Bertahun-tahun saya menyimpan kecemasan dan ketakutan terhadap gelap. Saya sebenarnya tidak mau dan tidak suka jika orang tahu bahwa saya takut gelap, namun begitulah adanya. Jika orang melihat saya pasti tidak akan percaya bahwa saya takut gelap. Masa iya sih dengan gelap saja, takut?
Perasaan takut gelap ini sudah muncul sejak saya kecil dan sudah tertanam di dalam pikiran bawah sadar saya bahwa jika gelap pasti ada sesuatu yang lalu membuat saya menjadi takut.
Ahhh… saya ingat. Waktu kecil saya sering diajak nonton film seram, yang membuat saya takut. Karena berkali-kali terjadi, lalu terekam dalam pikiran bawah sadar saya bahwa dalam gelap ada sesuatu yang menyeramkan. Alhasil, gelap itu menakutkan saya.
Sebenarnya, apa yang saya takutkan terkait gelap itu belum tentu terjadi bahkan selama ini tidak pernah terjadi. Jika ditelaah lebih dalam, saya takut gelap itu karena dalam kondisi gelap bisa terjadi hal yang salah, misal salah melangkahkan kaki sehingga salah menginjak, menabrak barang hingga jatuh, dan lain-lain. Kecemasan dan ketakutan ini saya alami bertahun-tahun. Saya ingin sekali terbebas dari rasa cemas dan takut ini.
Suatu ketika saya mengikuti sebuah retret meditasi. Di tempat retret tentunya kalau malam hari pasti gelap. Hari pertama ketika acara retret sudah selesai pukul 22.00 waktu setempat, semua peserta masuk ke dalam kamar masing-masing. Saya pun masuk ke kamar sendiri dan sampai pagi saya tidak berani keluar kamar. Saya hanya berdiam diri dan tidak berani bergerak seperti patung. Cukup lama akhirnya saya tertidur juga.
Di waktu subuh karena harus bangun pukul 03.30 waktu setempat, tentunya hari masih gelap karena matahari belum terbit dan cahaya lampu yang ada sangat terbatas. Saya memberanikan diri membuka mata, lalu perlahan turun dari ranjang dan dengan penuh kesadaran saya melakukan aktivitas yang harus saya jalani, kemudian menuju tempat berkumpulnya para peserta retret.
Di hari-hari berikutnya saya terus berlatih dan melawan rasa cemas dan takut saya. Perlahan saya terus menyadari dan memberikan sinyal kepada diri saya bahwa sebenarnya tidak pernah terjadi apapun selama ini dalam kondisi gelap. Lama kelamaan secara perlahan rasa cemas dan takut saya berkurang. Sekarang saya sudah berani dan tidak takut lagi menghadapi gelap.
Ketika rasa cemas dan takut menghadapi gelap bisa saya atasi dan saya sudah tidak takut lagi, baru saya menyadari hal berharga yang patut saya syukuri, yakni keberanian untuk menghadapi dan menjalani kehidupan ini. Kehidupan saya menjadi lebih menyenangkan dan membahagiakan setelah berhasil melepas rasa cemas dan takut dari dalam diri saya.
Saya juga memiliki pengalaman lain berkaitan dengan kecemasan dan ketakutan. Ini berhubungan dengan donor darah. Saya dulu pernah berdonor darah. Di kemudian waktu, ketika saya mau berdonor darah kembali, kebetulan tekanan darah saya rendah (memang seringkali begini). Dokter yang memeriksa lalu melarang saya untuk berdonor darah saat itu dengan alasan tidak memenuhi syarat tekanan darah minimal.
Sayangnya pikiran saya merekam secara kuat dan yang direkam adalah yang keliru, yakni saya “dilarang” oleh dokter untuk berdonor darah karena tekanan darah saya rendah. Saya pun tidak melakukan pengecekan ulang di bulan berikutnya apakah saya sudah bisa berdonor darah atau tidak.
Pikiran salah saya terbentuk semakin kuat bahwa selamanya saya tidak usah berdonor darah lagi. Ditambah lagi suatu ketika saya bertemu dengan seorang teman lama di sebuah acara resepsi pernikahan. Kebetulan teman tersebut duduk di sebelah saya. Banyak hal yang kami saling ceritakan, mulai dari masalah sekolah anak, masak-memasak, dan lain-lain.
Salah satu yang sempat tanpa sengaja kami bicarakan adalah mengenai donor darah. Ternyata teman saya tersebut juga pernah mengalami pengalaman kurang mengenakkan sewaktu berdonor darah. Dia bercerita bahwa suatu hari dia berdonor darah dan ternyata tekanan darahnya rendah. Entah ada pertimbangan khusus dari dokter atau petugas saat itu sehingga dia diperbolehkan berdonor darah. Setelah mendonorkan darahnya, beberapa menit kemudian dia pusing dan jatuh pingsan.
Dia melanjutkan ceritanya bahwa seluruh badannya terasa dingin sebelum jatuh pingsan. Setelah itu dia tidak ingat lagi apa yang terjadi dan akhirnya ketika membuka mata saat sadar, dia sudah terbaring di rumah sakit. Kondisinya tidak terlalu baik. Setelah beberapa hari dirawat, dia diperbolehkan pulang namun dalam kondisi yang belum pulih. Di rumah, kondisinya juga masih lemah dan kondisi tersebut berlangsung dalam waktu yang cukup lama.
Kejadian yang dialami teman saya itu semakin memperkuat pikiran salah saya bahwa karena saya sering bertekanan darah rendah maka saya tidak boleh berdonor darah.
Sampai suatu hari ada teman saya yang rutin berdonor darah membagikan fotonya setelah selesai berdonor darah. Tiba-tiba muncul kesadaran baru dalam diri saya bahwa berdonor darah itu seharusnya tidaklah seperti yang saya cemaskan dan takutkan selama ini.
Sejak itu saya bertekad akan mencoba berdonor darah lagi dan kalau memungkinkan melakukannya secara rutin. Tentu syaratnya adalah saya harus bisa menjaga kesehatan supaya selalu prima dan tekanan darah saya memenuhi syarat. Saya menjadi bertambah semangat untuk rutin mengkonsumsi makanan yang sehat, berolahraga, dan tidur yang cukup supaya bisa rutin berdonor darah.
Cemas dan Takut? Tidaklah yauwww. Mari kita lebih sering berpikir positif dan membuang rasa cemas dan takut terhadap hal-hal yang belum tentu terjadi, bahkan mungkin tidak akan pernah terjadi. Mengapa kita harus memenjarakan pikiran kita dengan menyiksa diri dengan hal-hal yang tidak akan terjadi atau tidaklah semenakutkan seperti yang ada dalam pikiran kita?
Latihlah pikiran kita agar cemas dan takut tidaklah menjadi berlebihan. Cemas dan takut dalam kadar yang normal malah menyehatkan karena dapat berfungsi sebagai “rem” untuk refleksi diri, situasi, dan kondisi. Namun cemas dan takut berlebihan apalagi terhadap hal-hal yang belum tentu terjadi, hanya akan merugikan diri kita sendiri.
Buanglah pikiran negatif tentang kecemasan dan ketakutan berlebih. Gantilah dengan pikiran-pikiran positif karena dapat membawa kita kepada kehidupan yang lebih damai dan bahagia. Dengan bermodalkan kedamaian dan kebahagiaan, akan sangat membantu mengeluarkan diri kita yang terbaik, yakni mengeluarkan potensi, bakat, dan kemampuan terbaik dari dalam diri kita. Kesuksesan dan kebahagiaan yang lebih luas dalam kehidupan niscaya akan menjadi milik kita.
“Buanglah pikiran negatif tentang kecemasan dan ketakutan berlebih. Gantilah dengan pikiran-pikiran positif karena dapat membawa kepada kehidupan yang lebih damai dan bahagia.”
(Diambil dari Buku “MotivAction – Motivation for Action”)

















