Top 10 Penulis

Dari Keheningan ke Harapan: Walk for Peace Menyentuh Hati Amerika

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

https://cathedral.org/calendar/a-sacred-stop-on-the-walk-for-peace/

Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul “Dari Keheningan ke Harapan: Walk for Peace Menyentuh Hati Amerika”, Klik untuk baca:
https://www.kompasiana.com/komjenrg6756/698e5efbed64150af238d223/dari-keheningan-ke-harapan-walk-for-peace-menyentuh-hati-amerika

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Tulis opini Anda seputar isu terkini di Kompasiana.com

Genaplah sudah perjalanan 19 Bhikkhu (Biksu) yang tergabung dalam napak tilas Walk For Peace (Jalan Kaki untuk Perdamaian). Pada 11 Februari 2026, mereka tiba di Washington DC, ibu kota Amerika Serikat sebagai tujuan akhir.

Perjalanan ini dimulai dari Fortworth, Texas pada 26 Oktober 2025 dengan menempuh jarak sekitar 3.700 kilometer, melewati 10 negara bagian, selama 108 hari. Selain 19 Bhikkhu mancanegara yang dipimpin oleh Bhante Pannakara, rombongan juga ditemani oleh seekor anjing jalanan dari India yang bernama Aloka. Aksi ini mempromosikan perdamaian, welas asih, dan non kekerasan melalui tradisi thudong (berjalan kaki). 

Dalam pengamatan saya melalui media sosial terkait perjalanan Thudong ini, saya melihat sambutan hangat yang terus mengalir di sepanjang perjalanan. Ramai warga setempat menyambut dengan suka cita, memberikan dana makanan, minuman, dan keperluan lainnya. Sebagian lagi menyambut dengan terharu, membentangkan poster perdamaian, dan berkata “ini yang kami tunggu-tunggu.”  

Hingga artikel ini ditulis, perjalanan Walk for Peace telah mencapai puncaknya dan ditutup dengan rangkaian kegiatan bermakna di Washington, D.C. Ribuan simpatisan hadir menemani para bhikkhu. Anggota Kongres di Capitol Hill menyambut mereka secara resmi, para pemuka lintas agama berkumpul bersama merayakan akhir perjalanan di National Cathedral. Dan, pada malam harinya, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi dan meditasi bersama di George Washington University sebagai penutup perjalanan damai tersebut.

Berawal dari perjalanan sunyi tanpa hiruk-pikuk promosi, kini mereka telah menghimpun hampir dua juta pengikut di media sosial dalam kurun waktu tiga bulan. Laksana angin yang menggerakkan awan, pesan yang mereka bawa menyebar cepat, menyejukkan, seperti hujan yang turun di tengah padang pasir yang kering.

Satu kata yang mereka gaungkan sederhana, tapi menggema luas: Peace – Kedamaian.

Sesederhana itu. Tanpa jargon politis, tanpa retorika yang membelah, tanpa pula seruan untuk berpindah keyakinan.

Damai, hanya kedamaian.

Lalu, mengapa gerakan ini dapat diterima dengan baik dan begitu cepat di Amerika Serikat. Saya merenung, mencoba menyimpulkan beberapa hal dari pengamatan selama kurang lebih dua bulan mengikuti perjalanan para Bhikkhu Thudong ini.

Pesan Perdamaian yang sederhana: 

Seiring perjalanan itu, Bhante Pannakara berulang kali mengingatkan bahwa perdamaian tidak pernah benar-benar lahir dari luar diri, melainkan tumbuh dari dalam batin masing-masing. Dunia boleh saja gaduh, tetapi jika hati tetap tenang, di situlah damai berakar.

Dalam berbagai kesempatan, ia juga mengajarkan satu kalimat sederhana namun sakral: “Today is my peaceful day” (Hari ini adalah hari yang damai). Kalimat itu dianjurkan untuk diucapkan perlahan, sembari menyadari aliran napas yang masuk dan keluar.

Sebuah praktik meditasi singkat, tanpa kerumitan, tapi mengena. Langsung menyentuh pusat diri: kesadaran.

Relevan dengan kondisi yang sedang terjadi di Amerika Serikat:

Amerika saat ini menghadapi tingginya ketegangan sosial dan polarisasi politik. Salah satunya adalah aksi “bersih-bersih” imigran yang dilakukan oleh pemerintahan Donald Trump. Dua kubu saling bersitegang, menyerupai kondisi saat terjadi perang saudara. Dengan demikian, pesan sederhana tentang kedamaian, kebaikan, dan kasih sayang terasa segar dan relevan bagi banyak orang yang merasa letih secara emosional dan sosial. 

Gerakan ini tidak memihak politik, tetapi menawarkan sesuatu yang jauh dari konflik. Sesuatu yang mungkin banyak orang rindukan saat ini. 

Gerakan Perdamaian

Gerakan perdamaian bukanlah hal baru bagi rakyat Amerika. Pada era Perang Vietnam, semangat serupa telah tumbuh secara masif. Jutaan orang turun ke jalan, mahasiswa menggelar demonstrasi di kampus-kampus, para musisi menyuarakan kritik lewat lagu, dan tokoh-tokoh publik menyerukan diakhirinya perang.

Gerakan tersebut menjadi salah satu momen penting dalam sejarah sosial Amerika. Menunjukkan bahwa di tengah kebijakan negara dan arus geopolitik, suara warga yang merindukan perdamaian tetap memiliki tempat. Tradisi menyuarakan damai itu seakan menjadi bagian dari memori kolektif bangsa: bahwa ketika konflik membesar, selalu ada kelompok yang memilih berdiri di sisi kemanusiaan dan ketenangan.

Namun, berbeda dengan gerakan-gerakan sebelumnya, Walk for Peace dilakukan dengan cara yang sangat sederhana: berjalan kaki dengan disiplin, penuh kerendahan hati, menunjukkan ketenangan, dan menghadirkan ritual yang benar-benar terasa damai. Aksi tulus ini mudah dipahami oleh masyarakat lintas latar belakang, tanpa membawa-bawa ajaran agama atau keyakinan tertentu. 

Pengaruh Media Sosial dan Narasi Visual

Meskipun tidak dimaksudkan untuk mencari sensasi, media sosial bekerja secara efektif. Foto, video, dan kisah-kisah di tengah perjalanan dengan cepat mengisi ruang maya tanpa batas. Momen-momen yang menyentuh hati saat mereka disambut hangat di berbagai kota, kesaksian-kesaksian dari warga yang berkesempatan bertemu langsung, hingga tak lupa juga peran si anjing pembawa perdamaian, Aloka yang seakan tahu bahwa ia adalah bagian dari agen perdamaian.   

Semua hal ini membuat pesan mereka terhubung secara emosional dan lebih menarik bagi audiens luas. 

Tradisi Religius yang Dihormati dan Bukan Provokatif

Walk for Peace merupakan bagian dari tradisi berjalan sebagai latihan spiritual yang sudah ada dalam Buddhisme Theravada. Ini menghadirkan aura meditatif dan kontemplatif yang banyak orang anggap sebagai pelipur di tengah kehidupan modern yang sibuk dan penuh tekanan. 

Terlebih lagi, dalam satu dekade terakhir, masyarakat dunia semakin akrab dengan konsep mindfulness, sebuah praktik kesadaran penuh yang menjadi cara untuk menenangkan diri di tengah kehidupan yang serba cepat dan penuh kegaduhan. 

Meskipun konsep ini awalnya diambil dari ajaran Buddha, masyarakat modern sering menerimanya dalam bentuk yang lebih sekuler, sebagai alat untuk mengurangi stres, meningkatkan fokus, dan menemukan ketenangan batin tanpa harus terikat pada ritual atau keyakinan tertentu.

Dengan kehadiran para Bhikkhu Thudong yang mendengungkan mindfulness, mereka bagaikan guru berpengalaman yang membimbing tanpa memaksa, memberikan contoh bahwa kedamaian sejati lahir dari kesadaran diri dan hidup sederhana.

Sambutan Komunitas Lokal dan Kerja Sama Antar Umat

Di sepanjang perjalanan, para Bhikkhu disambut oleh berbagai komunitas lintas latar belakang. Mereka diterima di tempat-tempat umum, seperti sekolah atau aula pertemuan, bahkan menginap di dalam gereja yang menyambut mereka dengan pelayanan penuh ketulusan. Mereka bahkan diizinkan untuk menjalankan ritual keagamaan dan menyampaikan pesan-pesan di hadapan para penganut agama lain.  

Visi Universal dan Tidak Eksklusif

Pesan Walk for Peace bersifat inklusif dan universal: kedamaian batin, kesadaran, belas kasih, serta hubungan baik dengan sesama. Ini tidak membutuhkan orang untuk mengubah keyakinannya agar bisa merasakan manfaat atau ikut mendukung. Karena itulah orang dari berbagai latar budaya dan agama bisa bersimpati dan meresponsnya secara positif. 

Akhir yang Reflektif

Perjalanan telah berakhir, tetapi perjalanan menuju kedamaian masih terus berlanjut. Demikianlah pesan Bhante Pannakara di akhir ucapannya.

Maka pertanyaannya kini bukan lagi tentang sejauh apa mereka telah melangkah, melainkan sejauh apa kita bersedia melangkah di dalam diri sendiri. Tiga ribu tujuh ratus kilometer mungkin terasa mustahil bagi banyak orang, tetapi satu langkah kecil untuk menahan amarah, satu tarikan napas untuk meredakan emosi, atau satu kalimat sederhana: “Today is my peaceful day” adalah perjalanan yang bisa dimulai hari ini.

Walk for Peace menunjukkan bahwa perubahan besar tidak selalu lahir dari pidato panjang atau kekuasaan politik. Ia bisa tumbuh dari keheningan, dari disiplin, dari ketulusan. Dari langkah-langkah yang konsisten dan hati yang jernih.

Di tengah dunia yang mudah terpecah oleh perbedaan, mungkin refleksi terpenting adalah ini: sudahkah kita menjadi ruang damai bagi orang-orang di sekitar kita? Sudahkah kita menghadirkan ketenangan, alih-alih menambah kegaduhan?

Perjalanan para bhikkhu itu mungkin telah selesai di Washington, D.C. Namun perjalanan kita untuk menjaga pikiran tetap jernih, hati tetap lembut, dan tindakan tetap penuh welas asih, sejujurnya …

Baru saja dimulai.

Referensi:

https://www.arahkita.com/global_harmony/108801_bhikku–anjing-jalanan–dan-ujian-kerukunan–kisah—-walk-for-peace—-di-amerika

https://www.wartasekolah.id/biksu-tempuh-km-as-walk-peace

Pilihan

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

Vibrant red traditional wedding scene with bride in veil and candles.
Perjodohan dan perkawinan bagi orang Tionghoa memiliki makna filosofis yang sangat dalam. Hal ini dipandang sebagai keselarasan dua prinsip alam semesta sebagaimana yang tertera pada konsep Yin-Yang.
gold and white religious print book on red textile
“Bagi-bagi angpao itu bawa hoki, lho. Ntar kamu pasti dapat lebih banyak.”

Tulisan Terkait