Dalam ajaran Buddha, konsep Atthi (atau Asti) mengacu pada keberadaan atau eksistensi. Ini adalah salah satu dari tiga karakteristik fundamental dari segala sesuatu yang ada, yakni Anicca (ketidakkekalan), Dukkha (penderitaan), dan Anatta (ketidakdirianaan).
Atthi, atau keberadaan, berarti bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini memiliki eksistensi yang nyata. Ini berbeda dengan pandangan nihilisme yang menyatakan bahwa tidak ada yang benar-benar ada. Ajaran Buddha menegaskan bahwa dunia dan semua yang ada di dalamnya memang ada secara nyata, tetapi sifatnya tidak kekal dan tidak memiliki diri yang permanen.
Sang Buddha mengajarkan tentang Atthi melalui Sutta Atthi:
Bhikkhu, ada tiga hal ini. Apakah tiga? Atthi (yang ada), natthi (yang tidak ada), dan aññathā (perubahan). Inilah tiga hal itu.
Samyutta Nikaya
Dalam sutta ini, Sang Buddha menjelaskan bahwa segala sesuatu di dunia ini ada (atthi), tetapi sifatnya tidak kekal (natthi) dan selalu berubah (aññathā). Pemahaman tentang ketiga karakteristik ini adalah kunci untuk membebaskan diri dari penderitaan.
Dengan memahami Atthi, kita dapat melihat realitas dunia sebagaimana adanya, tanpa terjebak dalam pandangan bahwa segala sesuatu bersifat kekal atau tidak ada sama sekali. Ini memungkinkan kita untuk menerima perubahan dan ketidakekalan dengan bijaksana, sehingga dapat mencapai kebahagiaan sejati.

















