“Fear keeps us focused on the past or worried about the future. If we can acknowledge our fear, we can realize that right now we are okay. Right now, today, we are still alive, and our bodies are working marvelously. Our eyes can still see the beautiful sky. Our ears can still hear the voices of our loved ones.”
“Ketakutan membuat kita berfokus kepada masa lalu atau menguatirkan masa depan. Jika kita dapat mengakui ketakutan kita, kita dapat menyadari bahwa sekarang ini kita baik-baik saja. Sekarang ini, hari ini, kita masih hidup, dan tubuh kita bekerja dengan luar biasa. Mata kita masih bisa melihat langit yang indah. Telinga kita masih bisa mendengar suara-suara dari orang-orang yang kita cintai.”
~ Thich Nhat Hanh ~
Salah satu sifat manusia yang tergolong mulia adalah kesanggupan untuk memberikan yang terbaik atau berharga miliknya guna menolong orang lain yang membutuhkan. Contohnya adalah berdonor darah. Darah adalah komponen vital dalam diri seorang manusia. Orang yang kekurangan darah bisa mengalami kematian. Oleh karenanya seseorang yang rela mendonorkan darahnya secara tulus adalah orang yang mulia.
Namun banyak orang yang tidak berdonor darah meskipun secara medis sebenarnya memenuhi persyaratan dan mereka juga mengetahui bahwa berdonor darah adalah perbuatan mulia. Alasan terutama yang mereka utarakan adalah cemas dan takut untuk berdonor darah.
Kisah pengalaman nyata berikut diharapkan bisa menjadi referensi untuk menghadapi dan mengatasi kecemasan dan ketakutan dalam berdonor darah.
************
Ada perasaan malu setiap kali menceritakan pengalaman saya berdonor darah. Hal ini dikarenakan awalnya saya sangat cemas dan takut untuk melakukannya. Padahal saya tahu bahwa berdonor darah adalah perbuatan baik yang mulia.
Saya sangat takut disuntik. Banyak orang segendang sepenarian dengan saya alias sami mawon. Apalagi jika tahu bahwa dalam berdonor darah, jarum suntiknya lebih besar dari jarum suntik biasa dan tentu saja ditusukkan lebih lama di tangan.
Lama-kelamaan perasaan malu saya semakin kuat. Sudah tahu berdonor darah itu baik tetapi selalu cemas dan takut untuk melakukannya. Mulailah saya melakukan analisis terhadap diri sendiri dan situasi yang dihadapi.
Pertama, kondisi tubuh dan kesehatan saya sebenarnya mendukung. Tekanan darah umumnya normal, tidak ada penyakit berat, olahraga cukup rutin, dan selalu berupaya menyantap makanan dengan komposisi yang cukup seimbang. Jadi saya sangat memenuhi persyaratan untuk menjadi pendonor darah.
Kedua, saya mencari tahu apa risiko terburuk yang mungkin terjadi jika saya berdonor darah. Tentu saja tangan pasti terasa sakit sewaktu disuntik. Ada kemungkinan jatuh pingsan. Untungnya saya belum pernah menemukan informasi bahwa ada yang mati sewaktu atau setelah berdonor darah. Kenyataan ini cukup melegakan hati saya.
Ketiga, saya mengidentifikasi apakah ada cara-cara yang dapat mengurangi risiko yang mungkin terjadi dalam berdonor darah. Ternyata ada cara-caranya, di antaranya beristirahat yang cukup dan makan makanan bergizi terutama beberapa hari sebelumnya, makan yang cukup sebelum berdonor darah, mengikuti semua instruksi petugas donor darah, misalnya menarik nafas panjang sebelum jarum ditusukkan ke tangan, tidak langsung bangun dari pembaringan begitu selesai berdonor darah, menyampaikan apa yang dirasakan selesai pengambilan darah semisal pusing atau merasa ada yang tidak enak, bangun perlahan dari pembaringan, dan lain-lain.
Keempat, mencari dukungan dan pertolongan jika memungkinkan sebelum berdonor darah. Misalkan kita akan berdonor darah yang pertama kali. Ada baiknya mencari tahu terlebih dahulu hal-hal yang berkaitan dengan donor darah dari orang yang sudah biasa berdonor darah. Lalu dapatkan nasihat atau tips untuk bisa berdonor darah dengan sukses. Kemudian akan baik sekali jika orang tersebut bersedia mendampingi kita sewaktu berdonor darah yang pertama kalinya.
Kelima, menyiapkan diri terutama pikiran dan mental untuk bersedia menerima risiko terburuk sekalipun jika itu terjadi. ”Andaikan risiko terburuk terjadi, saya masih bisa menanggungnya. Toh, tidak sampai mati,” pikir saya.
Terakhir, hadapi dan atasi kecemasan dan ketakutan dengan mengambil tindakan nyata, yakni melakukan donor darah.
Awalnya, rasa takut dan cemas menyergap saya. Ternyata risiko terburuk tidak terjadi. Saya baik-baik saja melewati donor darah pertama saya. Pengalaman saya semakin bertambah setelah berdonor darah yang berikut-berikutnya. Alhasil, sekarang berdonor darah menjadi ritual rutin bagi saya setiap beberapa bulan sekali. Dengan mengatasi kecemasan dan ketakutan untuk berdonor darah, perbuatan baik yang mulia bisa saya lakukan.
************
Kecemasan dan ketakutan merupakan pikiran negatif yang sering menghinggapi manusia di zaman yang serba cepat dan menuntut dewasa ini. Keduanya adalah setali tiga uang, seia-sekata, dan biasanya muncul dalam bentuk berpasangan. Jika yang satu ada, yang lain ikutan hadir.
Biasanya kecemasan dan ketakutan tidaklah semenakutkan yang dibayangkan. Beranilah menghadapi dan mengatasi kecemasan dan ketakutan kita. Mulailah dengan menganalisis situasi dan kondisi yang ada, mengidentifikasi risiko terburuk yang mungkin terjadi, mengidentifikasi cara-cara untuk mengurangi risiko, mencari dukungan dan bantuan jika ada, menyiapkan pikiran dan mental untuk bersedia menerima risiko terburuk jika itu terjadi, dan terakhir hadapi dan atasi kecemasan dan ketakutan kita dengan mengambil tindakan nyata.
Niscaya dengan mempraktikkan langkah-langkah tersebut kita bisa menghadapi dan mengatasi berbagai kecemasan dan ketakutan dalam hidup ini. Kesuksesan dan kebahagiaan dalam kehidupan pun akan lebih mudah kita raih. Keberanian untuk menghadapi dan mengatasi kecemasan dan ketakutan sepanjang hidup kita akan membantu mengeluarkan diri kita yang terbaik, yakni mengeluarkan potensi, bakat, dan kemampuan terbaik dari dalam diri kita. Kesuksesan dan kebahagiaan yang lebih luas dalam kehidupan akan menjadi milik kita.
“Tanpa sadar sebenarnya kita adalah penyiksa diri yang paling kejam. Kita membebani diri dengan kecemasan dan ketakutan terhadap berbagai hal. Mengurangi kecemasan dan ketakutan berarti menambah kebahagiaan dalam kehidupan.”
(Diambil dari Buku “MotivAction – Motivation for Action”)

















