Top 10 Penulis

Dayaka Sabha, Kappiyakakara, Karaka Sabha

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

a group of people sitting on the floor
Photo by Norbu GYACHUNG

Beberapa puluh tahun lalu di kalangan umat Buddha kata dayaka sangat dikenal sebagai umat Buddha pria yang mendampingi dan melayani keperluan bhikkhu khususnya saat bhikkhu bepergian. Saat itu menjadi dayaka sangat disenangi karena dapat dekat dengan bhikkhu dan dapat membantu bhikkhu memenuhi keperluannya.

Kemudian disadari bahwa kata dayaka tidak tepat untuk maksud tersebut. Dayaka berarti penyokong, donor, pendukung, supporter, dalam hal ini kepada seorang bhikkhu, Sangha bahkan kepada Sang Buddha.

Dayaka mempersembahkan makanan, jubah, juga tempat tinggal. Pada jaman Sang Buddha dikenal ada dua orang penyokong utama yaitu Anathapindika dan Visakha. Mereka disebut sebagai Maha Dayaka dan Maha Dayika karena sokongannya yang luar biasa besar kepada Sang Buddha dan Sangha.

Kata yang lebih tepat adalah kappiyakaraka, ‘an attendant of a monk; one who provides appropriate things’, pengiring seorang bhikkhu, yang menyediakan apa-apa sesuai yang diperlukan.

Tugas utamanya adalah membantu para bhikkhu dalam berbagai tugas khususnya berkaitan dengan hal-hal yang tidak dibolehkan oleh Vinaya kepada bhikkhu misalnya menyimpan uang. Selain itu bisa juga membantu membawakan mangkuk bhikkhu saat pindapata dan mempersiapkan makanan untuk para bhikkhu.

Di Myanmar mereka kebanyakan anak muda pria yang tinggal di vihara. Di Thailand mereka juga kebanyakan anak muda pria yang berusia antara 10-15 tahun yang melakukan pembersihan vihara, mengantar atau menjemput barang-barang, dan mengurus lain-lainnya. Kadang-kadang disebut ‘temple boys’, yang sebagiannya kemudian ditahbiskan menjadi bhikkhu. Menjadi kappiyakaraka merupakan hal yang banyak dilakukan di sana, banyak politisi dan artis pernah bertugas demikian.

Kata dayaka kemudian dipergunakan  pada Surat Keputusan Bersama Sangha Theravada Indonesia dan Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia tentang pembentukan Dayaka Sabha Vihara pada tahun 1991 yang direvisi pada tahun 1996 dan ditandatangani oleh Sanghanayaka Sangha Theravada Indonesia yaitu Bhante Paññavaro dan Ketua Umum Pengurus Pusat Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia yaitu Herman S. Endro, S.H. (sekarang Bhante Jayamedho).

Surat Keputusan itu masih berlaku secara sah sampai dengan saat ini dan Dayaka Sabha Vihara sebagai nama untuk pengurus vihara dapat dijumpai di mana-mana di vihara binaan Sangha Theravada Indonesia seperti misalnya di Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya.

Barangkali karena ketidaktahuan akan adanya Surat Keputusan Bersama tentang Dayaka Sabha Vihara di atas, maka ada yang mempergunakan istilah Karaka Sabha Vihara.

Maksudnya ya sama saja  yaitu pengurus vihara, hanya jadi menimbulkan sedikit kebingungan karena ada dua istilah yang berbeda padahal sama-sama  vihara binaan Sangha Theravada Indonesia.

Tentu saja bagi yang mengetahui adanya Surat Keputusan Bersama tentang Dayaka Sabha Vihara tersebut tidak akan memakai istilah Karaka Sabha Vihara karena hal itu berarti tidak menghormat Bhante Paññavaro dan Bhante Jayamedho yang menandatangani Surat Keputusan Bersama itu……

Pilihan

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

hands, old, typing
Tidak hanya dalam penulisan tersebut ada ketidakcermatan berbahasa. Kadang kala ditemui tulisan doorprice, yang mestinya doorprize. Atau kata yang seharusnya ditulis deadline menjadi dateline, padahal kedua kata mempunyai arti yang sangat berbeda.
vesak, buddha, birth
Penanggalan Buddhis yang lunisolar menyebabkan bahwa hari Waisak yang umumnya jatuh pada bulan April atau Mei, kadang-kadang bisa jatuh pada awal Juni apabila terdapat bulan tambahan pada tahun tersebut. Cara penambahan lun atau adhikamasa dapat berbeda pula dalam tiap penanggalan.

Tulisan Terkait