Top 10 Penulis

BOLEHKAH BERSYUKUR?

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

persons hand forming heart
Photo by Andrew Moca

Ada teman bertanya, bolehkah umat Buddha bersyukur? Katanya ia pernah mendapat jawaban atas pertanyaan itu, yaitu ditanya kembali – bersyukur kepada siapa?

Banyak pengertian tentang kata bersyukur yang dalam Bahasa Inggris disebut grateful atau thankful. Secara sederhana bermakna merasa berterima kasih, menghargai, berlega hati atau beruntung atas hal baik yang diterima. Hal baik tersebut dapat datang dari orang lain, alam ataupun sesuatu yang adikodrati (sesuai dengan keyakinan masing-masing).

Seseorang dapat bersyukur kepada orang lain yang menolongnya dari kesusahan. Rakyat Indonesia bersyukur tinggal di tanah yang subur dan kekayaan alamnya melimpah. Ada yang bersyukur kepada makhluk adikodrati yang sesuai dengan keyakinannya telah memberikan pertolongan kepada dirinya.

Dalam agama Buddha, umat Buddha tidak meminta kepada Sang Buddha untuk mendapat keberuntungan atau terbebas dari kesusahan. Keberuntungan dan kesusahan ditentukan oleh diri sendiri melalui karma yang telah diperbuat dan berbuah pada waktunya. Namun tidak berarti tidak dikenal adanya makhluk adikodrati yang dapat memberikan pertolongan ataupun perlindungan. Terdapat dewa-dewa yang melindungi mereka yang melaksanakan Dhamma. Terdapat dewa-dewa yang dapat memberi pertolongan secara spiritual dalam batas-batas tertentu sesuai dengan timbunan karma yang dimiliki orang yang meminta pertolongan. Ada bacaan yang sering dibacakan: Bhavatu sabba manggalang, rakkhantu sabba devata, yang artinya Semoga semua keberuntungan terjadi, semoga semua dewa melindungi. Jadi orang dapat juga bersyukur kepada para dewa kalau merasa mendapat pertolongannya.

Dalam berbagai penelitian ditemukan bahwa orang yang bersyukur umumnya merasa lebih bahagia. Saat seseorang bersyukur, otaknya akan melepaskan dopamin dan serotonin, dua hormon yang berperan dalam kebahagiaan. Dopamin merupakan ‘molekul motivasi’ berkaitan dengan perasaan motivasi, kebahagiaan dan fokus dalam pikiran. Serotonin sering dianggap sebagai ‘zat kimiawi kebahagiaan’ karena peranannya dalam perasaan sejahtera dan kebahagiaan, Kadar serotonin yang rendah dapat menyebabkan depresi, kecemasan dan gangguan tidur.

Dengan bersyukur maka akan diperoleh banyak hal positif seperti dapat melepas emosi yang negatif dan mengurangi rasa nyeri. Dapat mengurangi stres, kecemasan dan depresi serta memperbaiki kualitas tidur. Dengan demikian maka seseorang akan menjadi lebih bahagia sehingga dengan sendirinya menjadi lebih sehat dengan berkurangnya hormon stres yaitu adrenalin dan kortisol.

Oprah Winfrey berkata, “Be thankful for what you have; you’ll end up having more. If you concentrate on what you don’t have, you will never, ever have enough.” (Bersyukurlah atas apa yang kamu miliki, kamu akan memiliki lebih banyak lagi. Jika kamu konsentrasi pada apa yang tidak kamu miliki, kamu tidak akan pernah merasa cukup).

Mengapa ada orang yang tidak bersyukur? Banyak sebabnya. Mungkin karena di masa kecilnya tidak pernah diajarkan bersyukur atau berterima kasih atas apa yang diterimanya. Suka membandingkan diri dengan orang lain. Terperangkap pada masa lalu atau terlalu fokus pada masa depan.  Tentu juga terjadi pada orang-orang yang mempunyai ego tinggi, merasa sombong, selalu ingin dipuji atau dibenarkan.

Dalam pandangan agama Buddha, ada dua orang yang sulit ditemukan di dunia ini yaitu Pubbakari dan Kataññū katavedī. Pubbakari berarti seseorang yang memberikan pertolongan sejati. Kataññū katavedī  berarti orang yang berterima kasih dan membalas budi. Kataññū berasal dari kata yang berarti apa yang telah dilakukan (pada diri seseorang) dan aññū yang berarti mengetahui. Katavedī berarti memberikan balasan atas apa yang diterima.

Ada contoh Buddha Gotama melaksanakan  kataññū katavedī. Pada minggu kedua setelah pencapaian Penerangan Sempurna, Sang Buddha berdiri beberapa kaki dari pohon Bodhi dan memandanginya terus menerus dengan mata tidak berkedip selama satu minggu sebagai perwujudan terima kasih dan penghargaan kepada pohon yang telah memberi-Nya tempat untuk berteduh sewaktu berjuang untuk mencapai ke-Buddha-an.

Kepada ibu-Nya yang telah terlahir kembali di surga Tusita sebagai seorang dewa, Sang Buddha mewujudkan kataññū katavedī dengan memberi pelajaran Dhamma di surga Tavatimsa bersama dengan para dewa lainnya sehingga dewa tersebut dan para dewa lainnya mencapai kesucian. Kepada ayah-Nya, Raja Suddhodana, yang terbaring saat menjelang wafat, Sang Buddha memberi pelajaran Dhamma sehingga ayahnya mencapai tingkat kesucian tertinggi yaitu Arahat. Raja Suddhodana merupakan salah satu dari tidak banyak umat awam yang menjadi Arahat sebagai umat awam. Demikianlah Sang Buddha telah mewujudkan pernyataan terima kasih dan balas budi yang terbesar yang dapat dilakukan seorang anak kepada orangtuanya yaitu membuatnya mengenal dan merealisasikan Dhamma yang Mulia.

Ada yang bertanya, bolehkah bersyukur dengan menambahkan kata puji menjadi puji syukur? Dalam agama Buddha dikenal kata puji. Sang Buddha dipuji karena kebijaksanaan dan pengetahuannya yang luar biasa. Sang Buddha disebut Sabbaññu yang bermakna Maha Tahu (sabba berarti semua dan aññu berarti mengetahui). Di buku paritta terdapat  kalimat Terpujilah Sang Bhagava yang Maha Suci yang telah mencapai Penerangan Sempurna (Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa). Kata terpujilah di sini merupakan terjemahan yang kurang pas dari kata namo yang sebenarnya berarti menghormat atau bersujud (berasal dari kata namati yang berarti membungkuk/to bend).

Dalam konteks Buddhis kata puji tidak berkorelasi dengan makna bersyukur, oleh karena itu bagi umat Buddha cukup menyampaikan kata bersyukur. Misalnya pada saat kelulusan anak dapat menyatakan, kami bersyukur anak kami telah lulus menjadi sarjana dengan kekuatan karmanya.

Perasaan bersyukur perlu sekali dapat dikembangkan dalam diri setiap orang agar dapat menambah kebahagiaan dan kesehatan. Bagi yang belum membuat resolusi atau tekad dalam menghadapi tahun yang baru, bolehlah mencoba bertekad: Mulai saat ini saya akan selalu bersyukur atas apa yang saya terima! …..

Pilihan

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

hands, old, typing
Tidak hanya dalam penulisan tersebut ada ketidakcermatan berbahasa. Kadang kala ditemui tulisan doorprice, yang mestinya doorprize. Atau kata yang seharusnya ditulis deadline menjadi dateline, padahal kedua kata mempunyai arti yang sangat berbeda.
vesak, buddha, birth
Penanggalan Buddhis yang lunisolar menyebabkan bahwa hari Waisak yang umumnya jatuh pada bulan April atau Mei, kadang-kadang bisa jatuh pada awal Juni apabila terdapat bulan tambahan pada tahun tersebut. Cara penambahan lun atau adhikamasa dapat berbeda pula dalam tiap penanggalan.

Tulisan Terkait