“I have always believed that raising kids means more than just being a good parent and trying to do the right things. It means surrounding your kids with amazing people who can bring science experiments and jam cookies, laughter and joy, and beautiful experiences into their lives.”
“Saya selalu percaya bahwa membesarkan anak lebih dari sekadar menjadi orang tua yang baik dan berusaha melakukan hal-hal yang benar. Itu berarti mempertemukan anak-anak Anda dengan orang-orang luar biasa yang dapat menghadirkan eksperimen ilmu pengetahuan dan kue selai, tawa dan kegembiraan, serta pengalaman indah ke dalam hidup mereka.”
~ Karina Yan Glaser ~
Sejak anak-anak kecil, kami selalu mencoba memasukkan pelajaran-pelajaran kehidupan melalui berbagai kejadian sehari-hari. Tentu saja teknik penyampaiannya seringkali kami lakukan tidak secara tradisional dengan menjejali mereka dengan berbagai nasihat. Kemampuan dalam mengemas berbagai nasihat sehingga menjadi tidak secara langsung disampaikan ke anak, menentukan penerimaan anak akan nasihat-nasihat tersebut.
Salah satu teknik yang cukup sering kami gunakan dalam menumbuhkembangkan anak adalah pembelajaran melalui pengalaman langsung (experiential learning), dengan cara menghubungkan kejadian sehari-hari, yang meskipun terlihat sederhana, namun seringkali mengandung pelajaran hidup yang dalam dan berharga. Salah satu teknik lebih detilnya disebut dengan FRAMING, yang artinya membingkai atau memfokuskan ke suatu kejadian, lalu mengambil inti dari kejadian tersebut sebagai pelajaran dalam menjalani kehidupan selanjutnya.
Suatu ketika kami se keluarga berlibur ke Hong Kong Disney Land (HKDL). Kami mendapat sebuah momen yang pas untuk menerapkan teknik experiential learning kepada anak-anak kami. Bermula dari celetukan anak terkecil kami yang baru berumur 12 tahun. Begitu kami melewati pintu masuk HKDL, dia berkata bahwa pemilik HKDL pasti kaya karena begitu banyak pengunjung yang datang. Dia bisa berasumsi demikian karena tahu bahwa harga tiket masuk HKDL tidaklah murah.
Komentar tersebut kembali diulangnya sewaktu kami makan siang dengan harga yang cukup mahal di HKDL. Momen yang pas ini tidak kami lewatkan. Kami lalu menjelaskan secara ringkas ke semua anak-anak bahwa sesuai prinsip dasar keuangan dan pengelolaan perusahaan, banyaknya jumlah pengunjung yang datang dan makan, tidak serta merta membuat pemilik HKDL kaya atau untungnya pasti besar. Hal ini dikarenakan pemasukannya harus dikurangi dulu dengan biaya rutin yang harus dikeluarkan. Juga harus memperhitungkan berbagai investasi yang sudah dilakukan. Hal-hal ini dipelajari secara akademik di mata ajaran akunting dan keuangan dasar.
Lebih lanjut kami tekankan juga bahwa diperlukan pengetahuan dan kemampuan dalam mengelola bisnis supaya bisa menarik banyak pelanggan (customer), mendapatkan untung (besar), dan membuat perusahaan bisa bertahan dalam jangka panjang. Ini adalah bidang “manajemen strategik” yang saya jalani secara profesional di berbagai perusahaan dan pelajari secara akademik. Memiliki perusahaan yang menguntungkan bukanlah hasil dari berdoa atau keberuntungan. Banyak hal tentang bisnis dan perusahaan yang harus dipelajari dan dikuasai lalu dipraktikkan dengan baik.
Kami akhiri dengan menasihati anak-anak agar mereka terus mempersiapkan diri secara keras dan disiplin untuk belajar, mencoba, berusaha, dan berjuang agar menjadi orang yang PINTAR (knowledgeable), BERSEMANGAT (enthusiastic), PANDAI (skillful), BERKARAKTER BAIK (having good characters and attitudes), dan MAMPU MEMBANGUN JARINGAN (building networks). Niscaya terbuka lebar kesempatan bagi mereka untuk menjadi orang kaya, sukses, dan bahagia dalam kehidupan ini.
Ingatlah wahai orang tua, kembangkan kreativitas dan kemampuan dalam membingkai (framing) berbagai kejadian yang dialami sehari-hari. Lalu sampaikan pelajaran berharga yang bisa ditarik dari kejadian-kejadian tersebut ke anak. Experiential learning seperti ini biasanya lebih mudah diterima oleh anak.
“Orang tua harus mengembangkan kreativitas dan kemampuan dalam membingkai (framing) berbagai kejadian sehari-hari. Lalu menyampaikan pelajaran berharga dari kejadian-kejadian tersebut ke anak disesuaikan dengan tahapan usia dan kemampuan anak. Experiential learning seperti ini biasanya lebih mudah diterima dan meresap dalam memori anak.”
(Diambil dari Buku “Parenting Tips”)

















