Top 10 Penulis

Budaya unik Bhutan, Merenungkan Kematian.

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

Negara Bhutan berbentuk kerajaan, berada di antara dua negara raksasa, China di Utara dan India di Selatan. Luasnya 38.394 km2 mungkin seluas provinsi Jawa Barat sekitar 35.378 km².

Pengaruh budaya Tibet sangat kental di sana, terlihat dari beberapa ornamen, warna dan yang paling utama adalah agama, negara berlandaskan Ajaran Buddha. 

Bhutan bahkan menganut aliran Vajrayana (Buddha Tantrayana) yang sama dengan Tibet, dengan ciri khas stupa, bendera doa, dan biara-biara di puncak bukit. Populasi Bhutan 790 ribu jiwa.

Walaupun penduduknya kurang dari 1 juta, ketika berkunjung ke sana pada tahun 2024, mereka sudah menggunakan pembayaran digital melalui QR code, bahkan sampai ke pelosok negara. Sistem pembayaran ini bernama Scan to Pay yang diluncurkan oleh Royal Monetary Authority of Bhutan, dan sudah terintegrasi dengan beberapa jaringan pembayaran internasional.

Bhutan adalah negara unik di Himalaya yang mengutamakan Gross National Happiness (kebahagiaan nasional) di atas pertumbuhan ekonomi. Negara ini sangat menjaga kelestarian alam dan menjadi salah satu dari sedikit negara karbon negatif di dunia. Bhutan juga ketat menjaga budayanya; warga wajib memakai pakaian adat di area publik, dan arsitektur bangunannya harus mempertahankan gaya tradisional. Uniknya, Bhutan tidak memiliki lampu lalu lintas tunggal pun, bahkan di ibu kotanya, Thimphu.

Bicara soal Thimphu, perlu diketahui bahwa penerbangan ke sana terkenal sangat sulit dan menantang. Bandara Paro—satu-satunya bandara internasional di Bhutan—terletak di lembah sempit dengan ketinggian 2.235 meter, dikelilingi puncak-puncak setinggi lebih dari 5.000 meter. 

Hanya sekitar 30 pilot di dunia yang memiliki kualifikasi khusus untuk mendarat di sana, karena manuver yang dibutuhkan sangat rumit dan hanya bisa dilakukan dengan penglihatan langsung (visual approach), tanpa bantuan alat pendaratan otomatis. 

Jika Anda berangkat melalui Nepal, sepanjang penerbangan menuju Bhutan Anda akan disuguhi pemandangan spektakuler deretan pegunungan Himalaya, termasuk beberapa puncak tertinggi di dunia, yang tampak begitu dekat dari jendela pesawat.

***

Di Bhutan ada budaya merenungkan kematian, dilakukan secara rutin setiap hari sebagai bagian dari latihan spiritual. Bagi mereka, membicarakan kematian bukanlah hal yang tabu. Merenungkan kematian jauh lebih bermanfaat daripada menghindarinya.

Perenungan kematian (marananusati) berasal dari filosofi yang berakar kuat pada ajaran Buddhisme yang menjadi mayoritas di Bhutan.

Manfaatnya bagus sekali untuk mental health, dan ada alasan ilmiah merenungkan kematian bermanfaat.

Beberapa studi dalam psikologi (seperti yang dikaji dalam Terror Management Theory) menemukan bahwa kesadaran akan kematian dapat mendorong seseorang untuk lebih menghargai nilai-nilai kehidupan dan hubungan sosial yang bermakna.

Ada manfaat lainnya yang lebih mendalam.

Rutin mengingat kematian berdampak positif bagi mental warga Bhutan:

  • Mengikis Kemelekatan: Sadar ajal bisa tiba kapan saja membuat mereka tidak berlebihan mengejar harta atau pangkat yang tak dibawa mati.
  • Mengurangi Stres & Dendam: Masalah harian atau konflik terasa sepele dibanding kepastian ajal, sehingga mereka mudah memaafkan.
  • Menghargai Momen Saat Ini: Kesadaran bahwa hidup ini singkat mendorong mereka untuk lebih ramah, gemar berbuat baik, dan hidup lebih mindful.

Apa saja yang direnungkan?

1. Saat Bangun Pagi
Sadari bahwa hari ini adalah anugerah. Banyak orang yang tidak terbangun dari tidurnya. Bersyukurlah atas nafas yang masih berhembus dan kesempatan untuk menjalani hari baru. Hiduplah dengan niat baik, karena tidak ada jaminan kita akan melihat matahari terbenam.

2. Saat Sarapan
Renungkan bahwa makanan di hadapan kita bisa menjadi santapan terakhir. Nikmati setiap suapan dengan penuh kesadaran dan rasa syukur. Jangan sia-siakan waktu untuk mengeluh tentang hal kecil, karena kita tidak pernah tahu kapan kesempatan untuk menikmati hidangan berikutnya akan tiba.

3. Saat Tengah Hari
Setengah hari telah berlalu, mengingatkan kita bahwa waktu terus berjalan tanpa henti. Gunakan sisa hari untuk berbuat kebaikan, menyelesaikan tugas dengan ikhlas, dan memperbaiki hubungan dengan sesama. Jangan tunda kebajikan, karena ajal tidak pernah memberi peringatan.

4. Saat Makan Malam
Hari hampir usai. Sadari bahwa ini bisa menjadi malam terakhir kita bersama keluarga atau teman. Lepaskan segala beban dan permusuhan yang masih tersisa. Berdamailah dengan diri sendiri dan orang lain, karena pertengkaran terasa sia-sia di hadapan kepastian kematian.

5. Sebelum Tidur
Tidur adalah “kematian kecil”. Bersiaplah untuk melepaskan kendali dan pasrahkan diri pada alam. Syukuri segala hal yang terjadi hari ini, baik maupun buruk, karena semuanya adalah pelajaran. Beristirahatlah dengan tenang, tanpa jaminan bahwa kita akan bangun kembali di esok hari.

***

Seperti yang Sang Buddha ajarkan bahwa kematian merupakan sesuatu yang wajar, karena setiap kelahiran pasti akan mengalami kematian, seperti syair yang selalu dibacakan pada saat upacara kematian:

Pamsukulā Gāthā

Aniccā vata saṅkhārā
Uppāda-vaya-dhammino
Uppajjitvā nirujjhanti
Tesaṁ vūpasamo sukho

Sabbe sattā maranti ca
Mariṁsu ca marissare
Tathevāhaṁ marissāmi
Natthi me ettha saṁsayo.

Yang artinya

Segala yang terbentuk tidak kekal adanya
Bersifat timbul dan tenggelam
Setelah timbul akan hancur dan lenyap
Bahagia timbul setelah gelisah lenyap.

Semua makhluk akan mengalami kematian
Mereka telah berkali-kali mengalami kematian, dan akan selalu demikian;
Begitu pula saya, pasti mengalami kematian juga
Keragu-raguan tentang ini tidak ada dalam diriku.

Pilihan

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

Semua makhluk akan mengalami kematian Mereka telah berkali-kali mengalami kematian, dan akan selalu demikian; Begitu pula saya, pasti mengalami kematian juga. Keragu-raguan tentang ini tidak ada dalam diriku.
Monks in orange robes conduct a religious ceremony around a golden Buddha statue outdoors.
Dalam hati saya, pasti akan menjawab ibu beliau. Karena beberapa waktu lalu beliau pernah bercerita belum lama pulang kampung, ke Inggris untuk menemui ibunya.

Tulisan Terkait