Top 10 Penulis

Catatan Kelam Negeri Para Suci

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

NEGERI YANG INDAH INI MENJADI KUSAM OLEH PERBUATAN PENGHUNINYA YANG LUPA DIRI HIDUP DALAM KESERAKAHAN DAN LUPA ATURAN. LUPA PADA KEMULIAAN  AJARAN PARA SUCI DAN HIDUP DALAM PENGERTIAN SENDIRI. 

Indonesia, sungguh nama sebuah negara yang indah. Dikenal juga sebagai negeri khatulistiwa dengan sejarahnya yang panjang nan menawan. 

Banyak raja arif bijaksana yang pernah berkuasa. Negeri kaya dengan segala potensi yang ada. Budayanya luar biasa unik dan beragam.

Dikenal juga dengan sembilan wali yang tersohor sebagai penyebar agama terbaik di bumi. Banyak pula para tokoh perjuangan yang penuh idealisme yang bisa menjadi teladan. 

Para leluhur yang memiliki budi pekerti tinggi. Ramah tamah dan memiliki banyak kearifan lokal yang membumi. Semua dapat menjadi pondisi. 

Agama-agama  terbaik yang diakui dunia berkumpul di negeri ini. Sesungguhnya Tuhan telah memberkati negeri ini dengan segala yang terbaik untuk dinikmati.  

Apa yang terjadi atas negeri ini?

Negeri yang indah yang pernah dihuni para suci, ramah tamah, gema ripah loh jinawi, telah mengubah diri. Menjadi negeri dengan berbagai julukan miring yang membuat sakit hati. 

Negeri yang lucu, negeri para bedebah, negeri dagelan, dan negeri para mafia atau negeri para calo. Tak ketinggalan negara sarang teroris dan terdepan urutannya dalam hal korupsi.

Miris dan menyakitkan, bukan?

Semua julukan ini lahir karena kelakuan para pemimpin dan penghuninya yang sudah tidak mengikuti aturan dan tata krama lagi. 

Aturan negara dan agama dengan mudah dan bahkan sengaja dilanggar. Hidup membelakangi nurani. Yang terjadi melakukan semua sendiri. 

Semua keluhuran budi dan ajaran para nabi, kebanyakan jadi teori. Santapan dan siraman rohani menguap begitu saja membumbung tinggi.

Begitu banyak catatan kelam yang bisa membuat kita tertawa dan geleng-geleng kepala. Antara heran, percaya, dan penuh tanya. Bertanya mengapa dan mengapa semua ini bisa terjadi di negeri tercinta.

Korupsi dipastikan menduduki urutan pertama, karena ada di mana-mana dan para oknum pejabat berlomba-lomba melakukannya. 

Dari tingkatan paling rendah sampai jajaran menteri. Padahal semua agama dengan tegas mengajarkan, bahwa mengambil sesuatu yang bukan miliknya adalah perbuatan mencuri dan itu dosa!

Namun,  di antara penduduk di negeri ini yang memiliki kesempatan korupsi rela menutup telinga dan menutup hatinya. 

Mumpung ada kesempatan, kapan bisa lagi, anggap saja ini rejeki. Mungkin kira-kira otak  dibisiki.

Tak heran, perbuatan korupsi seakan sudah menjadi budaya yang mungkin sebentar lagi dipatenkan menjadi milik bangsa ini. Ngeri. Tentu semoga tidak akan pernah terjadi. 

Berbuat korupsi  secara berjamaah dan penuh sukacita. Yang tidak mau melakukannya malahan disingkirkan dan dijadikan musuh bersama. 

Korupsi telah merajalela, menjalar menjadi penyakit kronis yang sangat sulit untuk disembuhkan. Menjelma bagaikan penyakit kanker stadium 4. Kemungkinan perlu diamputasi dan dilakukan operasi yang bisa merenggut nyawa.

Lucunya adalah semua pakar hukum tahu perbuatan korupsi itu sangat merugikan dan merusak tatanan kehidupan. Namun hukuman untuk para koruptor sangat ringan dan kemudian dengan hasil korupsi para koruptor dengan enteng merogoh koceknya untuk mendapatkan keringanan lagi. 

Karena para pakar hukum juga akan dengan sukarela membela, dengan nilai rupiah atau dolar dalam jumlah yang bisa untuk beli mobil mewah. 

Dengan alasan remisi ini remisi itu. Karena ini karena itu. Tak lama setelah menjalani hukuman sudah bisa berlenggak-lenggok pulang. 

Lantas mengadakan syukuran, seakan Tuhan merestui perbuatan korupsinya.

Sekarang justru para koruptor bak selebritas. Di sidang pun masih bisa senyum sana-sini. Berteriak lantang dizolimi atau sebagai korban. Tak ada penyesalan sedikit pun.

Tak sadarkah para koruptor yang hidup bergelimang harta dan kemewahan itu, bahwa apa yang mereka peroleh adalah dengan menyebabkan kemiskinan dan penderitaan sebagian besar rakyat?

Apakah tega menari-nari bersukacita di atas jerit tangis kemiskinan di negeri ini?

Mungkin saat ini kita tidak perlu bersedih lagi, karena tak akan mengubah apa-apa. Lebih baik tersenyum dan menghibur diri,  bersyukur tidak menjadi bagian para bedebah!

Indonesia, negeri tercinta kita ini adalah negeri yang sangat religius. Terdapat banyak pemuka dan sekolah agama. Tercatat paling banyak rumah ibadah dan setiap hari ada saja dibangun yang baru. 

Hal  ini seharusnya bisa membuat kita bangga dan menjadi negeri yang penuh berkat. Namun sayangnya, justru banyak bencana tiada henti menimpa.

Salah satu yang diduga sebagai biang keroknya adalah perbuatan maksiat yang ada di depan mata. Hampir di setiap wilayah ada tempat-tempat untuk bermesum ria.

Kemaksiatan menjamur dan sulit untuk dibendung. Walaupun dianggap salah, tetap saja dilindungi oleh para oknum. Karena semua ini berhubungan dengan lingkaran kemiskinan.

Negara bahkan seperti membiarkan sebagai pilihan daripada menjadi beban dan jadi pengangguran. 

Para pemuka agama yang seharusnya lebih berperan untuk turun membimbing umatnya, lebih asyik memilih berbicara di atas mimbar. Lebih tertarik menerima undangan-undangan berbicara yang ada bayarannya.

Yang lucunya adalah kaum agama sepertinya enggan bersentuhan langsung dengan para pelaku maksiat. 

Bukannya dijadikan kawan, tetapi justru memilih memusuhi. Tak heran semakin banyak yang siap melacurkan diri. Siapa yang peduli?

Yang tak kalah kelam adalah negeri yang penduduknya dikenal lemah lembut dan santun ini kini dikuasai para preman. 

Premanisme juga ada di mana-mana. Di pinggiran jalan sampai di istana. Mereka ini menguasai hampir setiap sendi-sendi kehidupan.

Bahkan preman lebih hebat daripada pejabat. Walaupun mereka bersalah, sulit dijangkau hukuman. Bisa tetap memegang peranan tak tergoyahkan.

Bahkan ada yang jadi status terdakwa pun masih bisa tetap mencalonkan menjadi pejabat. Bayangkan, penjahat saja nekad menjadi pejabat. 

Apa jadinya nanti, bila dengan kekuasaan dan uang akhirnya bisa menjadi pejabat?

Namanya negara hukum, tetapi entah hukum apa yang berlaku? Hukum hanya berlaku dan adil bila takada uang untuk menyogok para penegak hukum. 

Apabila ada uang yang siap ditabokkan, maka para penegak hukum takbisa berdiri tegak lagi. Semua bisa diatur di belakang layar asal ada uang.

Pasal-pasal hukum oleh  para pengacara dan penegak hukum untuk dijadikan perdebatan untuk menunjukkan siapa yang lebih pintar. Hanyalah sebuah dagelan saja.

Sungguh aneh memang negeri kini ini kaya raya dengan potensi alamnya, tetapi  rakyatnya masih banyak yang hidup dalam kemiskinan. 

Kekayaan alamnya yang semestinya untuk kesejahteraan rakyat, diangkut untuk mempertebal pundi-pundi segelintir pengusaha.

Terkenal dengan nama negeri agraria dengan sawah membentang luas. Negeri subur dengan tanah yang luas, tetapi  harus mengimpor jagung dan beras. Entah siapa yang harus disalahkan?!

Puluhan  tahun sudah merdeka, tetapi rakyatnya masih banyak yang belum merasakan arti kemerdekaan yang sesungguhnya. 

Sebaliknya masih serasa terjajah oleh ketakmampuan untuk menikmati kebebasan.

Masih banyak rakyatnya di pelosok yang tidak bisa bebas mendapatkan pendidikan, sehingga terbelakang dan buta huruf. Sulit mendapatkan akses pendidikan. 

Boro-boro memikirkan untuk menyekolahkan anak, untuk memikirkan makan apa hari ini masih susah!

Ini kenyataan, bukan mengada-ada. Siapa yang hendak membantah?

Namun, masih ada setitik terang saat ini dengan adanya pendidikan gratis oleh pemerintah. Tetap saja belum merata akses pendidikan menjangkau ke seluruh negeri secara merata.

Semoga habis gelap terbitlah terang bukan menjadi omong kosong bagi negeri tercinta. Akan ada indah pada waktunya pelangi hadir di atas negeri para suci ini.

Dengan segala kelebihan yang ada dan sejarah panjang yang gemilang. Sepantasnya negeri ini mencapai kejayaan. Penuh berkat dan sejahtera. Damai dan rakyat hidup makmur. Para pemimpin menjadi teladan. Keluarga hidup harmonis.

Negara yang berdasarkan Pancasila dan semboyan Bhineka Tunggal Ika serta manusia-manusia religius. Syair kebenaran yang tak henti dikumandangkan dan doa berkepanjangan. Tekun dan bergotong royong.

Sejatinya negeri kita akan mencapai keadaan yang sempurna sebagai sebuah negara. Melampaui negeri mana pun di dunia. Menjadi Garuda Emas yang mengangkasa mencengkram dunia. Menjadi contoh bagi negara lain.

Semua belum menjadi kenyataan. Jauh dari harapan. Bahkan negeri ini mengalami kekelaman dan mendekati berantakan. Berada di persimpangan jalan.

Segala kejahatan merajalela. Semua larangan agama diterjang  menjadi perilaku keseharian. Moralitas dan etika sekadar menjadi catatan masa lalu. Disepelekan dan menjadi olok+olok.

Budaya adiluhung nenek moyang hampir mencapai kepunahan, kitab suci menjadi pajangan, ajaran agama diperdagangkan, para pemimpin yang tidak bisa jadi teladan, dan rakyat kehilangan pegangan.

Apakah boleh dikatakan bahwa negeri ini telah gagal sebagai sebuah negara? Gagal menjadi tempat berlindung yang aman, nyaman, dan berpengharapan bagi raktyatnya. 

Gagal membuat rakyat hidup makmur dan sejahtera seperti yang dicita-cita dalam Undang-Undang Dasar 1945.

Apakah agama juga telah gagal melahirkan manusia-manusia Indonesia yang takut akan Tuhan dan berteguh dalam kebajikan?

Apakah agama gagal membuat insan-insan di negeri hidup untuk hidup sesuai nurani dan berperilaku layaknya sebagai manusia?

Terakhir, apakah orang-orang yang ada di negeri ini dengan segala kelebihannya telah gagal menjadi manusia, makhluk yang dimuliakan Tuhan?

Gagal menjadi manusia yang bisa dan sanggup membangun negerinya dengan segala potensi yang luar biasa.

Apakah manusia-manusia di negeri para suci ini telah gagal memahami ajaran agamanya, yang berakibat gagal menjadi manusia seutuhnya?

Habis gelap terbitlah terang. Ungkapan yang masih bergema dari seorang wanita luhur di negeri ini, Raden Ajeng Kartini.

Berharap catatan-catatan kelam yang ada dapat menyadarkan kita. Bahwa kekelaman jangan lagi terus berlanjut, sehingga menenggelamkan dan membuat kita kehilangan segalanya.

Semoga masa suram segera berganti cahaya yang menerangi langkah kita ke depan. Sebelum kegelapan datang membuat kita kehilangan langkah menuju masa depan yang cerah.

Berharap bangkit kesadaran di dalam setiap insan Indonesia dan bertindak sesuai kebenaran mengisi kehidupan ini. 

Semoga bukan mimpi.

Catatan: diolah kembali dari tulisan yang pernah tayang di Kompasiana.

Pilihan

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

Setiap pengalaman kita tidak lantas menggambarkan seluruh kebenaran tentang hal tersebut. Dengan kata lain, jangan mudah mengeneralisasi suatu kejadian.
Apakah agama juga telah gagal melahirkan manusia-manusia Indonesia yang takut akan Tuhan dan berteguh dalam kebajikan? Apakah agama gagal membuat insan-insan di negeri hidup untuk hidup sesuai nurani dan berperilaku layaknya sebagai manusia?

Tulisan Terkait