Pada umumnya setiap orang ingin hidup bahagia, tidak ada yang mau hidupnya dirundung derita. Disadari atau tidak, selama ini kita memiliki pola pikir yang kurang tepat. Dimana ketika mengalami perasaan yang bahagia atau senang maka kondisi ini ingin dipertahankan, diulang terus menerus. Sedangkan ketika mengalami derita sebagian besar orang menolak, menggerutu, bahkan menyalahkan diri sendiri atau orang lain.
Tentu dua kondisi ini salah satu sebab penderitaan yang sesungguhnya. Sebagai contoh, ada seorang teman yang sudah mendapatkan barang yang selama ini diimpikan selama bertahun-tahun maka perasaan bahagia dan senang pasti meluap-luap. Akan tetapi pada waktu yang sama menerima berita duka dari keluarga perasaannya pun langsung berubah menjadi kesedihan yang luar biasa. Nah, dimanakah bahagia dan derita itu?
Tentu saja dua kondisi tersebut tidak dapat dihindari, cepat atau lambat pasti akan kita alami. Memahami kehidupan dan orang disekitar kita harus dimulai dari diri sendiri. Tersebab orang lain juga memiliki keinginan yang sama yaitu tidak ingin hidup menderita. Bahagia dan derita merupakan kondisi yang kita ciptakan sendiri. Bahagia ketika mendapatkan sesuatu adalah kebahagiaan sesaat yang cepat berlalu seperti nafas.
Kebahagiaan karena melepaskan kebencian dan keakuan, negativitas dalam diri merupakan kebahagiaan yang memiliki level yang lebih tinggi. Walaupun masih menghadapi perubahan setiap waktu tapi batin tetap tenang seimbang. Sedangkan derita merupakan kondisi batin yang dibuat karena melanggar norma-norma agama yang penuh penyesalan. Penderitaan juga dibuat oleh diri sendiri yang disebabkan nafsu keinginan dan negativitas diri.
Ngobrolin soal, bahagia dan derita seperti orang yang ingin memegang angin ilusi. Bahagia dan derita hanyalah permainan perasaan yang muncul dari sensasi tubuh dan bentukan pikiran saja. Kondisinya yang terus berubah, datang, kemudian pergi, tidak bisa dipertahankan pergi dan tidak bisa dipegang. Untuk apa terus untuk apa mengejarnya. Lebih baik menyadarinya untuk meningkatkan kualitas batin yang tenang seimbang.
Batin merupakan tempat dari segala macam kebajikan, manakala batin telah bersih. Apapun yang dilakukan yang dilakukan oleh badan jasmani akan berkembang dalam kedamaian sejati.

















