Cinta kasih (metta) merupakan satu dari 10 kesempurnaan yang harus diwujudkan oleh suatu makhluk untuk bisa mencapai tingkat ke-Buddha-an atau menjadi seorang Buddha. Kesempurnaan dalam cinta kasih ini dicapai oleh seorang calon Buddha (bodhisatta) melalui perjalanan panjang di waktu yang sangat lama di banyak kehidupan.
Metta merupakan cinta kasih universal tanpa pamrih. Disebut cinta kasih universal karena seharusnya dipancarkan kepada SEMUA MAKHLUK tanpa kecuali. Dalam Karaniya Metta Sutta (Ajaran Tentang Cinta Kasih), Buddha menjelaskan yang dimaksud dengan “tanpa kecuali” tersebut.
“Tanpa kecuali” berarti metta dipancarkan kepada semua makhluk hidup apa pun yang ada, yang goyah dan yang kokoh, yang panjang atau yang besar, yang sedang, pendek, kecil, kurus ataupun yang gemuk, yang tampak ataupun yang tak tampak, yang berada jauh ataupun dekat, yang telah menjadi ataupun yang belum menjadi.
Metta berbentuk pikiran dan perasaan yang kuat dan tulus kepada semua makhluk supaya bisa berbahagia di saat ini dan mampu mempertahankannya di waktu mendatang.
Dalam Karaniya Metta Sutta, Buddha memberikan ilustrasi secara terbatas guna memahami kualitas metta yang sebenarnya. Ilustrasi tersebut berupa cinta kasih seorang ibu kepada putranya yang tunggal (anak satu-satunya). Seorang ibu yang hanya memiliki seorang putra pasti akan memberikan dan melakukan segalanya demi putra tunggalnya. Bahkan jika perlu sampai mengorbankan nyawanya sendiri. Seorang ibu tidak mengharapkan pamrih atau balasan dari anaknya atas semua pembelaan dan kebaikan yang sudah dilakukannya.
Kualitas cinta kasih seperti seorang ibu kepada putranya yang tunggal inilah yang seharusnya dipraktikkan sewaktu memancarkan metta kepada semua makhluk tanpa kecuali. Tentu saja ini tidak mudah. Pemancaran metta harus dilakukan secara bertahap dan dipupuk melalui praktik rutin.
Metta termasuk dalam kelompok empat brahma vihara atau apamanna (kediaman luhur atau sifat luhur yang tinggi kualitasnya). Tiga lainnya adalah karuna (belas kasihan atau welas asih), mudita (simpati terhadap kebahagiaan makhluk lain), dan upekkha (ketenangseimbangan).
Makhluk yang sudah mempraktikkan empat brahma vihara atau apamanna di tingkat yang tinggi adalah Dewa Brahma. Di dalam Anguttara Nikaya – Sutta Pitaka, dikatakan bahwa orang tua seumpama Dewa Brahma yang tampak (brahmati mata-pitaro). Ini dikarenakan orang tua mempraktikkan brahma vihara terutama metta, karuna, dan mudita paling tidak secara terbatas kepada anak-anaknya. Dewa Brahma tidaklah tampak oleh mata manusia biasa. Orang tua adalah manusia yang tentunya tampak atau kelihatan oleh mata manusia. Oleh karena itu orang tua diumpamakan sebagai Dewa Brahma tapi yang tampak atau kelihatan.
Karuna dan mudita berbeda dengan metta dalam hal ke siapa dipancarkannya. Metta dipancarkan tanpa kecuali kepada semua makhluk yang sedang berada dalam kondisi apa pun (bahagia, menderita, maupun tidak bahagia dan tidak juga menderita) supaya semuanya berbahagia dan bisa mempertahankan kebahagiaan tersebut.
Karuna dipancarkan tanpa kecuali kepada semua makhluk yang sedang menderita. Semoga mereka segera terbebas dari penderitaannya dan semoga mereka berbahagia.
Ada pun mudita dipancarkan tanpa kecuali kepada semua makhluk yang sedang berbahagia. Semoga mereka bisa mempertahankan kebahagiaannya.
Terdapat berbagai cara untuk mengembangkan metta di dalam diri. Lima di antaranya, adalah: (1) Menerima dan mencintai diri sendiri terlebih dulu, (2) Sering mengucapkan tiga kata ajaib (magic words), (3) Sering mengingat bahwa semua ada pertalian karma, (4) Menyadari dan mempraktikkan “Prinsip Cermin”, dan (5) Mengurangi kebencian.
1. Menerima dan mencintai diri sendiri terlebih dulu
Ada beberapa keyakinan (saddha) yang harus dimiliki oleh seorang buddhis. Salah satunya adalah keyakinan terhadap Hukum Karma. Semakin banyak orang menerima dan mempraktikkan Hukum Karma, semakin banyak orang berhenti mencari “kambing hitam” atas permasalahan atau hal buruk yang terjadi pada dirinya. Dengan memahami Hukum Karma, orang tidak menyalahkan orang atau makhluk lain, ataupun situasi dan kondisi atas segala hal buruk yang menimpa dirinya. Orang menjadi memahami dan menerima bahwa segala sesuatu yang terjadi pada dirinya adalah buah atau akibat dari karma yang pernah dia lakukan.
Seorang praktisi Hukum Karma akan lebih mudah menerima diri dan kehidupan ini apa adanya. Dia tidak menyalahkan orang lain mau pun situasi dan kondisi, pun tidak menyalahkan dirinya sendiri. Yang terpenting adalah dia bertekad untuk melakukan lebih banyak perbuatan baik dari sekarang dan ke depannya.
Penerimaan diri apa adanya berarti tidak protes dan komplain terhadap diri sendiri. Orang seperti ini akan terhindar dari “perang” dengan diri sendiri yang hanya menghabiskan waktu, pikiran, dan tenaga secara percuma. Praktisi Hukum Karma yang mampu melakukannya berarti sudah memiliki modal dasar untuk mempraktikkan metta lebih lanjut.
Praktik metta harus dilakukan secara bertahap. Untuk mampu mencintai orang atau makhluk lain, di tahap awal seseorang harus mampu mencintai dirinya terlebih dahulu. Dia harus berjuang mewujudkan kebahagiaan dirinya sendiri terlebih dahulu. Baru kemudian menginginkan orang atau makhluk lain juga berbahagia.
Oleh karenanya, untuk mampu memancarkan metta kepada orang atau makhluk lain, seseorang harus mampu mewujudkan metta kepada dirinya sendiri terlebih dahulu. Ini bukanlah bentuk egoisme. Egoisme merupakan tingkah laku yang didasarkan atas dorongan untuk keuntungan diri sendiri daripada untuk kesejahteraan orang lain. Metta berbeda dengan egoisme. Egoisme hanya untuk keuntungan diri sendiri sedang metta kepada diri sendiri merupakan dasar untuk pengembangan metta kepada orang atau makhluk lain.
2. Sering mengucapkan tiga kata ajaib (magic words)
Ada tiga kata yang disebut ”magic words’, yaitu “maaf”, “tolong”, dan “terima kasih”. Sering mempraktikkan dan terlatih mengucapkan ketiga kata ini secara tulus, tidak dibuat-buat, tidak berlebihan, akan membawa banyak perubahan positif di dalam dan di luar diri kita. Itulah kenapa ketiga kata ini disebut ajaib.
Perubahan positif yang bisa terjadi di dalam diri kita dengan rutin dan tulus mengucapkan ketiga kata ajaib ini adalah menjadikan diri lebih rendah hati. Kerendahan hati memungkinkan kita untuk membuka diri dan terus belajar, selalu waspada, dan selalu mencerap dari sekitar kita.
Perubahan positif yang bisa terjadi di luar diri kita dengan rutin dan tulus mengucapkan ketiga kata ajaib ini adalah penerimaan dan dukungan orang lain kepada kita akan bertambah. Orang akan menginginkan melihat keberhasilan kita dibanding kejatuhan kita.
Jangan lupa bahwa kita bisa seperti sekarang ini tidaklah lepas dari budi dan jasa banyak orang yang kita kenal mau pun tidak. Yang kita kenal seperti leluhur, orang tua, saudara, teman, dan lain-lain. Orang atau makhluk lain yang tidak kita kenal pun banyak yang berjasa kepada kita secara langsung maupun tidak langsung. Penjual pakaian yang kita kenakan belum tentu kita kenal apalagi penjahitnya, yang memproses kainnya, yang membuat benangnya, dan lain-lain. Mereka semuanya berjasa atas pakaian yang kita kenakan.
Kerendahan hati yang terbangun dari rutinnya kita mengucapkan ketiga kata ajaib tersebut secara tulus, memungkinkan kita mengembangkan metta secara tulus kepada orang atau makhluk lain baik yang dikenal mau pun tidak.
3. Sering mengingat bahwa semua ada pertalian karma
Kutipan Matta Sutta, Saṃyutta Nikāya (15.14) – Sutta Piṭaka, Buddha mengatakan, “…… Tidaklah mudah, para bhikkhu, menemukan makhluk yang dalam perjalanan panjang ini belum pernah menjadi ibumu sebelumnya ….. ayahmu ..… saudara laki-lakimu ….. saudara perempuanmu ..… putramu … putrimu .…..”. Dengan sering mengingat kata-kata Buddha ini, kita akan lebih mudah mengembangkan metta kepada orang atau makhluk lain daripada melakukan perbuatan tidak baik.
Pemahaman bahwa orang-orang yang berinteraksi dengan kita dalam kehidupan ini kemungkinan besar memiliki pertalian karma dengan kita dari kehidupan-kehidupan sebelumnya, bisa menjadi “rem” sekaligus “gas” bagi tindakan kita. Menjadi “rem” maksudnya adalah mampu mencegah kita dari perbuatan jahat kepada orang lain. Menjadi “gas” maksudnya adalah mampu mendorong kita untuk berbuat baik kepada orang lain meskipun tidak dikenal, salah satunya memancarkan metta.
4. Menyadari dan mempraktikkan “Prinsip Cermin”
Cermin normal akan menampilkan persis sesuai dengan yang ada di depannya. Prinsip Cermin ini berlaku pula dalam kehidupan kita walaupun tidak dengan cara yang persis sama.
Apa yang diri kita perbuat, buah atau akibat yang sesuailah akan kita terima kemudian. Apa yang kita inginkan orang lain lakukan kepada kita, seperti itulah yang perlu terlebih dahulu kita perbuat. Jika menginginkan lebih banyak kebaikan, kemurahan hati, dan metta dari orang lain, perbanyaklah terlebih dahulu melakukan hal-hal tersebut kepada orang atau makhluk lain.
Dengan sering mengingat “Prinsip Cermin” ini maka kita akan termotivasi untuk lebih sering mengembangkan metta yang tulus kepada semua makhluk.
5. Mengurangi kebencian
Sejalan dengan “Prinsip Cermin”, jika lebih banyak kebencian ada dalam pikiran kita, kebencian pulalah yang akan lebih banyak kita terima dari orang lain. Ilmu tentang pikiran menyatakan bahwa hanya ada satu bentuk pikiran dalam setiap waktu. Berubahnya bentuk-bentuk pikiran tersebut terjadi sangat cepat sehingga dalam waktu singkat sudah muncul tenggelam banyak sekali bentuk pikiran. Dengan mengurangi kebencian dalam pikiran kita, akan tersedia lebih banyak tempat bagi metta untuk muncul dalam pikiran kita.
Mengurangi kebencian akan lebih mudah dilakukan dengan lebih sering merenungkan tiga hal berikut.
Pertama adalah berpikir positif atas masalah atau perbuatan buruk yang diterima dari orang lain. Berarti karma buruk berkurang karena sudah ada yang berbuah. Alih-alih membalas orang yang telah menciptakan masalah atau berbuat buruk kepada kita, biarkan Hukum Karma mengatur buah atau akibat buruk yang sesuai kepada pelakunya.
Kedua bahwa kebencian itu menghancurkan diri sendiri dan orang lain. Ini ibarat korek api membakar korek-korek api lainnya. Kebencian baru tidak hanya mempertebal kebencian yang sudah ada di dalam diri kita tetapi juga memicu kebencian di dalam diri orang lain. Kebencian tidak hanya berefek buruk bagi diri sendiri, tetapi juga kepada orang lain.
Ketiga bahwa mengembangkan metta itu ibarat menyalakan lilin yang tidak hanya bisa menerangi diri sendiri, tetapi juga bisa menyalakan lilin-lilin lainnya. Praktik metta yang kita lakukan tidak hanya memperkuat metta yang sudah ada di dalam diri, tetapi juga bisa memantik metta dalam diri orang atau makhluk lain. Metta tidak hanya berdampak baik bagi diri sendiri, tetapi juga kepada orang atau makhluk lain.
Ingatlah bahwa kebencian membatasi, cinta kasih membebaskan. Kebencian mencekik, cinta kasih melepaskan. Kebencian menimbulkan penyesalan, cinta kasih menghasilkan kedamaian. Kebencian bersifat menghasut, cinta kasih bersifat menenteramkan, hening, dan menenangkan. Kebencian memecah belah, cinta kasih menyatukan. Kebencian mengeraskan, cinta kasih melembutkan. Kebencian menghalangi, cinta kasih menolong.

















