Top 10 Penulis

Diri Sendiri Sebagai Pencuri yang Teledor

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

man sitting on ground beside parked silver cruiser motorcycle
Photo by Harley-Davidson

Suatu ketika seorang sahabat lama mengunjungi kami di rumah. Saat ia datang berkunjung, ia nyaris tak punya harta apapun. Satu-satunya harta yang berharga hanyalah motor Harley Davidsonnya. Sahabat kami ini sangat bangga dengan motornya. Itulah motor yang ia dapatkan dengan menabung mati-matian, barang paling berharga, dan yang memberinya kebebasan karena ia cukup menaruh barang bawaannya dan pergi ke berbagai kota, lalu nantinya kembali ke kota asalnya. Ia adalah seseorang yang bebas, kecuali cintanya yang terikat kepada Harleynya.

Saya ingat ia pernah menulis surat kepada saya dan bercerita. Suatu ketika ia memarkir Harleynya di salah satu pusat perbelanjaan di sebuah kota besar karena ia hendak membeli beberapa barang. Ketika ia kembali ke tempat parkir, motornya telah hilang. Seseorang telah mencurinya! Motor tersebut adalah satu-satunya harta cukup berharga yang ia miliki. Ia mengatakan, ”Segala milikku, yang kucintai dan menyenangkanku, suatu hari akan terpisah dariku. Sekarang itu terjadi. Aku kehilangan Harleyku.” Ia lalu mengatakan bahwa ia kemudian hanya melepas saja. Entah kenapa ia merasa begitu damai, begitu bangga bahwa barang paling berharga dan paling ia sayangi itu bisa ia lepaskan. “Sungguh luar biasa aku bisa memilikimu Harley. Kita telah menjalani perjalanan indah bersama. Kuharap siapapun yang memilikimu sekarang bisa menjalani saat-saat yang benar-benar indah bersamamu. Pergilah! Aku melepasmu dengan ikhlas.”

Ia merasa begitu bebas, begitu damai. Ketika ia sedang memberi ucapan selamat kepada dirinya sendiri, pada saat itulah ia menyadari bahwa ia berada di lantai parkir kendaraan yang salah! Ia lalu turun ke lantai yang benar, dan Harleynya ternyata masih di sana, persis di tempat di mana ia telah memarkirnya! Jadi dia telah dua kali menang. Katanya kepada saya, “Ya! Aku lulus ujian dan masih memiliki Harley ini!”

Bagi Anda mungkin cerita ini tidak berarti apa-apa. Namun bagi sahabat saya, motor Harley itu adalah satu-satunya yang ia miliki. Bisa dibayangkan betapa melekatnya ia dengan motornya. Namun di saat ia mampu melepasnya dengan sungguh-sungguh, ternyata ketenangan dan kedamaianlah yang ia rasakan.

*********

Dari cerita tersebut, terbayangkah kita menjadi pencuri yang teledor? Ternyata pencurinya itu adalah diri kita sendiri. Seperti orang di dalam cerita tersebut yang menganggap bahwa Harleynya telah dicuri orang. Kenyataannya dialah yang telah mencuri Harleynya sendiri karena keteledoran dia, kesalahan dia mengingat di lantai mana Harleynya diparkir. Dia telah menganggap bahwa ada orang yang telah mencuri Harleynya.

Ketika ia sadar bahwa ia berada di lantai parkir kendaraan yang salah, ia mengerti bahwa ia telah teledor. Namun dengan keteledorannya, ia berhasil menang dua kali. Pertama dia telah belajar melepas dari kemelekatan terhadap Harleynya dan kedua ternyata ia masih memiliki Harleynya.

Pengalaman kelalaian yang membuat jantung berdetak sangat kencang ini menjadi pengalaman yang berharga bagi si pemilik Harley. Dengan menyadari bahwa kelalaian bisa mengakibatkan hal yang buruk maka ketelitian menjadi sangat penting. Dengan mengurangi keteledoran, kita akan menjadi diri yang lebih baik. Lakukan pengendalian diri dari hal-hal kecil dengan perasaan gembira dan bahagia. Jika praktik ini bisa rutin dilakukan, kita akan bisa mengeluarkan diri kita yang terbaik, yakni mengeluarkan potensi, bakat, dan kemampuan terbaik yang ada dalam diri kita. Kesuksesan dan kebahagiaan yang lebih luas dalam kehidupan niscaya akan menjadi milik kita.

“Lakukan pengendalian diri dari hal-hal kecil dengan perasaan gembira dan bahagia. Jika praktik ini bisa rutin dilakukan, kita akan bisa mengeluarkan diri kita yang terbaik, yakni mengeluarkan potensi, bakat, dan kemampuan terbaik yang ada dalam diri kita.”

(Diambil dari Buku “MotivAction – Motivation for Action”)

Pilihan

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

Red and white lighthouse with waves crashing against rocks under a stormy sky.
Suatu hari, teman sekelasnya mengancam dia agar tidak mengisi lembar ulangan dengan benar supaya temannya tersebut bisa mendapatkan nilai terbaik. Dia pulang ke rumah dengan menangis namun tidak berani menceritakan apa yang terjadi

Tulisan Terkait