Pada bulan Juli 2025, Vihara Mendut, Jawa Tengah mengadakan pelatihan Samanera sementara, sekitar dua minggu. Salah satu peserta Samanera menceritakan kisahnya yang terlihat lucu, tetapi memberikan kesan yang mendalam bagi saya.
Pada saat makan siang, Ketua Vihara memberikan nasihat kepada para Samanera. Pada saat itu beliau memberikan wejangan mengenai makanan: “Makanan seperti tahu, tempe ………..”
Semua Samanera penuh perhatian mendengarkan, tapi agak lama Bhante tidak dapat meneruskan kalimatnya. Karena sudah agak lama berpikir tidak ingat juga makanan apa lagi, lalu Bhante bertanya kepada Bhikkhu yang ada di sampingnya: “Makanan apa lagi ya?”
Bhante yang ada di samping beliau menjawab: “Ayam goreng, ….”
Lalu Bhante melanjutkan kalimatnya: “Ayam goreng ……”
***
Ketika mendengarkan cerita itu semula terasa lucu kok Bhante bisa lupa nama makanan, tetapi setelah beberapa saat sadar, ternyata itu bukanlah lupa yang biasa, tetapi sesuatu yang luar biasa, menunjukkan bahwa mungkin Bhante sudah lama sekali tidak memikirkan soal makanan, sehingga tidak ingat jenis makanan apa lagi.
Bagi kebanyakan orang, menyebutkan makanan sangatlah mudah, yang suka menikmati kuliner apalagi, dapat membuat daftar panjang makanan kesukaannya, restoran mana yang paling enak, warung mana yang paling asik. Karena itulah yang sering dipikirkan.
Apa yang dipikirkan itulah yang diucapkan, karena makanan sangat jarang muncul di pikiran Bhante, maka tidak mudah bagi beliau untuk menyebutkan.
***
Bagi yang suka membuka sosmed, apakah Facebook, Instagram, X, Thread, Tiktok tanpa sadar apa yang ia lihat di layar sebenarnya apa yang ia pikirkan. Karena semua app tersebut mencatat semua yang penggunanya sukai. Jika ada sesuatu yang disukai, diam sejenak, lalu buka lagi yang lain, tidak suka, cepat dilewati, yang suka dilihat agak lama, terus menerus.
Semua aktifitas pengguna dicatat, lalu diolah, akhirnya mereka tau apa yang disukai oleh pengguna sosmed. Jika yang suka kucing, sering muncul kucing. Yang suka makanan, muncul makanan dan seterusnya.
Jadi jangan heran kalau melihat sosmed orang lain kok isinya aneh, kita gak paham, karena apa yang tampil di sosmed orang lain, itulah yang dipikirkan olehnya.
Apa yang tampil di sosmed kita, itulah yang kita pikirkan. Jika di sosmed wanita sering muncul cowok ganteng, karena itulah yang sering muncul di pikirannya, demikian juga kalau pria sering muncul gambar cewek sexy, karena itulah yang ia pikirkan.
Semua terbentuk dilakukan tanpa sadar, sehingga sosmed menawarkan apa yang penggunanya pikirkan, jadi tidaklah mengherankan menjadi ketagihan dengan sosmed.
Seingat saya Dalai Lama pernah memberikan nasihat seperti ini:
Jagalah pikiranmu, karena ia akan menjadi ucapanmu.
Jagalah ucapanmu, karena ia akan menjadi tindakanmu.
Jagalah tindakanmu, karena ia akan menjadi kebiasaanmu.
Jagalah kebiasaanmu, karena ia akan membentuk karaktermu.
Jagalah karaktermu, karena ia akan menentukan nasibmu.
***
Pada satu kesempatan yang diceritakan Suññatalokasutta, Bhante Ananda bertanya pada Sang Buddha:”Yang Mulia, ada yang mengatakan, ‘Dunia ini kosong, dunia ini kosong’. Dengan cara apa, Yang Mulia, dikatakan bahwa ‘dunia ini kosong’?”
Sang Buddha menjawab: “Ananda, dikatakan ‘dunia ini kosong’ karena dunia ini kosong dari ‘aku’ dan ‘milikku’.
***
Ketika banyak yang diinginkan, maka banyak pula yang dipikirkan, banyak pula yang dijadikan milikku, dengan mudah menyebutkan apa yang dijadikan milikku. Ketika tidak banyak yang diinginkan, tidak banyak yang dipikirkan, tidak banyak yang dijadikan milikku, hanya sedikit yang dapat disebut.
Jakarta, Desember 2025

















