Kata-kata si penghina, kembali menjadi milik si penghina karena yang dihina tidak menerimanya. Seseorang yang membalas hinaan dengan hinaan dikatakan makan bersama dengan si penghina (SN 7:2).
‘Bajingan yang tolol’ tiba-tiba menjadi sebuah frasa yang muncul di lini masa akun twitter saya. Ia menjadi istimewa karena dialamatkan bukan ke sembarang orang. Sontak, jagat maya dan dunia nyata menjadi ramai. Reaksinya beragam. Salah satunya adalah si penutur dilaporkan ke pihak berwajib.
Ini bukan pertama kali orang ini direndahkan, dikata-katai, dihina, bahkan diancam. Dan juga bukan pertama kali dia tidak bersikap reaktif. Apakah karena dia tahu bahwa si penutur mungkin memang memancingnya agar merespon secara negatif, kemudian marah lalu bertindak di luar kendali? Atau mungkin karena dia mengerti bahwa itu adalah risiko menjadi orang besar di negeri ini? Tidak pasti. Semuanya misteri.
Terlintas di benak saya sebuah kisah yang terjadi antara seorang penyair dan seorang guru Zen. Setelah mereka berdua selesai bermeditasi bersama, si penyair bertanya kepada si biksu bagaimana wajahnya sekarang, dan dijawab bahwa wajahnya seperti Buddha. Ketika ditanya balik, si penyair mengatakan bahwa wajah si guru Zen seperti kotoran yang ditumpuk menjadi satu. Guru itu tidak marah, tidak protes, dan hanya diam. Si penyair merasa hebat karena menganggap dia telah mengalahkan si guru Zen.
Apa yang diucapakan adalah cerminan dari pikiran. Hati si penyair penuh kotoran sehingga dia melihat kotoran, sedangkan dalam hati guru itu ada Buddha maka dia melihat si penyair seperti seorang Buddha. Pikiran yang bersih melihat dengan jernih, dan yang kotor hanya mampu melihat yang buruk.
Kita masih jauh dari sempurna, masih perlu berlatih agar pikiran sering-sering dipenuhi kasih sayang sehingga kata-kata yang keluar menyejukkan, mendamaikan, membahagiakan, dan menghangatkan. Ucapan yang penuh kasih adalah salah satu penyebab hubungan baik (AN 4.32), kata-kata yang yang lembut dan sopan disukai dan menyenangkan banyak orang (AN 10.176), dan ucapan yang ramah adalah salah satu penyebab kelahiran di surga (DN. 30).
Lain kali, bila ada yang mengatai Anda ‘bajingan yang tolol’, diamkan saja. Emas tetap akan menjadi emas meskipun dianggap batu kerikil. Kehebatan dan kualitas positif dan bajik Anda tidak akan hilang meskipun ada yang menganggap Anda ‘bajingan yang tolol’.

















