan kehidupan duniawi? Siapakah guru Anda? Ajaran apakah yang Anda anut??”

Bhante Assaji:  “Saudaraku, Saya baru saja mulai dan belum lama menjalani kehidupan sebagai seorang bhikkhu, dan baru saja mempelajari Dhamma Yang Mulia (Ajaran dan Peraturan) ini; saya tidak mampu untuk menjelaskannya panjang lebar.”

Upatissa:  “Katakanlah sedikit atau banyak; Katakanlah hanya isi pokoknya saja; Saya hanya butuh isi pokoknya saja; Mengapa mengucapkan dengan banyak kata-kata?”

Bhante Assaji:

“Ye dhammā hetuppabhavā, tesaṃ hetuṃ tathāgato āha.”
“Segala sesuatu dihasilkan dari sebuah sebab, sebab ini telah diajarkan oleh Sang Tathagata.”

Setelah Upatissa mendengar baris pertama ini, ia langsung mencapai Tingkat Kesucian Pertama (Sotāpanna), sempurna di dalam seribu jalan. 

Segera setelah ia mencapai Tingkat Kesucian Pertama, Bhante Assaji lalu mengucapkan baris yang kedua:

Tesañca yo nirodho, evaṃvādī mahāsamaṇo”
“Dan juga bagaimana menghentikannya, hal ini juga telah diajarkan oleh Sang Tathagata.”

Kisah selengkapnya dapat dibaca di Kehidupan Upatissa (Sariputta) dan Kolita (Moggallana)

Jika diamati, apa yang disampaikan Bhante Assaji kepada Upatissa terkait dengan proses kemunculan dan kelenyapan, yang merupakan proses dari ketidak-kekalan, Anicca. Sejalan dengan apa yang Sang Buddha ajarkan mengenai kemunculan dan kelenyapan Dukkha.

***

Dengan mata-dhamma mampu melihat segala yang muncul pasti mengalami kelenyapan, sama halnya dengan dukkha (ketidak puasan/penderitaan), yang mengalami kemunculan, akan mengalami kelenyapan.

Seperti yang Bhante Assaji katakan, “Dan juga bagaimana menghentikannya, hal ini juga telah diajarkan oleh Sang Tathagata.”, dengan mata-dhamma mampu memahami ketidak-kekalan, sehingga memiliki keyakinan bahwa penderitaan dapat diakhiri dan ada jalan untuk bebas dari penderitaan.

Pilihan

Terpoler Minggu Ini

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

kid sitting beside round cake close-up photography
Setelah membaca kutipan sutta di atas, sekarang kita dapat memeriksa diri sendiri, apakah kita sedang diliputi oleh taṇhā atau tidak.
Dikotomi adalah istilah adanya dua kutub yang saling bertentangan. Benar-salah, keduanya saling terpisah satu dengan lainnya, yang dari dahulu sudah menjadi perdebatan.

Tulisan Terkait