Top 10 Penulis

Cara Sukses Seorang Buddhis Mengelola Galau

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

woman in gray turtleneck long sleeve shirt
Photo by Uday Mittal

Jika dibuat statistik, kemungkinan “galau” termasuk salah satu kata yang paling populer diucapkan terutama dalam pembicaraan tidak formal. Kata galau populer terutama di kalangan remaja dan anak muda.

Sebagian orang mencoba mendefinisikan kata galau dengan membuat kepanjangannya. Beberapa di antaranya yang cukup terkenal adalah “Gelisah Antara Lanjut Atau Udahan”, “Gue Akan Lakukan Apa pun Untukmu”, dan “God Always Listens And Understands”.

Definisi-definisi tersebut tidak menjelaskan makna galau yang sebenarnya. Namun bisa memberikan sedikit gambaran kondisi orang yang sedang dilanda galau.

Setelah membaca, mengerti, dan mempraktikkan tulisan ini, diharapkan seorang buddhis mengetahui kepanjangan galau yang lebih tepat, yakni “GAk LAh yaU”. Maksudnya adalah galau tidaklah menakutkan lagi karena sebenarnya bisa dikelola dengan baik.

Sesuai Bahasa Indonesia yang benar, galau adalah kondisi pikiran yang kacau, bingung, ruwet, semrawut, tidak mengerti apa yang mau dilakukan. Jadi galau berkenaan dengan kondisi pikiran seseorang.

Pikiran sangat penting dan menjadi awal dari perbuatan selanjutnya yang dilakukan oleh ucapan dan badan jasmani. Buddha sudah mengingatkan kita betapa pentingnya pikiran seperti tertera dalam kitab suci Dhammapada syair 1 dan 2 sebagai berikut:

“Segala perbuatan (buruk) didahului oleh pikiran, dipimpin oleh pikiran, dan dihasilkan oleh pikiran. Bila seseorang bicara atau berbuat dengan pikiran tidak suci, penderitaan pun akan mengikuti, seperti roda pedati mengikuti jejak kaki lembu yang menariknya.”

“Segala perbuatan (baik) didahului oleh pikiran, dipimpin oleh pikiran, dan dihasilkan oleh pikiran. Bila seseorang bicara atau berbuat dengan pikiran suci, kebahagiaan pun akan mengikuti, seperti bayang-bayang tak pernah meninggalkan dirinya.”

Oleh karenanya galau harus dikelola. Galau mungkin sulit dihilangkan sama sekali dari pikiran seseorang. Akan tetapi galau harus diminimalkan supaya hidup menjadi lebih tenang dan produktif.

Galau yang tidak terkelola dengan baik dapat menimbulkan lingkaran negatif. Orang yang pikirannya galau, suasana hatinya akan mudah menjadi buruk (bad mood). Dalam kondisi ini, fokus, gairah, dan kreativitas orang tersebut akan menurun. Hal ini berakibat apa-apa yang dikerjakannya menjadi buruk atau tidak maksimal. Alhasil, galau dalam pikirannya akan bertambah.

Galau yang semakin menguat ini akan membuat suasana hatinya bertambah buruk. Fokus, gairah, dan kreativitasnya menjadi semakin menurun. Apa-apa yang dikerjakannya menjadi semakin buruk. Alhasil, galaunya semakin parah. Lingkaran negatif ini dapat terus berputar menjadi semakin parah jika galau tidak dikelola dengan baik.

Jika galau dalam pikiran seseorang dapat dikelola dengan baik, suasana hatinya akan lebih mudah menjadi baik (good mood). Dalam kondisi ini, fokus, gairah, dan kreativitas orang tersebut akan dapat dipertahankan atau malah meningkat. Hal ini membuat apa-apa yang dikerjakannya menjadi lebih baik. Alhasil galau dalam pikirannya menjadi berkurang.

Selanjutnya, galau yang semakin berkurang ini akan membuat suasana hatinya bertambah baik. Fokus, gairah, dan kreativitasnya menjadi semakin meningkat. Apa-apa yang dikerjakannya menjadi semakin baik bahkan memuaskan. Alhasil, galaunya semakin mengecil. Lingkaran positif semacam inilah yang diharapkan dapat terjadi melalui pengelolaan galau yang baik.

Banyak sekali kejadian atau problematika dalam kehidupan yang bisa menjadi sumber galau. Sepanjang kehidupan, galau akan menjadi tamu rutin kita.

Bayangkan jika kita tidak punya obat untuk menyembuhkan galau yang sudah bersarang dalam diri kita. Kita juga tidak punya antibodi alias penangkal terhadap galau baru yang ingin menyerang diri kita. Betapa akan kacaunya kehidupan orang yang dilanda banyak galau.

Berikut adalah contoh galau yang menimpa pasangan suami istri yang memiliki seorang anak perempuan cantik. Mencari pasangan yang tepat bagi anak bisa menjadi sumber kegalauan bagi para orang tua.

Suatu ketika sepasang suami istri sedang dilanda galau. Sudah waktunya anak perempuan mereka yang cantik mendapatkan pasangan. Sebagaimana orang tua pada umumnya, mereka menginginkan pasangan terbaik untuk anaknya. Oleh karena itu, dibuatlah kriteria terbaik untuk mendapatkan pasangan terbaik bagi anak mereka. Kriteria tersebut singkat dan padat, yaitu “berwi-bawa” dan “berke-pribadi-an”.

Apa yang sebenarnya dimaksud? Ternyata yang dianggap memenuhi kriteria adalah yang “Wi….. bawa kunci kendaran dan STNK nya atas nama pribadi, alias punya sendiri bukan meminjam atau menyewa.” “Wi….. bawa kunci rumah dan sertifikatnya atas nama pribadi alias punya sendiri bukan menyewa atau menge-kos”. Yang dimaksud sebenarnya adalah suami istri tersebut mensyaratkan pendamping anaknya adalah orang kaya.

Beberapa ciri orang yang sedang galau adalah gairah, semangat, kreativitas menurun, pelupa, kurang fokus, bengong, mata kosong, sulit membuat keputusan (dan jika sudah membuat keputusan maka seringkali keputusannya salah), peragu, pendiam, gampang bingung, stres, susah tidur, hilang nafsu makan, mudah emosi, dan lain-lain.

Contoh penyebab SPESIFIK timbulnya galau adalah putus cinta, bertengkar dengan pacar atau pasangan, marah kepada diri sendiri atau orang lain, tidak cocok dengan orang lain, dimarahi atasan, kenaikan gaji atau bonus kecil, tidak bisa mengerjakan ulangan atau ujian, dan lain-lain. Penyebab spesifik galau bisa juga dari situasi atau kondisi yang kurang menyenangkan, misalnya berisik, pengap, panas, macet, antri, kotor, bau, dan lain-lain.

Ada pun penyebab munculnya galau secara UMUM adalah kondisi pikiran yang terlalu tegang atau kurang relaks, terlalu memanjakan panca indera untuk pemuasan nafsu indera, keinginan atau harapan berlebihan sedangkan kemampuan atau kenyataan tidak sesuai, selalu menyalahkan situasi, kondisi, dan orang lain (mencari “kambing hitam”), berkumpul dengan yang tidak disukai, berpisah dengan yang disukai, tidak berani menghadapi dan mengatasi masalah, tidak hidup dalam kekinian (saat ini), dan lain-lain.

Terdapat berbagai cara untuk mengatasi galau yang sesuai dengan ajaran Buddha, di antaranya: lebih sering bersyukur dan berterima kasih, mengelola keinginan dan harapan, berani menghadapi dan mengatasi masalah, mengurangi kecemasan dan ketakutan, mampu hidup dalam kekinian (saat ini), sering berlatih atau mempraktikkan meditasi, serta mempercayai dan yakin terhadap Hukum Karma.

Perbanyaklah syukur dan terima kasih, niscaya hidup kita akan lebih tenang dan damai. Galau akan enggan mampir di pikiran orang yang sering bersyukur dan berterima kasih. Untuk mampu bersyukur, lebih seringlah “melihat ke bawah”.

“Melihat ke bawah” berarti melihat orang-orang dengan kondisi yang lebih kekurangan atau lebih buruk dibanding kita. Entah mereka yang anggota badannya tidak lengkap alias cacat. Entah yang kondisi ekonominya lebih kekurangan daripada kita. Entah yang tidak bekerja di saat kita memiliki pekerjaan. Entah yang terpisah dengan keluarganya di saat kita bisa berkumpul dengan keluarga. Entah yang berjalan kaki di saat kita memiliki kendaraan. Daftar ini dapat dibuat lebih panjang lagi.

Kemana atau ke siapa saja kita bisa berterima kasih? Lihatlah ke sekeliling, ke semua arah maka kita akan menemukan orang atau tempat yang kita bisa panjatkan terima kasih. Pakaian yang kita kenakan meskipun kita beli, bukan berarti kita tidak perlu berterima kasih kepada penjualnya. Tanpa ada yang menjual, uang yang kita miliki menjadi percuma alias tidak ada gunanya.

Terima kasih tidak hanya kepada orang-orang yang kita kenal dan baik kepada kita. Terhadap orang yang tidak kita kenal maupun yang tidak baik kepada kita, terima kasih juga patut disampaikan. Walaupun ini mungkin tidak dilakukan secara langsung. Para penemu yang telah memudahkan kehidupan kita, orang yang membenci kita, dan lain-lain. Mereka semuanya telah berkontribusi membentuk diri kita yang sekarang.

Saat ini belum ada larangan untuk memiliki keinginan atau harapan. Yang muluk-muluk sekali pun silakan dikoleksi. Semakin tinggi keinginan atau harapan, jika tidak diimbangi kemampuan untuk mencapainya, bersiaplah gigit jari alias kecewa yang berujung kepada galau. Turunkan keinginan atau harapan, dan/atau menaikkan kemampuan diri. Niscaya jarak atau selisihnya menjadi lebih kecil (hanya akan ada sedikit keinginan atau harapan yang tidak tercapai). Galau pun akan menjadi lebih enggan berkunjung.

Masalah adalah teman kehidupan setiap manusia. Selagi manusia masih hidup maka masalah akan selalu datang. Dalam sebagian besar kasus, menyingkir atau menghindari masalah hanya akan membuat masalah bertambah besar. Prinsip dalam mengatasi masalah adalah jangan sampai membuat masalah baru alias jangan menutup lubang dengan menggali lubang yang baru.

Kenali risiko dari setiap masalah, identifikasi cara-cara untuk mengurangi risiko dari masalah, cari bantuan atau dukungan untuk mengatasi masalah, siapkan mental untuk menerima risiko terburuk dari masalah, selanjutnya hadapi dengan berani dan coba mengatasi masalah tersebut. Sekiranya risiko atau akibat dari masalah tetap terjadi, kita akan lebih sanggup menerimanya karena sudah mempersiapkan mental untuk itu.

Menurut penelitian, 90% atau bahkan mencapai 95% berbagai kecemasan dan ketakutan yang menerpa manusia akhirnya tidak terjadi atau tidak menjadi kenyataan. Artinya, hanya sekitar satu dari setiap 10 kecemasan dan ketakutan yang kita miliki betul-betul menjadi kenyataan. Satu yang terjadi itu pun seringkali tidak seburuk seperti yang dicemaskan atau ditakutkan sebelumnya.

Dengan demikian, memelihara ketakutan dan kecemasan berlebih ibarat menyiksa diri sendiri secara kejam. Banyak waktu, pikiran, dan tenaga kita arahkan kepada kecemasan dan ketakutan dalam pikiran. Kita menjadi kehilangan banyak kesempatan untuk melakukan hal-hal yang lebih produktif.

Kemampuan untuk hidup dalam kekinian bisa mengurangi galau yang mungkin datang menerpa. Khayalan yang muncul dengan mengingat masa lalu yang tidak bisa diulang kembali harus dikurangi. Demikian pula harapan berlebihan akan masa depan harus diturunkan. Keduanya membuat kita tidak memberikan perhatian dan kemampuan terbaik di setiap saat dalam menjalani kehidupan ini. Alhasil apa yang kita capai menjadi biasa-biasa saja atau di bawah standar. Galau pun lantas bertambah. Totalitas diri seharusnya diberikan ke setiap saat, dari waktu ke waktu. Inilah esensi hidup kekinian (saat ini).

Meditasi adalah salah satu ciri khas ajaran Buddha. Sayangnya, meditasi belum sepenuhnya mampu menjadi gaya hidup bagi sebagian besar buddhis. Padahal di luar sana, meditasi dengan berbagai kembangan dan modifikasi mulai populer dan dipelajari oleh semakin banyak orang. Jangan sampai kita mengagungkan ajaran agama sendiri tanpa berani menyentuh keagungan tersebut. Jangan sampai kita membanggakan meditasi sebagai ajaran Buddha tanpa kita mempraktikkannya.

Meditasi adalah pengelolaan pikiran. Dengan pikiran yang terkelola dengan baik, tentu saja galau tidak memiliki kesempatan dan ruang untuk berlabuh di pikiran kita.

Mempercayai dan meyakini Hukum Karma merupakan salah satu resep ampuh mengatasi galau. Pemahaman akan Hukum Karma membuat kita mampu menerima bahwa segala sesuatunya tidak terlepas dari karma yang pernah kita lakukan. Meskipun umumnya kita tidak memiliki kemampuan untuk mengingat semuanya yang sudah pernah kita lakukan.

Pemahaman akan Hukum Karma membuat kita tidak sibuk mencari “kambing hitam”. Maksudnya adalah menyalahkan orang, situasi, dan kondisi atas masalah dan/atau hal-hal buruk yang menimpa diri kita. Galau akan dapat dienyahkan jauh-jauh jika Hukum Karma dipegang teguh dalam pikiran kita.

Mudah-mudahan dengan mengetahui penyebab spesifik galau, penyebab umum galau, dan cara mengelola galau, bisa dipraktikkan seluas mungkin dalam kehidupan setiap buddhis. Pada akhirnya, galau sungguh-sungguh bisa dipanjangkan menjadi “GAk LAh yaU” bagi para buddhis. Galau tidaklah menakutkan lagi karena sebenarnya bisa dikelola dengan baik.

Pilihan

Terpoler Minggu Ini

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

Crop faceless young black male in casual outfit standing on city street and showing thumb up gesture
Efisiensi adalah melakukan sesuatu dengan benar; efektivitas adalah melakukan sesuatu yang benar. Peter Drucker
E-book ini berisi 48 petikan dialog antara Bhikkhu Nāgasena dengan Raja Milinda disertai dengan penjelasannya untuk meningkatkan kebijaksanaan.Raja Milinda melontarkan sejumlah pertanyaan mengenai filsafat, psikologi, meditasi, praktik spiritual, dan etika Buddhisme. Bhikkhu Nāgasena memberikan jawaban-jawaban yang logis, sistematis, dan mudah dipahami; seringkali dengan menggunakan perumpamaan-perumpamaan yang indah.

Tulisan Terkait