Antusiasme terhadap vaksinasi Covid-19 sungguh luar biasa. Orang bersedia antri berlama-lama untuk mendapatkan vaksinasi. Setelah itu ada yang dengan penuh semangat menulis di sosmed “telah di vaksin”. Semangatnya patut dipuji, hanya ada sedikit tidak cermat. Kata vaksin yang sebenarnya adalah kata benda bertambah makna menjadi juga kata kerja, oleh karena itu seharusnya ditulis “divaksin” dengan di tidak terpisah. Karena kalau terpisah maka awalan di menunjukkan tempat yaitu “berada pada vaksin”. Tapi syukurlah kan yang baca mengerti maksudnya.
Tidak hanya dalam penulisan tersebut ada ketidakcermatan berbahasa. Kadang kala ditemui tulisan doorprice, yang mestinya doorprize. Atau kata yang seharusnya ditulis deadline menjadi dateline, padahal kedua kata mempunyai arti yang sangat berbeda.
Dalam medsos Buddhis ada ditemui kalimat “ayo joint acara ini”. Maksudnya tentulah join yang merupakan kata kerja bermakna turut atau ikut. Lainnya adalah ketidakcermatan dalam menulis kata silahkan, yang seharusnya silakan (tanpa h) karena silakan merupakan bentuk baku.
Yang ini agak serius. Ada dijumpai tulisan BBU yang berarti Buddha Bless You. Ini tentu mengikuti ungkapan God Bless You. Dalam salah satu informasi di Google dinyatakan bahwa God Bless You – used especially when saying goodbye to someone or when someone sneezes. Oleh karena adalah tidak tepat apabila Buddha yang telah mencapai Parinibbāna lebih dari 2.500 tahun yang lalu dikaitkan dengan ‘blessing’ demikian.
Kalau ingin berpisah/pamitan atau menutup tulisan kiranya cukup dengan menuliskan Sukhī hotu – semoga anda bahagia – ingat penjelasan dari B. Thitayañño Mahāthera, sukhī adalah subyek tunggal yang tidak dapat diikuti kata hontu walaupun digunakan untuk menyapa lebih dari satu orang …….(tapi tidak untuk bersin…wkwkwk).
Ini lebih serius. Belum lama ini dijumpai tulisan YMB. Kesadaran mata akan tulisan itu berlanjut ke otak menjadi proses persepsi/pencerapan (saññā). Dicarilah dalam memori apakah ada tulisan itu. Ternyata tidak ada, maka sebagaimana juga komputer terjadi proses mencari yang ‘mirip’. Terasosiasi yang mirip adalah JMB yang biasanya ditulis JMB 8 atau Jalan Mulia Berunsur Delapan (kalau yang terlihat JKT barangkali asosiasinya JKT 48….). Selintas karena ada tulisan Y apakah mungkin nama Yayasan. Karena di belakang tulisan terdapat nama dan ada YM, maka asosiasi mendekat menjadi Yang Mulia Bhante. Setelah dikonfirmasi dengan seorang teman Buddhis dan melihat berita Buddhis di Google ternyata benar YMB merupakan singkatan dari Yang Mulia Bhante.
Grammatically “bhante” is a vocative case form of a Pāli word “bhadanta” (venerable, reverend). The vocative case denotes and is used for address. Jadi kata Bhante adalah sebutan penghormatan untuk menyapa seorang bhikkhu, tentu berarti terdapat kehadiran bhikkhu. Oleh karena itu secara kebahasaan adalah tidak cermat memakai kata bhante dalam tulisan karena kata bhante adalah untuk diucapkan. Dalam tulisan ditulis bhikkhu, misalnya bhikkhu …. mengunjungi vihāra ….., bukan bhante…. mengunjungi vihāra ……. Berbeda dengan kata bhante yang merupakan bentuk vokatif, kata bhikkhu adalah kata benda.
Demikian pula adalah tidak cermat memakai istilah Yang Mulia Bhante. Kata bhante umumnya diterjemahkan sebagai Venerable Sir yang di kamus Google diterjemahkan sebagai Yang Mulia. Lha bagaimana bisa menyapa dengan ‘Yang Mulia Yang Mulia’ atau ‘Yang Mulia kuadrat’? (dalam bahasa Inggris barangkali dapat disebut ‘exagerrated’, dalam bahasa gaul mungkin ‘lebay’). Sejatinya kata Yang Mulia adalah istilah ‘jadul’ yang pernah dipergunakan secara umum di Indonesia beberapa puluh tahun lalu. Ada kata Paduka Yang Mulia untuk presiden atau kepala negara, ada Yang Mulia untuk para menteri atau duta besar, ada juga Paduka Tuan untuk pejabat tinggi. Tetapi gelar-gelar itu dihapus melalui TAP MPRS No. 31/1966 karena mencerminkan feodalisme dan kolonialisme serta tidak egaliter. Penggantinya dengan sebutan Bapak/Ibu atau Saudara/Saudari.
Para bhikkhu sesungguhnya adalah petapa/samana yang hidup sederhana, mengembangkan kerendahan hati dan mengurangi rasa keakuan. Oleh karena itu tentu tidak merasa nyaman dengan sebutan yang berlebihan. Para bhikkhu akan merasa nyaman dengan sebutan bhante, karena kata bhante telah dipakai oleh para siswa dan umat Buddha untuk menyapa Sang Buddha. Kata bhante merupakan sebutan yang dapat dipakai secara global untuk para bhikkhu, walaupun di beberapa negeri Buddhis terdapat sebutan khusus seperti Phra di Thailand, Ashin di Myanmar dan Hamudru di Srilanka yang kesemuanya bermakna penghormatan.
Tulisan ini sekedar mengajak kita untuk cermat dalam berbahasa, karena bukankah ‘bahasa menunjukkan bangsa’? Bila kita kurang yakin akan istilah dalam bahasa asing, gunakanlah Bahasa Indonesia.

















