Top 10 Penulis

Bangun Manusianya, Bukan Organisasinya

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

hands, soil, plant
Photo by shameersrk

Saya pernah menulis tentang seorang tokoh Buddhis yang menolak penghargaan Maha Upasaka Pandita karena beliau sadar bahwa dia belum pantas. Beberapa teman ternyata penasaran siapa tokoh itu. Saya tetap konsisten untuk tidak menyebutkan nama karena itu tidak etis. Barusan sebuah pesan WhatsApp saya terima berisi pesan yang cukup panjang mengenai seorang tokoh. “Ming, ini yah orangnya? Saya masih penasaran”, tanya sahabat yang mengirim pesan tersebut. Saya jawab bukan. Saya tahu tokoh yang dia maksud.  Setahu saya (dan semoga saya salah) beliau hingga saat ini belum pernah membangun sekolah Buddhis.

Membangun sekolah adalah sebuah aksi nyata untuk mengembangkan agama Buddha melalui pendidikan. Pendidikan adalah salah satu cara untuk mengembangkan manusia. Dalam konteks pengembangan organisasi Buddhis, salah satu bentuk pendidikan adalah pelatihan. Kualitas SDM meningkat dan berkembang berkat strategi pengembangan  yang didesain sedemikian rupa sehingga berbagai aktivitas pelatihan dilakukan sesuai dengan cetak biru yang telah diputuskan. Berbeda dengan pengembangan organisasi melalui perancangan strategik yang mana strateginya dibuat dalam waktu yang  relatif singkat, membangun manusia lebih kompleks dan lama. Tidak instan seperti menanam toge, melainkan butuh waktu bertahun-tahun seperti menanam pohon kelapa. Bila kita ingin agama Buddha di Indonesia maju dan berkembang, mengubah fokus dari mencurahkan sumber daya yang besar untuk mengembangkan organisasi ke membangun manusia harus dilakukan.

Salah satu indikator bahwa pengembangan kualitas SDM Buddhis telah dilakukan adalah jumlah aktivitas pendidikan dan pelatihan yang terpadu, terstruktur, dan terencana. Bila kegiatan dalam organisasi masih didominasi oleh musyawarah, rapat, pelantikan dan pembekalan, kunjungan kerja tanpa rencana tindak lanjut yang jelas, dan berbagai kegiatan nonpendidikan yang lain, maka manusia dalam organisasi tersebut belum menjadi fokus untuk dikembangkan. Sebaliknya, bila aktivitas pengembangan SDM dilakukan melalui program yang jelas, terencana dan terstruktur berdasarkan rencana strategis yang didesain menggunakan kerangka kompetensi, organisasi telah memberikan perhatian yang besar kepada pengembangan manusia di dalamnya. Itu saja dulu sebagai indikator awal untuk mengevaluasi sejauh mana organisasi menempatkan pengembangan manusia sebagai fokusnya.

14 dan 15 November 2023, STIAB Jinarakkhita menyelenggarakan The 1st International Conference & Symposium on Applied Buddhism and Buddhayana Spirit Movement (Isambuddha) 2023 di hotel Santika Bandar Lampung. Konferensi internasional ini dibuka langsung oleh  Menteri Agama RI Yaqut Kholil Qoumas secara daring. Para pembicara berasal dari 9 negara yang terdiri dari para anggota sangha, akademisi, dan mahasiswa. Mereka memaparkan berbagai ide dan gagasan yang dihasilkan dari berbagai metode riset.  Sukses besar kegiatan ini tidak terlepas dari pengembangan manusia yang dilakukan secara serius di STIAB Jinarakkhita sejak beberapa tahun yang lalu. 

Sudhamek (2016:50) menjelaskan bahwa management system bisa saja dibangun dengan sangat apik tapi pada akhirnya yang menentukan adalah kompetensi sumber daya manusia yang mengerjakannya. Dengan kata lain, seindah apa pun organisasi merancang program kerja dengan menggunakan sumber dayanya  yang besar dan menghabiskan uang yang banyak, program-program itu hanya menjadi catatan yang sangat bagus karena organisasinya tidak fokus untuk membangun manusia yang akan mengerjakan program-program itu. Oleh sebab itu, bangun manusianya, bukan hanya organisasinya.

Bandar Lampung

15 November 2023

Referensi:

Sudhamek. (2016). Menjadi Perusahaan Berbasis Spiritualitas. Salatiga: UKW.

Pilihan

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

brown statue
Perilaku sombong merugikan karena umat tidak suka pandita yang sombong, dan tidak menghormati mereka. Kesombongan membangun tembok yang memisahkan pandita dengan umat sedangkan kerendahan hati adalah jembatan yang menghubungkan pandita dengan umat.

Tulisan Terkait