Pada suatu wawancara penerimaan peserta pendidikan dewasa, para pewawancara menanyakan tentang orangtua yang diwawancara. Dijawab,
“Sudah kembali”. Mendengar jawaban itu seketika para pewawancara tertegun, sesaat kemudian baru mafhum akan maksud ‘sudah kembali’ yaitu sudah meninggal dunia. Dapat dikatakan bahwa frasa sudah kembali merupakan penghalusan kata meninggal. Kata meninggal yang tentunya berasal dari kata tinggal juga merupakan penghalusan kata mati. Banyak lagi istilah yang digunakan dengan maksud yang sama seperti tutup usia, menutup mata, menghembuskan nafas terakhir atau penghabisan, berlayar dan berpulang.
Berpulang berasal dari kata ‘pulang’, berdasarkan konsep bahwa seseorang sebelum terlahir berasal dari ‘rumah’ di suatu tempat tertentu. Bila meninggal dunia maka ia meninggalkan rumah yang tadinya ditempatinya di dunia untuk ‘pulang’ ke rumah asalnya yang kekal . Dalam kaitan ini agama Buddha mempunyai konsep yang berbeda tentang kelahiran dan kematian. Seseorang terlahir sebagai manusia dapat berasal dari berbagai alam. Bisa dari alam dewa, alam manusia, alam peta, atau alam lainnya. Tidak ada rumah tertentu yang kekal di alam sebelum terlahir. Demikian pula apabila seseorang meninggal dunia maka ia akan terlahir kembali (selama belum mencapai tingkat kesucian Arahat) di berbagai alam sesuai dengan karmanya. Oleh karena itu tidak ada bhikkhu ataupun pandita dalam memberikan uraian Ajaran saat upacara kematian yang mengucapkan kata ‘pulang’ berkaitan dengan kematian seseorang.
Sesungguhnya seseorang yang meninggal dunia tidaklah ‘pulang’ melainkan ‘pergi’. Seseorang yang mempunyai kemelekatan kuat terhadap kehidupannya akan dapat ‘pergi’ terlahir sebagai peta. Peta berasal dari kata pa-ita yang secara harfiah berarti gone forth, departed (berangkat), bermakna orang yang telah meninggal. Seseorang yang baik, menjalankan sila, suka berdana dan senang bermeditasi kemungkinan besar akan pergi ke alam dewa. Kelahiran di alam dewa sejatinya tidaklah terlalu sulit apabila seseorang memiliki keyakinan, berbakti, tidak berbuat jahat, dan banyak berbuat baik. Semoga tidak ada yang suka berbuat jahat oleh adanya kebencian, yang dapat menyebabkan ‘pergi’ ke alam sengsara.
Bagi kebanyakan orang, kematian orang yang dicintai merupakan hal yang menyedihkan. Memahami bahwa kematian bukanlah akhir dari kehidupan melainkan ‘kepergian’ ke alam lain, umat Buddha tidak mengembangkan duka cita berkaitan dengan kematian serta menyadari bahwa segala sesuatu tidaklah kekal termasuk kehidupan seseorang. Di Ghana orang-orang tidak sedih dengan kematian. Mereka percaya bahwa yang meninggal akan melihat leluhurnya di dunia lain, dan kehidupan mereka selanjutnya akan menjadi ‘reinkarnasi’.
Saat upacara kematian di Ghana digelar, ada makanan, minuman, musik, nyanyian, tarian dan penari tradisional, hingga DJ. Para pelayat juga diharapkan untuk berdansa pada acara ini, suasana riuh dan ketika acara puncak tiba yaitu pemakaman, peti mati yang mewah diangkat oleh kelompok khusus. Mereka adalah orang-orang yang melakukan tarian sambil membawa peti mati jenazah. Saat penari itu mulai menari, penonton antusias dan serempak memberikan penghormatan terakhir pada orang yang dicintai. Anak-anak pun ikut berdansa pada saat ritual dilaksanakan.
Bagi umat Buddha, hal terbaik yang dapat dilakukan bagi mereka yang telah meninggal tentu bukanlah dengan berpesta tetapi dengan melakukan pattidana (persembahan jasa bagi yang telah meninggal). Apabila yang meninggal terlahir kembali di alam tidak menyenangkan semoga dapat terlahir kembali di alam yang menyenangkan dengan adanya pattidana tersebut. Demikianlah cara untuk mengantar ‘kepergian’ atau ‘keberangkatan’ seseorang yang meninggal, yang bukan ‘kepulangan’. Dengan menyampaikan ucapan ‘Sugating upapajjatu’- Semoga terlahir di alam bahagia…………..

















