Top 10 Penulis

Diksi

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

brown wooden blocks with numbers
Photo by Sven Brandsma

Seorang teman yang ahli bahasa menyampaikan bahwa kita perlu mempelajari makna diksi dalam membuat tulisan. Mereka yang memahami musik mendengar kata diksi tentu akan teringat kepada jenis musik Dixieland. Yang dimaksud dalam tulisan ini tentulah bukan soal musik tetapi diksi dalam bahasa yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pilihan kata yang tepat serta selaras dan bertujuan agar pembaca dapat memahami teks dalam tulisan. Diksi atau pilihan kata menjadi penting untuk menghindari terjadinya kesalahpahaman dan perbedaan persepsi atau pemikiran.

Satu contoh dalam kehidupan sehari-hari adalah pilihan kata yang berkaitan dengan kematian. Seseorang dapat menulis bahwa kucingnya mati karena tertabrak mobil. Tetapi tentu ia akan menulis bahwa ibunya meninggal dunia karena usia lanjut. Banyak kata dapat dipilih untuk makna meninggal dunia misalnya tutup usia, menghembuskan nafas yang terakhir, atau wafat (yang dulunya biasanya dipakai untuk raja atau orang besar ternama sekarang lazim dipakai untuk masyarakat biasa). Yang agak sendu tentulah menutup mata, karena terdapat dalam sebuah lagu ……”Tempat berlindung di hari tua……sampai akhir menutup mata…….”.

Ada juga yang memakai kata berpulang. Ungkapan berpulang biasanya tidak dipergunakan oleh umat Buddha karena dalam Agama Buddha meninggal bukan bermakna ‘pulang’ melainkan ‘pergi’ terlahir kembali di salah satu alam kehidupan (apabila belum mencapai tingkat kesucian Arahat). Orang yang tidak suka berbuat jahat dan suka berbuat bajik mungkin akan ‘pergi’ ke surga. Orang yang biasa-biasa saja, tidak jahat tetapi masih mempunyai banyak keinginan atau kemelekatan mungkin ’pergi’ ke alam peta. Orang yang jahat, suka menganiaya, bahkan membunuh kemungkinan besar akan ‘pergi’ ke alam neraka. Oleh karena itu, perlu dihindari pilihan kata atau istilah yang mungkin dapat menimbulkan kesalahpengertian karena mempunyai makna tertentu. Misalnya, umat Buddha menghindarkan pemakaian kata akherat atau sakratul maut yang mempunyai pengertian tertentu yang mungkin tidak sesuai dipergunakan dalam kaitan agama Buddha.

Teman yang ahli bahasa itu pun menyatakan ketidaksetujuannya atas pemakaian istilah Yang Mulia untuk para bhikkhu karena istilah itu sudah tidak dipakai lagi di Indonesia (yang sebetulnya merupakan sebutan gelar untuk para bangsawan dan pejabat tinggi). Maka dalam pertemuan KTT G-20 di Bali tentu boleh digunakan istilah Yang Mulia untuk para kepala negara atau kepala pemerintahan. Ada juga umat Buddha yang memakai frasa Buddha Bless You. Ini merupakan pilihan kata yang kurang tepat karena bagaimana mungkin Buddha Gotama yang telah wafat lebih dari 2.600 tahun yang lalu dapat memberi berkah? Ketimbang frasa tersebut mungkin lebih baik dipilih frasa Sukhī hotu yang berarti Semoga Anda Bahagia. Sukhī hotu merupakan salam umat Buddha yang sudah dikenal sejak lama dan bermakna luhur karena mendoakan kebahagiaan bagi yang dituju. Dapat dipakai pada saat bertemu atau berpisah. Boleh juga memakai frasa yang lebih baru yaitu Sotthi hotu yang berarti Semoga Anda Sejahtera. Sotthi sama dengan Suvatthi dari kata Su berarti baik dan Atthi berarti eksistensi atau keberadaan sehingga bermakna sejahtera. Sebagai catatan frasa ini sama dengan salam saudara-saudara umat Hindu yaitu Swastiastu (dari kata swasti and astu).

Sedikit mengherankan ketika membaca di sebuah medsos Buddhis, ada umat Buddha menuliskan ‘Amen’ (yang bermakna verily, truly, it is true, let it be so). Secara bahasa tidak salah, tetapi sebagai umat Buddha tentunya dapat memilih kata yang sudah dikenal dalam agama Buddha yaitu ‘Sādhu’ (yang bermakna excellent, very good, well done). Ada juga yang menuliskan ‘Puji syukur’ atas suatu keberuntungan. Ini juga agak mengherankan karena kalau dikaitkan dengan konsep Buddhis, kalau ada keberuntungan siapa yang akan dipuji? Bukankah itu buah dari kamma baik yang masak pada waktunya? Ada juga yang menulis “Semoga diberi ketabahan’, dalam konsep Buddhis ini sedikit membingungkan karena seolah-olah ada yang memberi ketabahan. Mungkin lebih tepat apabila dipilih frasa ‘semoga tabah dan kuat menghadapi apa yang terjadi’.

Akhir kata, teman ahli bahasa mengingatkan bahwa tidaklah tepat kalau saya memohon diri dengan menuliskan ‘Pembaca yang berbahagia’. Demikian juga, ketika memulai ceramah, tidaklah tepat jika penceramah menyapa audiensnya dengan ucapan “Hadirin yang Berbahagia” atau “Umat yang Berbahagia”. Karena katanya, siapa yang tahu apakah para pembaca atau audiens itu berbahagia atau tidak, mungkin saja ada yang sedang pusing memikirkan pekerjaan atau cicilan atau masalah lain….Jadi, pembaca yang saya hormati, perkenankan saya menutup tulisan ini dengan doa ‘Sukhī hotu’ – Semoga Anda Berbahagia… Nah, ini boleh dijawab dengan ‘Sādhu……’

Pilihan

Terpoler Minggu Ini

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

hands, old, typing
Tidak hanya dalam penulisan tersebut ada ketidakcermatan berbahasa. Kadang kala ditemui tulisan doorprice, yang mestinya doorprize. Atau kata yang seharusnya ditulis deadline menjadi dateline, padahal kedua kata mempunyai arti yang sangat berbeda.
vesak, buddha, birth
Penanggalan Buddhis yang lunisolar menyebabkan bahwa hari Waisak yang umumnya jatuh pada bulan April atau Mei, kadang-kadang bisa jatuh pada awal Juni apabila terdapat bulan tambahan pada tahun tersebut. Cara penambahan lun atau adhikamasa dapat berbeda pula dalam tiap penanggalan.

Tulisan Terkait