Top 10 Penulis

Bagi-Bagi Angpao, Rela Nggak, Sih?

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

gold and white religious print book on red textile
Photo by Jason Leung

Menjelang malam imlek, ada saja perdebatan kecil antara saya dan istri tentang uang yang harus diisi ke dalam keratas merah. 

“Ah, si Aweng anaknya banyak, tidak usahlah isi banyak-banyak.”

“Bagaimana David? Dia belum married, lho” tanya Nyonya dengan mimic harap-harap cemas.

“Nggak usah,” jawabku lantang. “Usia sudah 50, siapa suruh mau jadi jomlo.”

Kira-kira itulah gambaran drama kecil di dalam kamar tidur. Terjadi akibat adanya konflik batin antara kerelaan dan anggaran. Untungnya, pesan mama terngiang di kepalaku. 

“Bagi-bagi angpao itu bawa hoki, lho. Ntar kamu pasti dapat lebih banyak.”

Benarkah? 

Nah, mari kita ulik dari sisi pandangan orang Tionghoa, makna filosofis, dan juga pengaruh budayanya.

Konon, di zaman Dinasti Han (abad ke-2 SM), ada sesosok makhluk jahat bernama Sui. Di setiap malam Tahun Baru Imlek, ia masuk ke dalam rumah-rumah warga, meneror anak-anak, sehingga ketakutan dan jatuh sakit.

Lalu, entah siapa yang mengusulkan, koin pun diikat dengan benang merah, dan diletakkan di balik bantal. Syahdan, koin pun bercahaya terang, makhluk Sui pun lari terbirit-birit.

Hingga saat itu, tradisi mengikat koin dengan benang merah dipercaya sebagai simbol perlindungan dan tolak bala. Sebuah kebiasaan yang menjadi cikal bakal pemberian angpao menjelang imlek, meskipun bentuk angpao yang kita kenal sekarang, barulah dimulai pada masa Dinasti Ming (abad ke-14 M). 

Benarkah untuk tolak bala?

Kita ulik lebih jauh. Pemikir besar Konfusius kemudian mengubah paradigma ini menjadi sesuatu yang lebih bijaksana. Menurutnya tradisi ini wajib dilestarikan karena Tindakan memberikan ini mencerminkan tiga nilai mulia, yakni:

  • Ren. alias kebijakan dan cinta kasih. Kerelaan yang didasari oleh kebijaksanaan.
  • Li. Ini soal tata krama dan etika sosial. Berbagi itu perlu, dan
  • Xiao, yang merupakan ajaran bakti dan penghormatan dalam keluarga.

Lebih lanjut, ada beberapa tradisi yang tak bisa dilanggar. 

  1. Warna kertas angpao itu harus merah yang dipercayai sebagai warna keberuntungan, sukacita, dan perlindungan dari energi jahat.
  2. Uang di dalamnya melambangkan rezeki, kemakmuran, dan masa depan. Jumlahnya pun harus berisikan makna filosofis yang baik, seperti 1 (melambangkan permulaan), 2 (memiliki makna pasangan), 6 (mengandung harapan untuk keberlanjutan), 8 (yang berarti kemakmuran), dan 9 (pencapaian kesuksesan).
  3. Pun angpao harus diberikan kepada mereka yang lebih muda atau belum menikah. Pengecualian untuk orang tua sendiri.
  4. Terakhir, amplop harus tertutup. Konon itu melambangkan ketulusan, bukan dipamerkan, dan juga agar rezeki tidak bocor.  

Intinya, angpao bukan soal nilai uang, tapi tentang kebijaksanaan, etika, dan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.

Sampai di sini, senyum ini mulai melebar. “Ingat, bukan soal nilai uang,” ujarku tegas, mengingatkan apa yang harus dipatuhi.

“Bagi-bagi angpao itu bawa hoki, lho. Ntar kamu pasti dapat lebih banyak.” Istriku kembali menanyakanku.

Meskipun benar, tetapi secara hitung-hitungan dagang tetap saja ngeri-ngeri sedap. Dalam sehari, apakah pendapatan kita sama dengan jumlah uang yang masuk ke dalam amplop merah?

Ah, pada akhirnya aku sadar. Ini soal kerelaan. Dalam filsafat Buddhis, erat kaitannya dengan melepaskan kemelekatan batin, bukan sekadar melepaskan harta. 

Hal yang dilepas adalah rasa takut kehilangan, rasa “ini milikku”, dan keyakinan bahwa kebahagiaan bergantung pada apa yang digenggam. Seseorang boleh memiliki rezeki, tetapi tidak diperbudak olehnya. 

Lebih lanjut, kaitan dengan rezeki adalah praktik “dana”, melatih hati agar tidak kikir dan dikuasai rasa kekurangan. Dengan melepaskan yang disertai kerelaan, batin kita menjadi lebih tenang dan terbuka.

Dampak nyatanya, kita akan lebih dihargai, sehingga dalam banyak hal justru membika jalan rezeki. Jadi, bukan karena memberi lalu langsung kaya, tetapi perbuatan-perbuatan baik yang kita tanamkan akan menjadi fondasi yang kuat untuk mencapai kebahagiaan. Hidup akan terasa lebih ringan dan mengalir.

Perdebatan kecil di ruang tidur mereda, hingga istriku kembali menyelutuk. “Bagaimana dengan bagi-bagi angpao kepada teman-teman di Mettasik?”

“Ah, tentu,” jawabku antusias. “Ini kan soal melepaskan barang lawas. Di laci, masih banyak kertas angpao lawas. 12 shio pun lengkap. Itu saja yang kita bagikan, isinya nyusul.”

Eh …    

Pilihan

Terpoler Minggu Ini

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

Vibrant red traditional wedding scene with bride in veil and candles.
Perjodohan dan perkawinan bagi orang Tionghoa memiliki makna filosofis yang sangat dalam. Hal ini dipandang sebagai keselarasan dua prinsip alam semesta sebagaimana yang tertera pada konsep Yin-Yang.
gold and white religious print book on red textile
“Bagi-bagi angpao itu bawa hoki, lho. Ntar kamu pasti dapat lebih banyak.”

Tulisan Terkait