Top 10 Penulis

Ayo Latihan Meditasi Metta

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

children, girls, school
Photo by suc

Kabarnya sih, hantu dan para dedemit sudah tidak takut lagi dengan mantra-mantra pengusir setan. Konon, mantra yang sudah terlalu sering mereka dengar ini, sudah dihafal di luar kepala.

Paling tidak itu yang dialami oleh Syafri (nama samaran). Sebelum zaman corona, ia mengadakan wisata bersama teman-teman kantor ke daerah Malino, di Kabupaten Gowa, Sul-sel.

Dalam perjalanan, mereka menyewa sebuah villa yang terkenal angker. Alhasil di malam hari, pada saat gitar dan jagung bakar masih berbunyi, seorang kawan tiba-tiba kesurupan.

Si gadis yang kesurupan tampak bagaikan singa yang melotot dan memarahi seluruh peserta dengan logat setempat. Safri yang agamais, dengan spontannya membaca sebuah ayat yang diyakininya dapat mengusir setan.

Sambil berkomat kamit keringat dingin, sang gadis kesurupan menghampirinya. Dengan mata melotot, sang hantu kemudian berdendang “Tidak takut, tidak takut, aku tidak takutttttt….”

Pun halnya dengan Sasti (nama samaran). Di malam pertama di rumah kosnya, Ia berjumpa dengan hantu yang tampak sebagai seorang gadis yang malu-malu.

Rambutnya yang panjang terurai menutupi seluruh wajahnya. Berdiri diam tak bergerak dan tak bersuara. Sasti yang ketakutan, secara refleks membacakan doa yang sudah diajarkan sejak ia masih kecil.

Berdoa dalam hati tidak membuat sang hantu bergeming. Akhirnya masih dalam keadaan panik, Sasti pun mengeluarkan suara yang keras agar doanya dapat didengar oleh sang hantu. Tetapi yang terjadi, bukannya menghilang, hantu tersebut malah ikut membacakan doa yang sama.

Nah, kisah nyata ini kemudian menimbulkan beberapa spekulasi dari para sahabat yang sedang berkumpul di warung kopi.

Abdul mengatakan, bahwa Syarif dan Sasti tidak cukup ‘suci’ untuk membacakan doa yang ampuh. Basri mengatakan bahwa seharusnya mereka lebih tenang dan menyerahkan sepenuhnya kepada yang di atas.

Entah yang mana yang benar, namun jika kita dihadapkan pada situasi yang sama, maka kencing terbirit-birit akan menjadi pilihan utama.

Namun ada sebuah cerita yang menarik dari Bahar, supir pribadi penulis. Sebagai seorang yang dituakan di kampungnya, ia adalah seorang pria yang baik hati.

Selain menjadi supir, Bahar memiliki pekerjaan sampingan sebagai seorang yang dapat ‘menyembuhkan’. Tentunya bukan dokter atau mantri, namun ia diyakini memiliki kemampuan untuk membersihkan jiwa atau rumah yang dikuasai oleh mahluk gelap.

Banyak yang meminta bantuannya untuk membacakan doa, khususnya jika ada yang dirasuki oleh mahluk halus.

Penulis pernah bertanya kepada Bahar tentang trik yang ia lakukan untuk mengusir para hantu. Ia menjawab, “Pada dasarnya hantu sama saja dengan manusia, mereka bukan sesuatu yang harus dibenci.”

“Aku hanya mengasihani mereka dan membacakan doa-doa yang dapat menenangkan, sambil mengharapkan yang terbaik bagi mereka.” Disini kuncinya! Kekuatan kasih sayang kepada sesame mahluk!

Dalam Buddhisme, ada sebuah filosofi yang bernama “Metta” (Cinta Kasih), atau sifat yang dapat menghaluskan hati seseorang, sehingga dapat menimbulkan perasaan sejati.

Filosofi ini mengajarkan bahwa setiap manusia seyogyanya memiliki keinginan, harapan dan niat suci terhadap kebahagiaan semua mahluk tanpa terkecuali.

Sebagaimana perasaan seorang ibu yang menyayangi anak tunggalnya, demikianlah Metta harus dipancarkan kepada alam semesta dan seluruh isinya.

Turunan dari sifat Metta, adalah bentuk-bentuk kebijakan baik lainnya seperti, welas asih, pemaaf, penyayang, baik hati, dan lain sebagainya.

Disebutkan bahwa pada dasarnya setiap manusia sudah memiliki sifat Metta ini, namun karena situasi, lingkungan, hingga kondisi sehari-hari, sifat Metta ini lambat laun akan terkikis.

Untuk itu, melatih Metta harus senantiasa dilakukan. Mereka yang sudah terbiasa melatih diri akan memperoleh manfaat dalam bentuk karakter sebagai orang yang ceria, bahagia, tenang, dan menyenangkan. 

Melatih Metta dapat dilakukan dengan Meditasi Metta.

Mulailah dengan duduk bersila, menenangkan diri, menutup mata, menarik nafas, dan pusatkan pikiran pada aliran keluar-masuk nafas.

Bayangkan pikiran penuh cinta kasih kepada diri anda. Mulailah mengingat situasi dan masa-masa dimana anda sedang berbahagia.

Setelah perasaan bahagia mulai datang menyelimuti yang ditandai dengan perasaan tenang dan hangat, buatlah doa dan harapan yang baik terhadap kebahagiaan anda.

“Semoga saya bahagia… Semoga saya tenang dan damai… semoga saya penuh suka cita…” dan lain sebagainya. Lakukan hal ini secara terus menerus hingga perasaan bahagia semakin berkembang.

Kata kunci dalam doa adalah ketulusan.

Anda harus melakukan doa dengan tulus, karena jika tidak, maka apa yang keluar dari mulut hanyalah mantra-mantra yang tidak berarti.

Ketulusan dalam hal ini berarti anda harus memusatkan konsentrasi penuh pada pikiran melalui aliran nafas dan mengamini setiap perkataan yang muncul.

Tiga langkah meditasi Metta.

Setelah perasaan bahagia sudah berkembang dengan baik, tibalah saatnya untuk memancarkan kebahagiaan kepada orang lain. Mulailah dari orang-orang terdekat anda.

Bayangkanlah wajah suami atau istri, anak-anak, orangtua, hingga seluruh sahabat baik. Lakukanlah satu persatu, dengan tetap menjaga konsentrasi penuh.

Bayangkan wajah-wajah tersebut sambil mengucapkan, “Semoga ayah saya bahagia… Semoga ibuku bersuka cita…, dan seterusnya.

Setelah cukup, sekarang giliran orang yang anda benci. Pikirkanlah teman kerja anda yang menjengkelkan, bos anda yang galak, hingga mantan anda yang berselingkuh.

Lakukan hal yang sama juga seperti yang telah anda lakukan bagi yang terkasih. “Semoga bos saya berbahagia… Semoga sang mantan tenang dan damai.”

Tantangannya disini adalah bagaimana mengubah perasaan benci menjadi sayang. Oleh sebab itu, pada saat melakukan meditasi metta, pikirkanlah hal-hal baik yang ada dari mereka.

Langkah terakhir sebelum menutup meditasi Metta ini adalah dengan menyebarkan energi kebahagiaan kepada seluruh alam semesta. Prosedurnya tetap sama, namun doa yang dipanjatkan adalah kebahagiaan bagi seluruh semesta dan isinya.

“Semoga seluruh mahluk hidup berbahagia…”

Meditasi Tersenyum.

Meditasi Metta memiliki nama lain, yaitu meditasi tersenyum. Jika perasaan Bahagia sudah menyelimuti, maka tanpa disadari, diri anda akan mulai tersenyum.

Namun sebaliknya, anda juga bisa mulai memancing kebahagian dengan tersenyum. Jangan terlalu takut dikira orang gila, karena senyum-senyum sendiri. Pada dasarnya orang yang berbahagia adalah mereka yang tersenyum.

**

Cinta kasih yang menimbulkan perasaan bahagia adalah sesuatu yang bersifat universal. Seluruh mahluk yang menerima cinta kasih dari kita, tidak membedakan hubungan, jenis kelamin, status, agama, suku, ras, bahkan juga binatang dan para arwah gentayangan.

Meditasi Metta bukanlah ritual milik keyakinan atau agama tertentu. Setiap orang bisa melakukan hal ini tanpa terkecuali. Jika ingin lebih afdol, anda dapat melakukannya bersamaan dengan doa menurut kepercayaan masing-masing.

Meditasi Metta akan memengaruhi sifat menjadi seseorang yang lebih tenang, lebih bahagia, lebih menyenangkan dan penuh welas asih, hingga setan dan para hantu pun tidak akan berani mendekati.

Selamat Mencoba!

Pilihan

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

Vibrant red traditional wedding scene with bride in veil and candles.
Perjodohan dan perkawinan bagi orang Tionghoa memiliki makna filosofis yang sangat dalam. Hal ini dipandang sebagai keselarasan dua prinsip alam semesta sebagaimana yang tertera pada konsep Yin-Yang.
gold and white religious print book on red textile
“Bagi-bagi angpao itu bawa hoki, lho. Ntar kamu pasti dapat lebih banyak.”

Tulisan Terkait