Bagaimana perasaan kita sekiranya ada teman atau saudara atau keluarga kita yang setahu kita buddhis kemudian berpindah ke keyakinan lain? Biasanya akan timbul perasaan kurang nyaman, kecewa, atau bahkan keinginan untuk protes ke orang tersebut. Kita biasanya ingin menanyakan alasannya kenapa sampai dia tidak “setia” kepada agama Buddha. Kenapa sampai dia tega “meninggalkan” kita.
Jika orang yang setelah berpindah ke keyakinan lain tersebut lalu menjadi orang yang lebih baik, yang membawa lebih banyak kebaikan dan manfaat bagi orang banyak, kita mungkin akan mengikhlaskannya. Bagaimana seandainya setelah orang tersebut berpindah ke keyakinan lain lalu menjelek-jelekkan agama Buddha? Bisa jadi kita akan sakit hati karenanya.
Terdapat banyak sebab yang bisa mengakibatkan seseorang berpindah keyakinan dari sebelumnya beragama Buddha ke keyakinan lain. Salah satunya adalah keyakinan yang kurang kokoh terhadap ajaran Buddha. Akibatnya begitu diindoktrinasi secara masif oleh ajaran lain apalagi jika dirinya begitu diterima dan didukung dalam lingkungan keagamaan yang baru tersebut, mantaplah yang bersangkutan untuk berpindah “jalur”.
Seharusnya seorang buddhis mampu berpikir kritis menggunakan logika yang sehat dan normal sehingga tidak mudah percaya terhadap bujuk rayu disertai berbagai janji kemudahan dari pemeluk agama lain. Tidak hanya itu saja, seorang buddhis harus meningkatkan pemahamannya terhadap ajaran Buddha secara utuh alias sepenuhnya.
Bagaimana cara yang benar untuk memahami Dhamma seutuhnya? Bisa menggunakan teknik 3P, yakni pariyatti dhamma, patipatti dhamma, dan pativedha dhamma.
Pariyatti Dhamma berarti mempelajari berbagai teori dan pengetahuan Buddha Dhamma. Di zaman sekarang yang serba maju dan modern, banyak sekali cara atau sumber untuk belajar teori dan pengetahuan Buddha Dhamma. Kemajuan teknologi dan informasi memudahkan kita mengakses berbagai sumber Buddha Dhamma, dengan biaya yang sangat kecil atau bahkan tanpa biaya sama sekali. Ajaran Buddha berisikan berbagai kenyataan yang sangat masuk di akal orang biasa sehingga jika kita mau menggunakan logika kita, pastilah kita akan mampu untuk mengerti. Jadi tidak ada alasan untuk mengatakan tidak mampu belajar teori dan pengetahuan Buddha Dhamma, baik alasan ketidakmampuan dalam hal biaya maupun secara intelegensi atau intelektual. Pemahaman Buddha Dhamma yang diperoleh dari P yang pertama ini adalah level terendah bagi seorang buddhis. Pemahaman di level ini sangatlah rentan. Keyakinan yang timbul masih lemah dan cenderung hanya di kulit saja. Seorang buddhis di level ini masih sangat mudah untuk berubah keyakinan.
Patipatti Dhamma berarti mempraktikkan teori Buddha Dhamma yang sudah dipelajari dalam kehidupan sehari-hari dan menyaksikan langsung kebenaran ajaran Buddha. Tahapan P yang kedua ini sangatlah menantang karena biasanya praktik jauh lebih sulit dari teori. Melakukan jauh lebih sulit daripada belajar teorinya. Pemahaman Buddha Dhamma yang diperoleh dari P yang kedua ini adalah level menengah bagi seorang buddhis. Pemahaman di level ini sudah cukup kuat karena sudah melalui pembuktian. Keyakinan yang timbul sudah cukup kuat dan merasuk ke dalam diri. Seorang buddhis di level ini sudah tidak mudah untuk berubah keyakinan.
Pativedha Dhamma berarti menyempurnakan berbagai teori, pengetahuan, dan praktik Buddha Dhamma melalui meditasi pandangan terang (vipassana) sehingga bisa memperoleh pemahaman dan kebijaksanaan yang utuh. Tahapan P yang ketiga ini adalah yang tersulit karena sudah melampaui teori dan praktik biasa. Tahapan P yang ketiga ini adalah praktik tingkat tinggi. Tidak heran jika kualitas P yang ketiga ini menjadi pembeda antara ajaran Buddha dengan ajaran-ajaran agama lainnya. Pemahaman Buddha Dhamma yang diperoleh dari P yang ketiga ini adalah level tertinggi bagi seorang buddhis. Pemahaman di level ini sudah sangat kuat dan menyeluruh karena sudah melalui pembuktian dan pengertian secara mendalam. Keyakinan yang timbul sudah sangat kuat dan mendarah daging. Seorang buddhis di level ini seharusnya sudah tidak akan berpaling dari ajaran Buddha.
P3 (Pariyatti – Patipatti – Pativedha) tersebut bisa diumpamakan seperti berikut ini.
Jika kita ingin makan di sebuah restoran maka setelah kita berada di dalam restoran, kita diberikan menu. Dengan membaca menu maka kita tahu apa saja makanan dan minuman yang bisa disediakan oleh restoran tersebut. Ini seumpama kita belajar berbagai teori Buddha Dhamma (pariyatti), kita tahu berbagai ajaran yang diberikan oleh Buddha.
Setelah kita mengetahui menu restoran tersebut, kita memesan, menunggu, lalu setelah beberapa lama datanglah berbagai pesanan tersebut. Kita kemudian menikmati berbagai makanan dan minuman yang tersaji. Menu yang tadinya hanya tertulis saja, sekarang bisa kita lihat dan nikmati. Kita bisa merasakannya secara langsung. Menikmati makanan dan minuman yang sudah kita pesan di restoran dapat diumpamakan mempraktikkan berbagai ajaran Buddha yang sudah dipelajari (patipatti). Mempraktikkan Buddha Dhamma berarti membuktikan apa yang telah dikatakan oleh Buddha dan melihat kenyataan yang sesungguhnya. Menu yang ada di restoran seringkali lebih bagus dibanding makanan dan minuman yang sesungguhnya diantar. Demikian pula teori Buddha Dhamma lebih mudah diucapkan dibanding harus dipraktikkan. Tanpa melihat dan menikmati langsung makanan dan minumannya, kita tidak bisa membuktikan menunya. Tanpa mempraktikkan apa yang diajarkan oleh Buddha, kita tidak bisa merasakan langsung teori Buddha Dhamma yang sudah dipelajari.
Tidak tertutup kemungkinan, setelah menikmati makanan dan minuman yang terhidang, kita penasaran lalu bertanya ke pihak restoran apa saja bumbu utama yang digunakan dan bagaimana garis besar proses memasak atau membuat makanan dan minuman tersebut. Jikapun hal ini tidak bisa dilakukan karena menjadi rahasia dari pihak restoran, kita bisa melakukan coba-coba (trial and error) untuk menemukan formula membuat makanan dan minuman tersebut. Jika pengetahuan ini akhirnya bisa kita peroleh, pastilah kita akan memiliki pemahaman sepenuhnya akan makanan dan minuman yang sudah kita konsumsi. Hal ini seumpama kita mempraktikkan meditasi penembusan atau pandangan terang (vipassana) sehingga memiliki pemahaman sepenuhnya akan berbagai ajaran Buddha yang sudah kita pelajari dan praktikkan.
Inilah P3 (Pariyatti – Patipatti – Pativedha) yang perlu kita praktikkan sebagai cara yang benar seorang buddhis untuk memahami Buddha Dhamma sepenuhnya. Dengan memahami Buddha Dhamma sepenuhnya, kita akan menjadi seorang buddhis dengan keyakinan yang kokoh dan tidak mudah goyah.

















