Tidak ada yang tahu dari mana kakek itu berasal.
Yang mereka tahu, ia datang dengan pakaian lusuh, langkah pelan, dan sebatang bambu muda di pundaknya. Daunnya masih hijau, seperti milik orang yang tidak terburu-buru ke mana-mana.
Si lintah darat melihatnya dari kejauhan dan langsung menghadang.
“Bayar kalau mau lewat.”
“Aku tidak punya uang.”
Pukulan pertama mendarat sebelum kalimat itu selesai menggema.
Kakek terhuyung. Beberapa warga mengintip dari balik pintu — lalu menutupnya kembali. Mereka sudah hafal caranya bertahan: diam, menunduk, tidak melihat.
Di tengah pukulan ketiga, kakek mengangkat tangan.
“Tunggu. Aku punya sesuatu yang nilainya lebih besar dari uang.”
Lintah darat berhenti. Keserakahan selalu lebih cepat dari amarah.
“Apa?”
Kakek menunjuk bambunya.
“Siapa pun yang menempelkan daunnya di dahi akan menjadi tidak terlihat.”
Satu detik keheningan. Lalu bambu itu berpindah tangan.
Kakek tidak mengejar. Ia hanya berdiri, mengusap sudut bibirnya yang berdarah, dan melirik sebentar ke arah pintu-pintu yang tertutup rapat di sepanjang jalan. Senyum kecil muncul di wajahnya, bukan senyum kemenangan, melainkan senyum seseorang yang tahu sebuah pelajaran baru saja mulai bekerja.
Malam itu, istri lintah darat menjawab pertanyaan yang sama sebelas kali.
Pada jawaban kedua belas, ia melambaikan tangan dengan kesal tanpa menoleh.
“Baiklah. Sekarang aku tidak bisa melihatmu. Puas?”
Suaminya tersenyum lebar.
Akal sehatnya menyerah kepada apa yang paling ingin ia percayai.
Di pasar, tidak ada yang menegurnya.
Bukan karena mereka tidak melihat. Mereka melihat dengan sangat jelas, tangan itu, wajah itu, arogansi yang sudah lama mereka kenal.
Tetapi rasa takut yang bertahun-tahun mengendap di dada lebih mudah membungkam mulut daripada kebenaran mana pun.
Dan diamnya mereka menjadi cermin yang memantulkan persis apa yang ingin dilihat lintah darat.
Hingga hari ketika rombongan pangeran melintas.
Tangannya baru saja menyentuh kantong emas ketika puluhan tangan mencengkeramnya ke tanah. Pedang-pedang terhunus. Ia membelalak.
“Mustahil. Aku tidak terlihat.”
Pangeran turun dari kuda, memandangnya lama.
“Kau selalu terlihat,” katanya akhirnya.
“Yang tidak pernah kau lihat adalah kenyataan. Orang-orang itu tidak takut karena kau kuat. Mereka hanya lelah berurusan denganmu.”
Kata-kata itu menghantam lebih keras dari pukulan mana pun.
Dalam perjalanan menuju ibu kota, rombongan melewati sebuah warung kecil.
Di sana, seorang kakek tua sedang menikmati teh bersama seorang sahabat.
“Bagaimana kabar lintah darat itu?” tanya sahabatnya.
Kakek menatap cangkirnya.
“Ia sedang belajar.”
“Belajar apa?”
“Bahwa keserakahan adalah guru yang mahal. Dan pelajaran termahalnya selalu datang paling akhir.”
Lintah darat menunduk.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, tidak ada kata-kata yang tersisa.
Bambu itu tidak pernah ajaib.
Yang ajaib adalah betapa mudahnya manusia mempercayai apa yang paling ingin ia percayai dan betapa mahal harga yang harus dibayar ketika kenyataan akhirnya menagih.
Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul “Kisah Daun Bambu Ajaib”

















