Ada seorang raja yang terkenal sangat hobi berburu. Raja memiliki seorang sahabat yang sangat ia percayai dan sayangi. Selain sebagai sahabat, raja juga sangat suka berbagi cerita dengan sahabatnya karena ia sangat pintar dan analisisnya biasa sangat tepat. Sahabatnya ini sering sekali mengucapkan “Terselamatkan oleh keadaan”.
Seperti biasanya, raja dan sahabatnya seringkali bercanda dan melakukan aktivitas bersama. Suatu ketika, saat mereka sedang menghabiskan waktu di taman, secara tidak sengaja ujung jari kelingking raja terpotong saat bermain-main dengan pisau. Raja pun panik melihat darah yang mengucur dari jarinya. Karena panik, raja berharap segera mendapat pertolongan dari sahabatnya. Namun si sahabat dengan pelan-pelan dan santai mengucapkan, ”Terselamatkan oleh keadaan”.
Karena darah yang terus keluar dan raja sendiri tidak sanggup melihat darah yang banyak, akhirnya raja jatuh pingsan. Sahabatnya segera memanggil pelayan istana untuk secepatnya mengundang tabib istana. Setelah coba diobati dan disambung oleh tabib, ternyata jari kelingking raja yang putus, tidak terselamatkan.
Setelah raja sadar dari pingsannya, dia memanggil sahabatnya dan memintanya untuk mengulang bagaimana kejadian tersebut bisa terjadi. Sahabatnya lalu menceritakan secara detil sampai jari kelingking raja terputus dan tidak bisa disambung kembali. Si sahabat menutup ceritanya dengan mengatakan, “Terselamatkan oleh keadaan”.
Raja merasa sangat tersinggung dengan sahabatnya karena menganggap si sahabat tidak berempati bahkan bergembira atas kemalangannya. Raja merasa mendapat musibah, si sahabat malah berkomentar “Terselamatkan oleh keadaan”. Raja lalu memerintahkan para prajurit istana untuk menangkap dan memasukkan sahabatnya ke dalam penjara.
Waktu pun berlalu. Sudah sekian lama sahabat raja berada di dalam penjara istana.
Suatu ketika raja pergi berburu bersama para pengawal istana. Saking asyiknya berburu, mereka tidak memperhatikan arah lagi. Ternyata mereka telah keluar dari wilayah kerajaannya dan memasuki wilayah kerajaan orang-orang yang menyembah para dewa.
Selanjutnya, raja dan para prajuritnya ditangkap karena telah melanggar masuk wilayah kerajaan lain. Mereka diputuskan untuk dijadikan korban persembahan bagi para dewa yang disembah oleh orang-orang di kerajaan yang menangkap mereka. Satu per satu pengawal raja dibunuh untuk persembahan.
Ketika tiba giliran raja, saat akan dibunuh untuk kemudian dipersembahkan kepada para dewa, para penangkapnya baru mengetahui bahwa ada cacat di diri raja tersebut, yakni jari kelingking raja terpotong. Secara adat mereka, persembahan haruslah manusia yang sempurna, tidak boleh ada cacat di tubuhnya. Akhirnya raja tidak jadi dibunuh. Malah raja kemudian dibebaskan dalam keadaan hidup karena dianggap tidak berguna akibat kecacatan di jari tangannya.
Raja sangat gembira karena dibebaskan dalam keadaan hidup. Raja teringat kepada sahabatnya di penjara. Raja segera meminta para pengawal untuk membebaskan sahabatnya karena raja ingin secepatnya bertemu dengannya. Raja kemudian bertanya kepada sahabatnya, “Apa maksudmu ketika sebelumnya dan saat di penjara mengatakan ‘Terselamatkan oleh keadaan’”.
Sahabatnya menjawab, ”Jika saya tidak dipenjara maka raja pasti mengajak saya berburu. Saya juga pasti akan tertangkap dan dibunuh oleh para penangkap tersebut untuk dijadikan persembahan karena kondisi saya tidak cacat. Demikian juga dengan raja sahabatku, kondisi jari kelingking yang cacat membuat raja bisa hidup hingga saat ini. Raja sahabatku telah “Terselamatkan oleh keadaan”. Raja sekarang mengerti dan menjadi sangat gembira. Sahabatnya lalu dibebaskan dan mereka kembali saling menjadi sahabat sejati.
***********
Terkadang pada saat kita sedang tersinggung dan marah, pikiran negatif kita akan mengarahkan kita ke tindakan yang negatif pula. Ketika kita dalam kondisi tersinggung dan marah, sebaiknya kita berdiam diri sejenak. Jangan mengambil keputusan apapun di saat kita sedang marah atau emosional. Ambillah keputusan setelah ada jeda yang cukup dan kondisi emosional atau marah kita mereda. Seperti dalam cerita raja sebelumnya, karena tersinggung raja mengambil keputusan yang tidak baik terhadap sahabatnya. Namun di balik keputusan raja yang tidak baik tersebut, ternyata membawa keberuntungan bagi sahabatnya.
Demikian juga dalam kehidupan ini, ada saatnya kita harus mengalah untuk meraih kemenangan. Kita harus menggunakan kesempatan yang ada untuk dijadikan pelajaran bagi kita guna menjadi lebih mengerti dan memahami orang lain agar kehidupan kita menjadi lebih baik, damai, sejahtera, dan bahagia.
Ketika kita belajar untuk lebih memahami orang lain berarti kita juga belajar untuk lebih memahami diri sendiri sehingga akan lebih mudah dalam mengeluarkan diri kita yang terbaik, yakni mengeluarkan potensi, bakat dan kemampuan terbaik dari dalam diri kita. Niscaya kesuksesan dan kebahagiaan yang lebih luas dalam kehidupan akan menjadi milik kita.
“Ketika kita belajar untuk lebih memahami orang lain berarti kita juga belajar untuk lebih memahami diri sendiri sehingga akan lebih mudah dalam mengeluarkan diri kita yang terbaik, yakni mengeluarkan potensi, bakat dan kemampuan terbaik dari dalam diri kita.”
~ Yuliana ~

















