Top 10 Penulis

Cara Seorang Buddhis Mengembangkan SMOS Positif

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

person wearing orange and gray Nike shoes walking on gray concrete stairs
Photo by Bruno Nascimento

Pertama kali saya mendengar istilah “SMOS” adalah dari seorang anggota sangha senior bertahun-tahun yang lalu. SMOS yang dimaksud oleh beliau memiliki dua kepanjangan: “Susah Melihat Orang lain Senang” dan “Senang Melihat Orang lain Susah”. Awalnya saya hanya tertawa mendengar singkatan dengan kepanjangan yang sangat cerdas ini. Tetapi setelah saya renungi lebih lanjut, kedua kepanjangan tersebut sangatlah relevan dan menjadi fenomena nyata di mana-mana dalam masyarakat. Memang secara umum dua fenomena SMOS ini seringkali tidak terlihat kasat mata karena ada dalam hati dan pikiran manusia saja.

Bukanlah hal yang aneh bahwa ada orang yang merasa senang jika melihat orang lain mengalami kesusahan atau tertimpa masalah. Orang-orang seperti ini umumnya juga merasa susah jika melihat orang lain senang atau bahagia. Dua SMOS ini termasuk dalam kategori negatif.

Sebuah video yang pernah saya tonton menggambarkan SMOS negatif secara kocak. Orang-orang dalam video tersebut sibuk memperhatikan apa yang sudah dan belum dilakukan orang lain. Bahkan sibuk mengomentari orang lain. Alhasil ia sendiri lupa untuk memperhatikan apa yang sudah dan belum ia sendiri lakukan.

Suatu ketika ada dua orang laki-laki sedang berdiri di sebuah halte di pinggir jalan. Yang satu adalah bapak tua bertubuh kurus. Yang lainnya adalah anak muda berpostur gemuk. Keduanya sedang menunggu bus untuk menuju ke tempat masing-masing. Karena tidak saling mengenal maka keduanya menunggu tanpa saling bicara.

Tidak berapa lama mereka menunggu, tiba-tiba angin bertiup agak kencang. Tak disangka wig yang dipakai oleh si bapak tua untuk menutupi kepalanya yang botak, mulai terangkat ditiup angin. Refleks kedua tangan si bapak diangkat ke atas mencoba menahan wignya. Namun upayanya tidak berhasil karena wig sudah terlanjur terbang dari kepalanya. Kedua tangannya lalu mencoba menutupi kepalanya yang botak. Dia sangat malu karena ketahuan bahwa kepalanya botak.

Tiba-tiba terdengar tawa terbahak-bahak dari si anak muda di sebelahnya. Ternyata dia melihat keseluruhan kejadian yang menimpa si bapak tua dan dianggapnya sangat lucu. Kemudian si anak muda berjalan ke arah wig yang jatuh di atas tanah. Ia membungkuk untuk mengambil wig tersebut. Tiba-tiba terdengar suara “breeetttt” yang cukup keras. Ternyata celana bagian belakangnya robek lumayan lebar karena tidak mampu menahan tubuh belakangnya yang besar sewaktu mencoba membungkuk. Celana dalamnya menjadi kelihatan. Dia merasa sangat malu sehingga berupaya dengan kedua tangannya menutupi bagian celananya yang robek.

Sekarang giliran si bapak tua yang tertawa terbahak-bahak. Dia puaskan dirinya dengan tertawa sekerasnya untuk membalas kelakuan si anak muda yang mentertawakan kejadian terbangnya wig dia sebelumnya. Dia merasa senang karena ternyata bukan dia saja yang harus menanggung malu di hari itu.

Ternyata ada seorang pejalan kaki yang memperhatikan tingkah pola kedua orang tersebut. Dengan tersenyum geli sambil asyik memperhatikan keduanya, dia terus berjalan perlahan. Karena perhatiannya tidak diarahkan ke jalan yang sedang dilalui, dia lalu menabrak tiang listrik yang ada di pinggir jalan. Si bapak tua dan anak muda yang dikagetkan oleh kejadian tersebut sekarang keduanya serentak tertawa tergelak-gelak sambil menunjuk ke pejalan kaki itu. Sekarang keduanya merasa lebih ringan hatinya karena ternyata ada orang lain yang juga mengalami kesusahan di hari itu.

Dalam keseharian, tidak sedikit orang yang merasa senang melihat orang lain mengalami kesusahan. Apalagi bagi mereka yang juga sedang mengalami kesusahan. Mereka merasa senang karena ada orang lain juga yang kesusahan. Mereka merasa senang karena bukan hanya mereka saja yang mengalami kesusahan.

Tentu saja dalam praktiknya, kesenangan melihat orang lain mengalami kesusahan ini biasanya tidak diperlihatkan secara berterang seperti dalam kisah sebelumnya. Bahkan kadang-kadang mereka terlihat turut berempati terhadap orang lain yang kesusahan padahal di dalam hatinya belum tentu demikian. Hal ini lumrah ditemui di dalam masyarakat. Jangan-jangan kita pun juga berlaku demikian.

Orang yang senang melihat orang lain susah biasanya disebabkan oleh perasaan-perasaan negatif seperti serakah, benci, iri, dengki, dan takut kalah. Perasaan-perasaan negatif ini juga biasanya membuat orang tersebut susah melihat orang lain senang.

Padahal seharusnya yang seorang buddhis kembangkan dalam dirinya adalah kebalikan dari dua SMOS negatif, yakni dua SMOS positif: “Susah Melihat Orang lain Susah” dan “Senang Melihat Orang lain Senang”.

Kita pasti pernah mengalami dan merasakan kesusahan atau kesulitan dalam hidup ini. Setiap orang tidak terlepas dari kesusahan atau kesulitan. Pada waktu seorang buddhis melihat orang lain mengalami kesusahan atau kesulitan, dia perlu mengembangkan belas kasihan (karuna) yang tulus terhadapnya. Dia sebaiknya mendoakan semoga kesusahan atau kesulitannya segera berlalu atau teratasi. Dan semoga orang tersebut segera bisa berbahagia. Dengan melakukan SMOS positif yang pertama ini, dia sebenarnya mempersiapkan dirinya sendiri untuk menjadi lebih kuat dan tabah sewaktu dia mengalami kesusahan atau kesulitan nantinya.

Demikian juga kita pasti pernah merasakan kesenangan atau kebahagiaan dalam hidup ini. Setiap orang bahkan semua makhluk pasti menginginkan kesenangan atau kebahagiaan dalam kehidupannya. Pada waktu seorang buddhis melihat orang lain merasakan kesenangan atau kebahagiaan, dia perlu mengembangkan turut bergembira (mudita) yang tulus terhadapnya. Dia sebaiknya mendoakan semoga orang tersebut bisa mempertahankan kesenangan atau kebahagiaan yang sedang dirasakannya. Dengan melakukan SMOS positif yang kedua ini, dia sebenarnya juga mengundang kesenangan atau kebahagiaan untuk datang kepadanya.

Pilihan

Terpoler Minggu Ini

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

a close-up of a hand
Pernahkah Anda kenal dengan orang yang hanya mementingkan diri sendiri dan hidupnya benar-benar bahagia?
woman in white shirt wearing eyeglasses
Dia terlihat bingung untuk menyeberangi sungai di depannya yang airnya cukup tinggi dan deras.

Tulisan Terkait