Agama Buddha memiliki ajaran sesuai dengan cara hidup penganutnya; pertapa dan perumah tangga. Tripitaka (MN 73) menjelaskan tentang dua kelompok siswa Buddha yaitu upasaka/upasika, dan biksu serta biksuni. Samanera dan samaneri dapat dikelompokkan sebagai pertapa karena mereka telah meninggalkan rumah dan hidup bersama di wihara serta tidak lagi melakukan aktivitas untuk mengumpulkan kekayaan.
Salah satu kebahagiaan yang dirasakan Buddhis perumah tangga adalah memiliki kekayaan. Buddha menerangkan bahwa setelah bekerja dengan keras dengan usaha yang tepat mereka bergembira karena kekayaan telah dikumpulkan (AN 4.62) . Pada zaman sekarang, menggunakan model Robert T. Kiyosaki, harta dapat dikumpulkan dengan empat cara yaitu menjadi pekerja, pekerja mandiri, pemilik bisnis, dan investor. Bergantung kepada minat dan kemampuan masing-masing Buddhis, cara apa pun untuk mendapatkan kemakmuran hendaknya tidak bertentangan dengan ajaran Buddha tentang bisnis yang dilarang. Secara tegas Buddha melarang lima jenis perdagangan yaitu makhluk hidup, daging, senjata, minuman keras, dan racun (AN 5.177). Menjagal dan menjual hewan menyebabkan seseorang dapat berpotensi mengalami penderitaan seperti Cunda yang selama tujuh hari merasakan penderitaan layaknya berada di neraka sebelum akhirnya meninggal dan dilahirkan kembali di neraka Avici (DhpA. 15). Seorang Buddhis yang taat dan mempraktikkan ajaran ini akan bebas dari merasakan blood money (kekayaan yang bernoda darah), khususnya dari menjual daging
Beberapa sahabat yang berbagi pengalaman tentang blood money menceritakan kehidupan si pemilik. Sebagian besar menyimpulkan bahwa kekayaan yang ada akan tergerus untuk mengobati penyakit. Meskipun punya banyak uang untuk berobat, mereka hidup menderita. Penyakit yang mereka tanggung sangat berat karena sulit untuk disembuhkan meskipun sudah menghabiskan bahkan ratusan juta rupiah. Hidup mereka tidak nyaman, bahkan sengsara, di tengah gelimangan harta. Uang darah akhirnya dibayar dengan darah.
Blood money tadi memang bukan kekayaan ilegal. Harta dikumpulkan dari melakukan bisnis yang tidak bertentangan dengan hukum. Pemerintah Indonesia tidak melarang perdagangan makhluk hidup (binatang peliharaan atau hewan ternak) dan daging (baik mentah maupun dalam bentuk olahan di rumah makan). Mendapatkan kekayaan dengan berdagang hewan dan membuka bisnis rumah makan non-vegetarian diizinkan oleh negara. Lantas, bagaimana seorang Buddhis memandang usaha ini?
Berbagai argumen muncul tentang menjual daging. Cara pandang orang Buddha yang punya bisnis menjual daging atau rumah makan yang menjual makanan yang mengandung daging mungkin berasal dari ajaran bahwa mereka tidak membunuh hewan yang dagingnya kemudian mereka jual dalam bentuk makanan. “Saya tidak menjual daging. Saya jual makanan. Ini hanya murni jual dan beli. Ada yang jual, maka saya beli untuk saya jual lagi atau olah. Tidak ada niat untuk membunuh dan tidak ada tindakan membunuh yang saya lakukan. Ada hewan yang mati dibunuh untuk diambil dagingnya bukan menjadi urusan saya. Selama saya tidak memesan, maka saya bebas dari pembunuhan hewan-hewan itu”. Sanggahan populer yang digunakan adalah ajaran Buddha tentang izin makan daging karena tidak melihat, mendengar, atau curiga bahwa hewan itu dibunuh secara khusus untuk saya (MN.55). Cara pandang ini kemudian menjadi keyakinan bagi mereka untuk terus melakukan bisnisnya dan meraup untung dan menikmati kekayaan. Padahal ada cara pandang lain yang sesuai Buddha-Dharma.
Buddha menjelaskan bahwa mendorong orang lain untuk membunuh dan menyetujui tindakan membunuh serta melakukan pembunuhan akan mengakibatkan seseorang dilemparkan ke neraka (AN.3.163). Pesan ini sangat jelas. Ajaran Buddha secara tegas dan tidak sedikit pun mendukung pembunuhan. Bukan saja pelaku langsung yang akan mendapatkan akibat tetapi siapa saja yang mendorong pembunuhan terjadi. Sebaliknya, Buddha menerangkan bahwa seseorang yang tidak mendorong orang lain untuk membunuh, tidak menyetujui pembunuhan, dan tidak melakukan pembunuhan akan lahir kembali di surga (AN.3.164).
Lebih lanjut lagi, pendapat tentang tidak melihat, mendengar, atau curiga bahwa hewan dibunuh khusus untuk pebisnis Buddhis tidak tepat untuk digunakan pada zaman sekarang. Melihat atau mendengar sama saja dengan mengetahui. Kita tidak dapat pura-pura tidak tahu bahwa daging yang diolah di rumah makan berasal dari industri peternakan yang tujuan utamanya adalah menjual produknya kepada konsumen, salah satunya adalah para pemilik restoran. Pengusaha Buddhis mana yang tidak tahu bahwa dagingnya berasal dari hewan yang memang sengaja dipelihara untuk dibunuh. Bila usahanya semakin maju dan berkembang hingga akhirnya dia memiliki tempat langganan untuk membeli daging, apakah mungkin hewan-hewan tersebut dibunuh bukan khusus untuk dia? Hal yang sama berlaku untuk bisnis daging yang menggunakan sistem PO atau Purchase Order alias Pesan Duluan.
Pebisnis Buddhis yang cemas bahwa bisnis ini akan mengakibatkan karma buruk kemudian banyak berdana. Mereka mungkin sadar bahwa bisnis mereka tidak pas sesuai ajaran Buddha. Sayangnya, kemelekatan kepada keuntungan yang telah didapatkan dan kekayaan yang sekarang sudah dinikmati sulit dilepaskan. Mereka membutuhkan cara untuk meringankan potensi akibat karma buruk yang nanti mereka akan terima. Salah satu cara yang mereka terima setelah bertanya ke sana kemari adalah anjuran untuk berdana, banyak-banyak berdana. Buddha menjelaskan bahwa salah satu alasan berdana adalah karena rasa takut (DN 33/AN 8.31). Sikkhānanda (2013:54-55) menjelaskan tentang berbagai jenis dana berdasarkan tujuan yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Dana jenis ini termasuk dalam kelompok dana berkualitas rendah (hina dāna) karena dapat dianggap tidak tulus dan mirip dengan sogokan atau membayar utang, bukan dana yang ditujukan sebagai landasan untuk mencapai penggugahan atau panita dāna.
Tidak salah menganjurkan menyisihkan keuntungan untuk berdana sebagai salah satu cara untuk melakukan kebajikan. Kemurahan hati adalah salah satu karakter yang sangat penting untuk dikembangkan menjadi perilaku rajin dan semangat untuk berbagi. Memberi adalah perbuatan mulia. Kekikiran dikalahkan dengan kemurahan hati (Dhp 223). Orang kikir tidak dapat menyelamatkan hartanya saat kematian tiba. Seseorang yang mengetahui hal ini menikmati harta benda dan memberi, kemudian tanpa kecemasan pergi menuju alam surga (SN 1.41). Dalam Siha Sutta/AN 5.34, Jenderal Siha telah membuktikan empat manfaat kemurahan hati yang Buddha jelaskan yang mana dia sendiri telah rasakan pada kehidupan sekarang. Empat buah tersebut adalah 1) disayangi dan disukai oleh banyak orang, 2) dikagumi oleh orang-orang yang berintegritas, 3) reputasi baik tersebar luas, dan 4) penuh percaya diri dan tanpa rasa malu ketika mendekati kumpulan orang mana pun – para kesatria mulia, para brahmana, para perumah tangga, atau para pertapa. Demikian beberapa manfaat berdana yang dapat ditemukan dalam Tripitaka. Lantas, apakah berdana benar-benar dapat membebaskan atau meringankan para pemilik blood money dari buah karma buruk dari menyetujui dan mendukung pembunuhan?
Salah satu dari empat hal yang tidak perlu kita pikirkan adalah akibat karma karena akan menyebabkan frustrasi (AN 4.77). Jangan coba-coba mengotot membahas buah karma bila apa yang akan terjadi esok hari masih tanda tanya. Misteri. Itulah sifat karma. Meskipun demikian, paling tidak kasus ini dapat dianalisis secara logis.
Blood money serupa dengan kisah Robin Hood yang menceritakan tentang penggunaan uang curian untuk menolong. Ada buah karma dari mencuri dan ada buah karma dari berbagi, meskipun pemberian jenis ini dianggap tercemar. Orang kaya jatuh miskin karena sakit kronis adalah drama di dunia nyata. Di satu sisi dia punya harta berlimpah, di sisi lain dia tidak punya kesempatan untuk menikmatinya.
Menyetujui dan mendukung pembunuhan berpotensi mengakibatkan seseorang terlahir di neraka. Membunuh makhluk hidup berpotensi menyebabkan seseorang terlahir di neraka atau pendek umur bila terlahir sebagai manusia, sementara potensi buah karma dari berdana adalah terlahir di alam dewa atau di keluarga kaya bila bila terlahir di alam manusia (M.135). Bermurah hati dan hidup dalam jujur adalah suatu berkah/perlindungan (Snp 2.4). Buddha mengajarkan bahwa kesehatan adalah keuntungan tertinggi dan kepuasan adalah kekayaan terbesar (Dhp 204). Menikmati dan memanfaatkan kekayaan untuk menciptakan potensi-potensi positif menyebabkan kebahagiaan dan sukacita (AN.62) antara lain seperti menyokong mereka yang bergantung, mengatasi kesusahan, memberikan persembahan yang lebih tinggi dan melayani para monastik yang bermoral, selibat, dan terkendali (AN 5.41).
Seorang siswa Buddha terampil dalam mengumpulkan kekayaan dan menggunakan kekayaan. Sadari potensi buah karma buruk dari melakukan perdagangan yang Buddha larang. Hindari risiko lahir kembali di alam neraka atau pendek umur dan sakit-sakitan bila lahir kembali jadi manusia. Blood money adalah uang kotor yang akan mengganggu ketenangan, kedamaian, dan kebahagiaan hidup. Berdana menggunakan uang ini belum tentu akan menyelamatkan dari potensi buah karma buruk dari menyetujui dan mendukung pembunuhan.

















