Anton kegirangan, harapannya yang sudah lama terpendam untuk mengunjungi kuil Empat Raja Dewa di Bangkok, terpenuhi. “Pokoknya, aku akan mendoakan semua harapan dan cita-citaku disini!”
Kuil Empat Raja Dewa memang legendaris, konon kabarnya, hampir semua permintaan bagi yang memercayainya dapat dipenuhi. Caranya pun mudah, cukup berdoa dengan khusyuk serta membeli lilin, dupa, dan bunga persembahan.
Jika ingin lebih afdol lagi, pengunjung bisa menyumbang jasa penari di depan altar Sang Dewa, yang sudah siap disaat ada permintaan.
“Aku punya list nama yang aku akan doakan, jangan khwatir, kamu salah satu diantaranya’. Tentu saja senang bukan kepalang. Bagaimana tidak, si Anton sahabatku ini, memiliki julukan sebagai ‘manusia dengan 1000 teman”.
Di satu sisi, saya tentu senang dong, menjadi yang terpilih di antara 1000. Namun di sisi lain, saya sangsi, apakah si Anton memiliki cukup waktu untuk mengingat daftar teman yang akan ia doakan?
Lagipula, jika ia benar-benar melakukannya, aku membayangkan dewa yang bertugas sebagai tukang catat, pasti akan geleng-geleng kepala. “Rakus benar si Anton ini”.
Nah, mendoakan keluarga, teman, dan sahabat adalah hal yang umum kita lakukan.
Merasa diperhatikan dalam doa, tentu adalah sebuah kehormatan khusus yang tiada terhingga. Saking terhormatnya, kadang kita juga sering menitipkan pesan ini kepada sahabat yang akan menunaikan ibadah haji di Tanah Suci.
“Doain aku ya, Ma…” Ujarku kepada ibu mertua, dengan hati yang penuh rasa gembira, karena sebentar lagi, aku “akan diperhatikan”.
Aku merenung…
Apakah betul doa yang tulus bagi seseorang yang kita sayangi, akan terpenuhi? Bagaimana jika ternyata Tuhan mengabaikan doa kita, atau malaikat pendamping lupa mencatatnya?
Ternyata, ada sebuah jawaban yang terlintas di pikiranku pada pagi hari ini. Aku berandai-andai, jika ternyata logika Tuhan tiada bedanya dengan manusia, apakah yang harus aku lakukan?
Meskipun tentu ada yang tidak senang dengan cara berpikir ini, namun paling tidak, Tuhan menciptakan diriku sebagai mahluk yang berlogika manusia.
Bagaimana agar malaikat pencatat permintaan, ‘dironrong” seharian, untuk doa yang sama? Ide Bagus Atuhhh! Malaikat kita buat sakit telinga!
Nah, jika demikian (dengan sedikit perasaan berdosa, karena telah membocorkan rahasia surga), saya pun berihtiar untuk memilih satu orang dalam sehari untuk didoakan.
Sehari penuh? Iya… 24 Jam? Tidak… 30 hari? Iya…
Ayo kita mulai dengan menentukan target doa. Bisa dimulai dari orang yang paling dekat, seperti ayah bunda, istri, anak, dan lain sebagainya.
Mulailah harimu dengan mendoakan ia, dan dilanjutkan dalam sesi-sesi berikutnya.
Selanjutnya, wujudkan doamu dalam bentuk aksi nyata. Apabila ia adalah orang yang anda temui dalam keseharian, maka mulailah dengan menyapa, melempar senyuman, mengajak ia berbicara, menanyakan keadaanya, dan lain sebagainya.
Buatlah ia merasa Bahagia dengan perhatianmu!
Jika ia adalah seorang yang sudah lama tidak anda temui, maka sapalah ia melalui ponselmu. Kirim pesan kepadanya, atau sekedar menelpon untuk menanyakan kabar.
Buatlah ia terkejut dengan sapaanmu!
Jika ia adalah orang yang sudah tidak ditahu keberadaanya, maka ingatlah ia dalam hati. Bayangkanlah masa-masa indah bersamanya, dan ucapkanlah pengharapan yang baik tentang dirinya.
Buatlah ia merasa Bahagia, dengan harapnmu!
Jika ia adalah orang yang sudah meninggal, maka berdoalah agar ia tenang di sisi Nya!
Tantangan terbesar tentunya adalah menempatkan seseorang yang kita benci pada daftar ini. Nah, tidak apa-apa. Disinilah, ketulusanmu diuji. Memaafkan adalah salah satu bentuk perbuatan baik yang tak terbatas.
Dengan melakukan ini, sejujurnya, anda telah memaafkan diri yang sudah membenci.
Jika anda ingin lebih baik lagi, maka telponlah ia. Jangan khwatir dengan rasa dendam, karena sejujurnya seseorang yang membenci, tidak akan meyimpan dengki terlalu lama.
Jika anda masih memiliki hutang atau janji yang belum terpenuhi, minta maaflah, tanpa harus menjanjikan apa-apa jika anda belum mampu.
Jika ia masih mempunyai hutang yang belum lunas, maka berilah ia kesempatan untuk memenuhi janjinya, tanpa mengharapkan apa-apa.
Namun, percayalah, bukan karena saya adalah Dewa, namun kisah seperti ini sudah cukup sering aku dengarkan.
Salah satu adalah dari sahabatku, Robby Habibi. Sejawat yang sama-sama berkecimpung dalam dunia Public Speaking ini, pernah menceritakan sebuah hal yang tidak pernah akan kulupakan.
Suatu waktu, ia merasa gundah mengingat bagaimana sahabatnya telah menipu uangnya dengan cara keji. Menurutnya, jumlahnya cukup besar, hingga memengaruhi kondisi ekonominya di kala itu.
Seiring waktu, ia mulai bangkit dan mendapatkan kesempatan untuk mengumpulkan pundi-pundinya lagi. Namun, kekecewaan yang ia rasakan dari sahabat karibnya ini, belum juga sembuh.
Hingga suatu waktu, pada saat sedang mengendarai mobil di Kawasan Bintaro, Jaksel, secara tiba-tiba, ia memutar balik arah mobilnya untuk mengunjungi sahabat yang telah menghancurkan hatinya itu.
Menginjakkan kaki di hadapan pintu masuk warung, dirinya dipenuhi dengan sejuta perasaan galau. Bertemu dengan sahabat lamanya, jiwanya masih diselimuti amarah.
Sahabatnya yang melihatnya, berdiri diam, pucat pasi, menunggu reaksi balasan berikutnya yang mungkin akan terluap. Namun, apa yang dilakukan oleh Bang Robby, adalah datang mendekati sahabatnya,
“Aku sudah memaafkanmu, jadilah pribadi yang baru mulai detik ini.” Air mata terurai, membasahi baju putih yang erat dalam pelukan.
Sahabatku yang budiman, sesungguhnya doa bukanlah hanya permintaan kepada Tuhan yang Maha Kuasa. Doa yang terbesar adalah memberikan kebahagiaan bagi orang-orang yang berada di sekitar kita.
Memberikan kebahagiaan, kadang tidak perlu dilakukan dengan aksi menghebohkan, pengharapan-pengharapan kecil terhadap kebaikan dan perbaikan adalah sebuah makna yang besar bagi kemanusiaan.
Doakanlah sahabatmu, dengan selalu memberikan yang terbaik baginya, dalam bentuk ucapan, pikiran, dan tindakan. Namun sebelumnya…
“Jangan Lupa Bahagia”.
Sebuah frasa yang aku temukan pagi ini di platform medsos, sobatku, Robby Habibi.

















