Top 10 Penulis

Ceng Beng dan Agama Buddha

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

people, man, adult
Photo by skalekar1992

Setiap bulan 4 dan bulan 7, wihara-wihara menyelenggarakan ritual/upacara persembahan bagi leluhur. Bulan 4 ada Ceng Beng, bulan 7 ada Ulambana.  Dua ritual ini terkait dengan budaya Tionghoa dan tidak bertentangan dengan ajaran Buddha.  

Di Indonesia ada orang Tionghoa-Buddha, Jawa-Buddha, Lombok-Buddha, bahkan Tamil-Buddha yang mayoritas tinggal di kampung Madra kota Medan.  Perpaduan antara budaya dan agama Buddha menghasilkan berbagai praktik ritual dan upacara yang sejalan dengan agama Buddha.  Buddhis tetap dapat menjadi orang Tionghoa, Jawa, dan Tamil sekaligus menganut agama Buddha. Khusus untuk ritual di bulan 4 dan 7, Tionghoa-Buddhis tidak kehilangan akar budaya dan tradisi sekaligus mempraktikkan ajaran Buddha.

Di Indonesia, ada berbagai kelompok Buddhis yang berbeda nilai, aliran, organisasi, dan lain sebagainya. Meskipun demikian, dalam praktik persembahan kepada leluhur, semua kompak. Satu suara. Semua mendukung dan melaksanakan upacara pelimpahan jasa kepada leluhur. Tidak ada satu kelompok yang menyatakan itu salah dan melarang, kemudian yang lain membantah dan menyatakan boleh. Buddhis di Indonesia sepakat bahwa upacara/ritual pelimpahan jasa kepada leluhur sesuai dengan Buddha-Dharma. Nama upacaranya beda-beda, tetapi esensi dan tujuannya tetap sama.

Salah satu doa yang dibacakan saat upacara penghormatan kepada mendiang adalah Tirokutta Sutta. Teksnya sendiri cukup panjang. Salah satu syairnya mengingatkan kita untuk untuk mengenang, ingat, dan menghargai pemberian dari orang yang pernah dekat dengan kita. 

Ia telah banyak  memberi untuk saya
ia melakukan banyak hal untuk saya.
Mereka adalah para kerabat, sahabat, dan rekan saya.
Kepada para leluhur,
seseorang seharusnya memberikan persembahan untuk mengenang dan membalas jasa
yang telah ia  lakukan di masa lalu
—Tirokutta Sutta

Kita lahir ke dunia tanpa kemampuan untuk mampu hidup secara mandiri. Covey menyebutnya fase ketergantungan. Kita semua pernah menjadi bayi dan anak-anak yang tidak akan dapat bertahan hidup tanpa orang tua. Syukurlah, di fase itu ayah dan ibu  merawat, memberikan yang terbaik  meskipun mereka harus banyak berkorban. Orang tua rela melepaskan banyak hal demi  kebaikan, kebahagiaan, dan kenyamaan anak. Sangat menyedihkan, saat orang tua setelah meninggal, anak dilarang untuk melakukan persembahan, upacara, atau doa untuk mengenang jasa orang tua dan membalas budi mereka melalui persembahan jasa kebajikan.

Untungnya, di agama Buddha itu tidak terjadi.   Dari petikan sutta tadi, Buddha mengajarkan kita untuk ingat kepada jasa-jasa baik yang telah dilakukan, pemberian kebaikan, semua hal baik yang telah diberikan oleh orang-orang yang membantu kita sehingga kita mampu melanjutkan kehidupan sampai di titik ini.  Kepada para leluhur, seseorang seharusnya memberikan persembahan untuk mengenang dan membalas jasa yang telah ia lakukan di masa lalu.  Orang Buddha melakukan upacara penghormatan kepada leluhur karena Buddha mengajarkan bahwa  itu adalah sebuah cara bagi kita untuk mengenang dan membalas jasa-jasa mereka.

Selain mengenang jasa kebajikan, persembahan kepada leluhur dilakukan karena itu adalah salah satu dari lima kewajiban seorang anak dan merupakan salah satu persembahan seorang murid mulia.

Kewajiban kelima  seorang anak  adalah terus memberikan persembahan kepada leluhur

—Sigalovada Sutta

Salah satu persembahan dari
seorang murid mulia
yang mendapatkan penghasilan melalui
penghidupan benar
adalah  persembahan kepada leluhur

—Pattakamma Sutta (AN 4:61)/Adiya Sutta (AN 5:41),

Buddha mengajarkan bahwa kekayaan digunakan bukan hanya untuk kesenangan sendiri, melainkan juga untuk memberikan manfaat bagi yang lain. Harta yang telah berhasil dikumpulan dengan cara-cara yang bajik perlu dijaga dan dirawat agar kita mendapatkan manfaat yang melimpah.   Selain berderma ke wihara dan menyokong Sangha, melakukan persembahan kepada leluhur adalah salah satu praktik yang dianjurkan oleh Buddha.

Memberikan persembahan kepada leluhur biasanya dilakukan saat momen-momen tertentu. Ada peringatan 7 hari, 49 hari, 100 hari, 1 tahun, 3 tahun dan seterusnya, bergantung kepada budaya masing-masing. Selain itu, ada ulambana, patidana, ceng beng, dan cioko.  Meskipun namanya berbeda, intinya adalah tentang  melakukan pelimpahan jasa kepada leluhur.  Ini adalah praktik yang ada di budaya Tionghoa dan tidak bertentangan dengan agama Buddha.

Pilihan

Terpoler Minggu Ini

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

brown statue
Perilaku sombong merugikan karena umat tidak suka pandita yang sombong, dan tidak menghormati mereka. Kesombongan membangun tembok yang memisahkan pandita dengan umat sedangkan kerendahan hati adalah jembatan yang menghubungkan pandita dengan umat.

Tulisan Terkait