Bon Jovi itu luar biasa. Bakatnya dalam menulis lirik, bermain musik dan suaranya yang khas membuat Bon Jovi mampu menjadi salah satu ikon musik dunia hingga hari ini. Anda pasti paling tidak tahu lagu Always yang diliris tahun 1994 di album CrossRoad. Liriknya begitu dalam dan bahkan perih, aransemen musik yang sederhana plus lead melody oleh Riche membuat lagu ini jadi lagu wajib di setiap konser. Meski sekarang tak lagi berpartner dengan sang legenda gitar, Richie Sambora, Bon Jovi tetap eksis menjadi salah satu band stadion yang sulit untuk dikalahkan. Tiket konsernya selalu habis. Tak sedikit orang yang menangis melihat penampilannya di panggung. Dan sekarang di usia yang sudah lebih dari 60, rocker in tetap eksis menghibur dan menginspirasi.
Saya tak pernah dapat menjadi Bon Jovi, tapi saya dapat menjadi Hendra Lim yang sekarang. Saya rasa dia dan saya tak jauh beda. Sama-sama pria melankolis yang hobi menulis (sorry Jon if I am wrong). Dia menulis lirik lagu dan menulis musik, saya menulis kutipan, artikel dan menulis di pikiran mahasiswa dan peserta training dan seminar. Ia sudah berkarir lebih dari 30 tahun, dan saya sangat ingin terus berkarir hingga 30 tahun lagi selama masih diberi kesempatan. Kami ada di dua panggung yang berbeda tapi di dunia yang sama. Dunia dimana kreatifitas, kebebasan berpikir dan berekspresi memberikan kesempata untuk menginpirasi. Dia tetap menjadi Bon Jovi dan saya tetap menjadi Hendra Lim.
Seniman itu harus punya kebebasan untuk berekspresi. Ikatan apa pun adalah penjara mental yang sangat menyiksa bagi mereka. Suara-suara hati dan ide harus bisa mengalir dengan lancar. Kadang mereka terlihat ngotot dengan apa yang mereka inginkan. Semua itu hanya demi mengeluarkan hasil terbaik yang ada. Kesempatan untuk berekspresi secara bebas ini adalah satu berkah mulia yang sangat berharga. Tak ada yang bisa mengukur nilainya. Ia juga tak bisa diukur dan ditukar dengan rupiah. Mari kita bersyukur bila berkah itu masih Anda miliki.

















