Top 10 Penulis

Beramal yang Bijaksana dengan Melihat Esensi yang Ada

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

man standing in stall
Photo by Christian Chen

Di tengah teriknya matahari menjelang siang, perut ini sudah tidak bisa berkompromo lagi. Bunyi keroncongan terasa lebih keras dari jam weker yang membangunkanku tadi pagi.

Dengan bergegas, saya merapihkan semua pekerjaan. Warung nasi uduk Bu Santi kemudian menjadi tujuan langkah kakiku. Letaknya di tengah pasar dekat kantorku.

Bu Santi menyambutku dengan senyumnnya yang khas. “Saya sudah tahu pesanan kamu,” ujarnya. Kering tempe kacang, perkedel jagung, telur dadar bawang, dan juga bihun goreng. Dalam waktu singkat, sepiring nasi uduk sudah tersaji di hadapanku.

“Terima kasih mak”, sapa saya kepada beliau.

Suapan pertama terasa begitu nikmat, membuat lidah ini enggan beristirahat. Sembari menikmati makanan favoritku ini, pandangan mataku tertuju kepada sekelompok ibu-ibu yg sedang berbelanja di warung Pak Husen. Letaknya persis di samping tempat makanku.

Iya, aku cukup mengenal Pak Husen. Pria paruh baya berkumis tipis ini sering menjadi teman mengobrolku saat sedang menunggu jam kantor.

“Pak, kami borong semua yah? Total berapa?”

“Semua 200 ribu rupiah Bu”

“Lah, kami ke tempat sebelah dikasih 180 ribu rupiah, kok malah disini lebih mahal?” terdengar seruan ibu-ibu yang cukup keras.

Seperti biasa, emak-emak kalau menawar memang paling jago. Sejenak kupandang wajah Pak Husen, ada kekecewaan tersirat di sana. Sekilas matanya melihat daganngannya yang masih banyak di siang terik itu.

Melihat Pak Husen yang masih bergeming, ibu-ibu pun mengeluarkan jurus menawar tingkat tinggi.

“Kami membeli semua pak, mau disumbangkan ke anak yatim piatu, jadi dikasih murah donk pak.”

Strategi berhasil, alasan beramal ternyata ampuh. Pak Husen menjadi iba, padahal dia juga membutuhkan uang.

“Yah, sudah ambil semuanya untuk 180 ribu rupiah”, pungkas pak Husen.

“Lah, kita kan untuk amal, 170 ribu deh, semuanya,” suara ibu-ibu itu terdengar melengking, tajam menusuk ke gendang telingaku.

Dengan berat hati, pak Husen pun setuju, “Ya sudah 170 ribu rupiah”.

Ibu-ibu pun membayar dan dengan puasnya pergi membawa berbagai macam sayuran di tangan.

Setelah menghabiskan suapan terakhir, saya bergegas membayar Bu Santi. Entah apa yang mendorong, langkah kaki ini tergerak menghampiri warung Pak Husen.

“Pak, apa bapak untung dengan menjual semua seharga 170 ribu rupiah saja?” tanyaku kepadanya.

“Iya dek, tapi untungnya hanya sedikit hampir tidak ada. Padahal saya harus membiayai anak saya untuk berobat”, ungkap Pak Husen.

“Lah, anak bapak sakit apa? Apa ada yang bisa saya bantu?” tanyaku lagi

“Tidak usah dek, anak saya sakit ringan saja. Saya akan bekerja di sore hari untuk mendapatkan upah tambahan”.

Saya melakukan sesuatu hal yang tidak pernah saya rencanakan sebelumnya, tangan ini merogoh saku, dan mengeluarkan tiga lembar pecahan sepuluh ribu rupiah.

“Pak, ini ada uang lebih dari saya. Ambillah untuk bapak dan biaya obat anak bapak”.

“Jangan dek, kamu kan juga butuh,” Pak Husen enggan menerimanya.

“Atau begini saja, anggap saja kalau aku membeli kacang ini seharga tiga puluh ribu, saya masih lapar nih. Hehehe.” Dengan cepat, tanganku mengambil sebungkus kacang dagangan Pak Husen.

Pak Husen terpaku, ia terdiam, matanya berkaca-kaca. “Terima kasih dek. Semoga adek mendapatkan rezeki yang berlipat ganda”.

“Sama-sama pak”, saya pun pamit kepadanya dan kembali ke kantor.

***

Moral cerita…

Kawan-kawan,

jika kita ingin melakukan kebajikan, lakukanlah dengan baik tanpa merugikan pihak lain. Mungkin saja kita dipuji oleh banyak orang yang melihat dan merasakan amal kita.

Tetapi kita juga perlu memperhatikan bagaimana kita memperlakukan pedagang kecil tempat kita berbelanja. Seperti contoh pada kisah pak Husen. Anak yatim piatu memang akan merasakan manfaat yang besar dari sumbangan para ibu-ibu.

Akan tetapi, tidakkah mereka berpikir bahwa sesungguhnya Pak Husen juga memerlukan uluran tangan mereka. Sebuah keikhlasan tanpa harus menawar.

Mengapa tidak membahagiakan kedua belah pihak saja? Cobalah untuk beramal dengan sempurna. Tidak merugikan pihak manapun juga sehingga hasilnya bisa maksimal.

Pedagang kecil juga membutuhkan uang. Mereka bukanlah orang yang berlebihan. Mereka juga butuh hidup, butuh obat, buruh pakaian, atau bahkan butuh sesuap nasi.

Semoga dengan kisah ini, kita bisa menjadi lebih bijaksana dalam berbuat kebajikan dengan tidak merugikan. Semoga demikian adanya.

Berdasarkan cerita nyata dengan latar belakang dan alur cerita yang berbeda.

****

Pilihan

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

hanged red ball lantern
Ternyata, kalau kita telusuri asal muasal perayaan Imlek, kita akan mendapati bahwasanya perayaan Imlek merupakan perayaan orang Tionghoa. Tidak ada kaitannya dengan agama tertentu.
airplane road
Dalam meditasi yang dikembangkan oleh yogi sampai pada tahap tertentu pun bisa menyebabkan dia memiliki “kesaktian” berupa jalan atau melayang di udara. Namun hal tersebut dilarang oleh Sang Buddha untuk dipertunjukkan ke publik.

Tulisan Terkait