Top 10 Penulis

Berkembang Teguh di Jalan Menuju Keramat

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

brown and green round area rug
Photo by Raimond Klavins

Mengetahui Keramat sebagai Tujuan

Secara awam, keramat dimengerti sebagai keberadaan tertentu yang suci, bertuah, serta dapat mengadakan sesuatu di luar kemampuan manusia biasa. Beberapa pihak menganggap benda-benda berupa pusaka atau tata cara upacara tertentu sebagai perihal yang keramat.

Akan tetapi, para guru mengulas bahwa sebuah keberadaan dijuluki sebagai keramat (siva) bersebab karena terbebasnya dari tanda-tanda jelek (nirupaddava) (DA iii 922). Yang dimaksud sebagai “tanda-tanda jelek” di sini adalah segala macam pengotor batin, berakar pada keserakahan, kebencian, serta ketersesatan.

Dengan demikian, kita bisa memahami bahwa dengan sudut pandang tertentu, keramat adalah salah satu padanan kata nibbāna, yang memang dijuluki sebagai melampaui dunia (lokuttara). Melampaui dunia berarti terbebas sepenuhnya dari penderitaan.

Keteguhan sebagai Jalan Menuju Keramat

Jalan menuju keramat (sivagāmimagga) disebut juga sebagai jalan menuju padamnya pembentuk (asaṅkhatagāmimagga). Disebut padamnya pembentuk (asaṅkhata), bersebab hasil menatap langsung bahwa prinsip dasar asaṅkhata, yakni nibbāna, adalah tidak menyandang kelumrahan kelahiran, tindakan, perbuatan, beserta segala hal yang disebabkan oleh perihal-perihal yang menjadi pembentuk batiniah dan jasmaniah (UdA 395). Merujuk Asaṅkhatasaṁyutta, Saṁyuttanikāya, disebutkan beberapa metode yang bisa dipahami sebagai jalan menuju padamnya pembentuk, termasuk di antaranya, samādhi dengan ragam jenisnya (S iv 360).

Samādhi yang dimaksud di sini berarti keberadaan cipta yang teredamkan secara teguh, kukuh, mantap, tidak kacau, tidak kusut, terpusatkan dengan piawai secara benar (Vbh 217). Demikianlah samādhi bisa dipahami sebagai keteguhan cipta. Cipta bisa terteguhkan setidaknya bersebab pada meninggalkan kesenangan indriawi, kebencian, kelambanan, beserta semua pengotor batin lainnya (Ps ii 22–23).

Memahami hal tersebut, maka jelas sekali jika dikatakan bahwa keteguhan benar (sammāsamādhi) semestinya dilengkapi dengan sebab dan perkakas (saupanisa saparikkhāra), yang merupakan unsur lain dalam ariya-aṭṭhaṅgikamagga, yakni: pandangan benar (sammādiṭṭhi), pikiran benar (sammāsaṅkappa), ucapan benar (sammāvācā), perbuatan benar (sammākammanta), penghidupan benar (sammāājīva), daya upaya benar (sammāvāyāma), serta pengingatan benar (sammāsati) (M iii 73). Demikian pula, terlengkapilah Sang Jalan yang memang semestinya dikembangkan (bhāvetabba).

Metode Praktis dalam Mengembangkan Sang Jalan

Dalam setiap faktor Sang Jalan yang dikembangkan, tiga kualitas perlu dikedepankan, yakni: kebijaksanaan, kegigihan, serta pengingatan. Sebagai contoh, memahami betul apa saja yang termasuk dalam cakupan pandangan benar, serta mengetahui sejauh apa pandangan disebut sebagai keliru, merupakan kebijaksanaan.

Berupaya penuh memadamkan pandangan keliru, serta semangat untuk memunculkan pandangan benar, disebut sebagai kegigihan. Mengingat untuk menanggalkan pandangan keliru, serta tidak lupa mengembangkan pandangan benar adalah pengingatan. Demikian juga yang perlu dilakukan dengan unsur-unsur Sang Jalan yang lainnya.

Hal serupa juga dilakukan ketika seseorang berlatih untuk berdiam melihat tubuh di dalam tubuh, melihat pengenyam di dalam pengenyam, melihat cipta di dalam cipta, dan melihat perihal-perihal di dalam perihal-perihal (M i 56). Setidaknya mengetahui bahwa keseluruhan onggokan tersebut adalah tidak kekal, sukar bertahan, dan bukan diri. Sehingga, dalam menyelidiki landasan-landasan tersebut, berupaya penuh dan ingat untuk memunculkan aniccasaññā, dukkhasaññā, dan anattasaññā, untuk mengenyahkan niccasaññā, sukhasaññā, dan attasaññā.

Daftar Rujukan:

Rujukan Utama:

Chalmers, R. (Ed.). (1977). The Majjhima-Nikāya (Vol. III). London: The Pali Text Society.
Davids, R. (Ed.). (1978). The Vibhaŋga: the Second Book of the Abhidhamma Piṭaka. London: The Pali Text Society.
Feer, M. L. (Ed.). (1990). Saṃyutta-Nikāya: Saḷāyatana-Vagga (Vol. IV). Oxford: Pali Text Society.
Taylor, A. C. (Ed.). (1907). Paṭisambhidāmagga (Vol. II). London: The Pali Text Society.
Trenckner, V. (Ed.). (1979). Majjhima-Nikāya (Vol. I). London: The Pali Text Society.

Rujukan Pengulas:

Dhammapāla. (1970). Dīghanikāyaṭṭhakathāṭīkā Līnatthavaṇṇanā (Vol. III). (L. d. Silva, Ed.) London: Luzac & Company, Ltd.
Dhammapāla. (1977). Paramattha-Dīpanī Udānaṭṭhakathā (Udāna Commentary). (F. Woodward, Ed.) London: The Pali Text Society.

Pilihan

Terpoler Minggu Ini

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

pile of scarecrow
Apakah itu tenggeran? Bagaimana caranya mewaspadai tenggeran? Apakah yang dimaksud dengan keluar dari rajutan penderitaan? Apakah hubungannya mewaspadai tenggeran dengan keluar dari rajutan penderitaan?
brown and green round area rug
Apakah yang dimaksud dengan keramat? Bagaimana cara menuju keramat?

Tulisan Terkait