Belasan tahun yang lalu, donor darah begitu menakutkan bagi saya. Membayangkan jarum suntik ditusukkan ke tangan saya dan menancap selama beberapa menit lamanya, amatlah menakutkan. Jangankan jarum untuk donor darah, jarum suntik biasa pun yang lebih kecil sudah begitu menakutkan bagi saya. Lebih baik meminum obat yang pahit daripada disuntik.
Anda memiliki masalah yang sama? Takut dengan jarum suntik? Ketakutan yang kemudian membuat kita tidak berani berdonor darah? Ketakutan terhadap jarum donor darah ini menjadi perintang kita untuk berbuat karma baik besar.
Berdonor (baca: berdana) darah memenuhi beberapa kriteria dana yang tinggi kualitasnya. Berdonor darah berarti kita memberi atau melepas darah kita yang sebenarnya sangat berharga bagi diri kita. Setiap manusia sangat membutuhkan darah. Kekurangan darah bisa berakibat buruk bahkan bisa menyebabkan meninggal dunia. Darah sangatlah penting dan berarti bagi kehidupan setiap manusia.
Ada yang mengatakan bahwa dengan sekali berdonor darah, bisa menyelamatkan tiga nyawa manusia. Entahlah dari mana dan bagaimana perhitungan ini diperoleh. Yang jelas, jika niatannya baik untuk berdonor darah, ditunjang pikiran sewaktu dan setelah berdonor darah juga bagus, apalagi jika akhirnya kualitas darah kita baik sehingga bisa digunakan untuk menolong orang yang membutuhkan, berdonor darah akan merupakan perbuatan (karma) baik yang besar.
Berdonor darah sebenarnya mengandung prinsip fangshen dengan kualitas tingkat tinggi. Memang fangshen yang populer dikenal umumnya ditujukan untuk memperpanjang atau menyelamatkan kehidupan makhluk lain khususnya binatang. Darah yang didonorkan seorang manusia juga bisa memperpanjang atau menyelamatkan kehidupan manusia lain. Manusia lebih tinggi derajatnya daripada binatang. Karena itu, berdonor darah mengandung prinsip fangshen yang lebih tinggi dari fangshen yang biasa dilakukan terhadap binatang.
Oleh sebab itu, takut dengan jarum suntik sehingga tidak berani berdonor darah telah menjadi perintang saya untuk mengumpulkan lebih banyak karma baik. Padahal secara medis kondisi saya memungkinkan alias memenuhi syarat untuk berdonor darah.
Belasan tahun yang lalu, berbicara di depan umum membawa kecemasan besar bagi saya. Cemas memikirkan apakah bisa lancar menyampaikan apa yang sudah dipersiapkan? Apakah yang hadir bisa mengerti? Bagaimana jika nanti muncul pertanyaan yang sulit atau tidak mampu saya jawab? Dan lain-lain yang bisa menimbulkan kecemasan.
Anda memiliki masalah yang sama? Cemas berbicara di depan umum? Cemas yang kemudian membuat kita menghindar dari berbicara di depan umum, semisal menjadi penceramah agama Buddha?
Berdana kebenaran (Buddha Dhamma) merupakan bentuk berdana yang paling tinggi tingkatnya dibanding bentuk-bentuk berdana lainnya. Ceramah yang dipersiapkan dan dibawakan dengan baik, dan mampu memotivasi pendengarnya untuk mempraktikkan apa-apa yang telah diceramahkan, merupakan karma baik yang tidak kecil.
Oleh sebab itu, kecemasan untuk berbicara di depan umum sebagai penceramah agama Buddha telah menjadi perintang saya untuk mengumpulkan karma baik yang lebih banyak. Padahal kecemasan tersebut sangatlah bisa diatasi.
Belasan tahun yang lalu, meniup balon dengan mulut menjadi kekuatiran besar bagi saya. Kuatir seandainya balon yang sudah ditiup besar itu meletus tiba-tiba sehingga mengagetkan jantung. Kuatir pecahan balon yang meletus itu menyakitkan kulit wajah atau tangan saya.
Padahal waktu itu anak pertama saya yang masih kecil sangat senang bermain tepuk balon. Kekuatiran saya untuk meniup balon telah mencegah anak saya memiliki masa kecil yang menyenangkan dengan permainan yang dia sukai.
Anda memiliki masalah yang sama atau mirip? Kekuatiran untuk meniup balon atau melakukan hal baik lainnya yang diharapkan oleh orang yang kita sayangi? Kekuatiran tersebut membuat kesenangan dan kebahagiaan orang yang kita sayangi menjadi berkurang atau bahkan pupus karenanya.
Oleh sebab itu, kekuatiran untuk meniup balon telah menjadi perintang saya untuk membahagiakan orang yang saya sayangi. Padahal kekuatiran tersebut sangatlah bisa diatasi.
Demikianlah beberapa contoh ketakutan, kecemasan, dan kekuatiran yang pernah saya miliki di waktu yang lalu. Sangat mungkin Anda juga memiliki hal yang sama. Sangat mungkin terdapat ketakutan, kecemasan, dan kekuatiran lainnya yang menjadi masalah bagi kita dalam kehidupan ini, yang menjadi perintang bagi kita untuk memupuk karma baik yang lebih banyak.
Ketakutan, kecemasan, dan kekuatiran sering menghinggapi manusia normal di zaman yang serba cepat dan menuntut dewasa ini. Ketiganya adalah setali tiga uang atau seia-sekata. Mereka biasanya muncul bersama-sama. Jika yang satu ada, yang lain ikutan hadir.
Sesuai ajaran Buddha, terdapat kekotoran batin (kilesa) dalam diri sebagian besar makhluk. Kekotoran batin ini berbentuk “kotoran” atau “debu” yang menutupi batin seseorang. Kekotoran batin menghalangi kemajuan seseorang untuk mengembangkan kesadaran dan kebijaksanaan yang lebih luas.
Salah satu bentuk kekotoran batin adalah kegelisahan, kekhawatiran, dan kecemasan (uddhacca-kukkucca). Penyebab dari uddhacca-kukkucca adalah masih tebalnya keserakahan (lobha) dan masih dominannya konsep “aku” (“diriku”, “milikku”) dalam diri manusia.
Seseorang yang dihinggapi kuatnya keserakahan, akan selalu takut, cemas, dan kuatir terhadap berkurangnya atau hilangnya apa-apa yang sudah dimiliki. Orang tersebut juga akan selalu takut, cemas, dan kuatir apakah di waktu mendatang dia bisa mendapatkan yang lebih banyak lagi.
Segala sesuatu adalah tanpa inti atau aku (sabbe dhamma anattā). Konsep ini memiliki pengertian bahwa segala sesuatu yang berkondisi dan merupakan gabungan dari berbagai unsur adalah tidak memuaskan dan sebenarnya tanpa “inti” atau “aku”. Semakin sering kita mengidentikkan diri (“aku”) dengan berbagai hal atau orang maka semakin mudah untuk menjadi takut, cemas, dan kuatir.
Masalah yang disebabkan oleh ketakutan, kecemasan, dan kekuatiran harus dihadapi dan diatasi. Mengadopsi tagline lama Perum Pegadaian “Hadapi masalah tanpa masalah”, dalam menghadapi dan mengatasi masalah haruslah tanpa menimbulkan masalah baru. Jangan melakukan “gali lubang tutup lubang” karena lubang yang harus digali berikutnya akan semakin lama semakin besar.
Tidak ada seorang pun manusia yang tidak punya masalah. Dalam takaran dan frekuensi kemunculan yang berbeda, masalah akan selalu hadir dalam kehidupan setiap manusia. Banyak orang yang menghindar atau menunda masalah, yang bisa saja menjadi pupus dengan berjalannya waktu. Akan tetapi dalam kebanyakan kasus, masalah yang dipinggirkan akan makin membesar, lalu menggulung dan menenggelamkan orang tersebut. Inilah yang dikenal dengan efek bola salju (snow ball effect).
Ada cara efektif untuk menghadapi dan mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh ketakutan, kecemasan, dan kekuatiran dalam kehidupan ini. Dengan menerapkan cara ini, selain masalah Anda terselesaikan, juga bisa memupuk karma baik yang lebih banyak. Ini sesuai kata pepatah, “Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui”.
Pertama, mengenali secara spesifik apa masalahnya. Kedua, mengenali secara obyektif risiko-risiko dari masalah yang dihadapi. Ketiga, mengidentifikasi cara-cara untuk mengurangi risiko dari masalah yang dihadapi. Keempat, mencari pertolongan atau dukungan untuk menghadapi dan mengatasi masalah tersebut. Kelima, bersedia menerima risiko terburuk dari masalah yang dihadapi. Terakhir, hadapi dan coba atasi masalah tersebut.
Contoh berikut adalah penerapan cara efektif untuk menghadapi dan mengatasi masalah ketakutan berdonor darah. Prinsip dan cara yang sama dapat diterapkan terhadap masalah-masalah lainnya yang dihadapi dalam kehidupan, semisal kecemasan berbicara di depan publik dan kekuatiran untuk meniup balon. Pun untuk menghadapi dan mengatasi berbagai masalah lainnya yang ditemui sepanjang kehidupan.
1. Kenali secara spesifik apa masalahnya.
Untuk mengatasi secara tepat dan tuntas suatu masalah, masalah tersebut haruslah terlebih dahulu dikenali secara tepat. Dapat dikatakan bahwa masalah yang sudah dikenali secara tepat berarti masalah tersebut sebagian sudah terselesaikan. Contohnya masalah dalam berdonor darah bukanlah waktu pelaksanaannya yang mungkin saja kadang kurang cocok. Masalah yang sesungguhnya adalah ketakutan terhadap jarum donor darah. Waktu berdonor darah tidak menjadi masalah karena dapat dipilih berbagai alternatif, misalnya berdonor darah yang diadakan di lokasi publik atau langsung mendatangi kantor PMI terdekat.
2. Kenali secara obyektif risiko-risiko dari masalah yang dihadapi.
Banyak risiko yang mungkin timbul berkaitan dengan donor darah. Terdapat pro dan kontra apakah donor darah lebih banyak manfaat atau kerugiannya bagi kesehatan tubuh. Jika kita gunakan mesin pencari (search engine) di internet, kita tidak akan menemukan kejadian orang meninggal sewaktu berdonor darah. Bukankah ini melegakan? Berarti risiko terburuk dari berdonor darah tidaklah sampai meninggal dunia. Risiko berdonor darah yang lain, misalnya sakit karena tertusuk jarum, kemungkinan pingsan, dan kemungkinan tubuh lemas.
3. Identifikasi cara-cara untuk mengurangi risiko dari masalah yang dihadapi.
Terdapat beberapa cara untuk mengurangi atau meminimalkan risiko dari berdonor darah. Pertama, tidur yang cukup dan memastikan kecukupan gizi makanan beberapa hari (atau kalau bisa beberapa minggu) sebelum berdonor darah. Terutama kecukupan tidur di malam hari sebelum berdonor darah dan makan yang memadai sebelum berdonor darah. Kedua, sebelum jarum ditusukkan ke tangan kita, biasanya petugas PMI akan meminta pendonor darah menarik nafas panjang. Ikuti saja semua instruksi yang diberikan oleh petugas PMI. Ketiga, jika ada keluhan sewaktu donor darah berlangsung, sampaikan kepada petugas PMI. Keempat, setelah berdonor darah, jangan langsung atau tiba-tiba bangun dari pembaringan. Bangunlah secara perlahan, duduk dulu di pembaringan. Jika dirasakan semuanya normal, tidak terasa mau pingsan, barulah bangkit perlahan dari pembaringan. Kelima, jaga tidur yang cukup dan makan yang bergizi untuk beberapa waktu setelah berdonor darah.
4. Cari pertolongan atau dukungan untuk menghadapi dan mengatasi masalah tersebut.
Tidak selalu tersedia pertolongan atau dukungan untuk setiap masalah yang kita hadapi. Bagaimanapun, jika memungkinkan, cobalah mendapatkannya. Niscaya kita akan lebih percaya diri dalam menghadapi dan mengatasi masalah kita. Jika kita sama sekali belum pernah berdonor darah, mendapatkan pengalaman dan nasihat dari orang yang sudah sering berdonor darah, akan menjadi bekal berharga. Apalagi jika orang tersebut bersedia menemani sewaktu kita pertama kali akan berdonor darah.
5. Bersedia menerima risiko terburuk dari masalah yang dihadapi.
Sekarang kita sudah mengerti dan memahami risiko dari berdonor darah. Ternyata risiko terburuknya tidak sampai meninggal. Tahap berikutnya adalah mempersiapkan pikiran dan mental kita untuk sanggup menerima seandainya risiko dari berdonor darah itu benar-benar terjadi (sakit sewaktu ditusuk jarum dan setelahnya, pingsan, badan terasa lemas, dan lain-lain).
6. Hadapi dan atasi masalah tersebut.
Terakhir, mengambil tagline dari Nike ”Just do it”. Lakukan saja. Kapan pun waktunya harus berdonor darah, siapa takut? Dengan semakin seringnya berdonor darah, kesiapan dan keberanian kita pun akan meningkat sehingga karma baik pun akan bisa lebih banyak bisa kita kumpulkan.
Keberanian dan pengalaman untuk menghadapi dan mengatasi masalah merupakan proses pendewasaan dan pematangan diri. Oleh karenanya sangatlah positif untuk dilakukan.
Semoga kita mampu mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan ini. Semoga kita bisa memanfaatkan sisa waktu di kehidupan ini untuk melakukan lebih banyak karma baik melalui pikiran, ucapan, dan badan jasmani.

















