Pernah satu waktu dahulu ada sedikit perbincangan, apakah dalam agama Buddha dikenal doa?
Bukankah umat Buddha tidak pernah meminta kepada Buddha ataupun Makhluk Agung? Bukankah dalam doa terdapat aspek ‘meminta’?
Bahkan ada tulisan yang menyatakan bahwa umat Buddha berdoa dengan cara melakukan banyak perbuatan baik dan menghindari kejahatan untuk kebahagiaan dan manfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain.
Tapi apa sebenarnya arti doa itu? Doa dalam bahasa Inggris adalah “pray” yang mempunyai beberapa arti, salah satu artinya adalah ’an earnest request or wish’ (sebuah permintaan atau keinginan yang sungguh-sungguh).
Beberapa waktu yang lalu Bhikkhu Paññavaro Mahāthera menyampaikan doa atau patthanā dalam acara ‘Pray From Home’ bersama Presiden dan para tokoh agama lainnya.
Kata Patthanā bermakna ‘aiming at, wish, desire, request, aspiration, solemn vow, prayer’, jadi adalah tepat bila dikatakan bahwa kata patthanā dalam bahasa Indonesia adalah doa. Namun perlu dibedakan dengan Paṭṭhāna yang merupakan salah satu dari tujuh kitab dalam Abhidhamma Pitaka.
Salah satu cerita berkaitan dengan patthanā yang terkenal adalah doa Sujata di kaki pohon Banyan yang berharap untuk memperoleh seorang putra. Doa demikian disebut sebagai doa yang mulia, di sisi lain terdapat pula doa yang tidak mulia (hīna patthanā).
Ada cerita, terdapat dua orang petapa yang hidup bersama-sama melatih pertapaan keras. Salah satu pertapa meninggalkan kehidupan petapa dan menikah. Setelah putranya lahir, ia sekeluarga mengunjungi petapa temannya itu dan memberi hormat. Kepada mereka petapa itu berkata, “Semoga kalian panjang umur.”
Namun tidak berkata apa-apa kepada anak itu. Mereka heran dan bertanya kepada petapa itu. Petapa itu memberitahukan bahwa anak itu hanya akan hidup tujuh hari lagi, dan ia tidak tahu cara untuk mencegah kematiannya, namun Gotama Buddha mungkin tahu caranya.
Maka mereka membawa anaknya kepada Sang Buddha. Pada saat mereka bersujud, Sang Buddha berkata kepada mereka, “Semoga kalian panjang umur,” dan tidak berkata demikian kepada anak mereka.
Sang Buddha memberitahukan tentang kematian anak mereka. Untuk menghindari kematian, mereka dianjurkan untuk membangun sebuah paviliun di dekat pintu masuk rumah mereka, dan meletakkan anak mereka pada sebuah tempat duduk di dalam paviliun itu. Kemudian beberapa bhikkhu dikirim untuk membaca paritta selama 7 hari.
Pada hari ketujuh Sang Buddha datang ke paviliun itu. Para dewa yang ada di alam semesta ini juga datang. Saat itu raksasa Avaruddhaka berada di sana untuk membawa pergi anak itu.
Namun kekuatan para dewa melebihinya, sehingga raksasa itu harus mundur dan akhirnya berdiri di tempat yang berjarak 2 yojana (30 km) dari anak itu.
Selama semalaman pembacaan paritta tetap berlangsung sehingga melindungi anak itu dari kematian. Hari berikutnya, anak itu dibawa keluar dari paviliun dan bersujud menghormati Sang Buddha.
Kali ini kepada anak itu Sang Buddha berkata, “Semoga engkau panjang umur.”
Ucapan ‘Semoga Engkau Panjang Umur’ tentulah merupakan suatu bentuk doa. Dalam kehidupan beragama doa adalah suatu hal yang tidak terpisahkan. Pada saat upacara perkawinan secara agama Buddha, ketika memercikkan air pemberkahan kepada mempelai pandita membacakan doa:
Sabbītiyo vivajjantu
Sabba-rogo vinassatu
Mā te bhavatvantarāyo
Sukhī dīghāyuko bhava
Semoga terhindar dari semua kesusahan.
Semoga terbebas dari semua penyakit.
Semoga terlepas dari semua halangan.
Semoga panjang umur dan bahagia.
Doa yang sedikit panjang tapi mencakup hampir semua aspek kehidupan. Demikian pula orangtua atau wali serta undangan akan pula mengucapkan doa kepada kedua mempelai mengharapkan agar kedua mempelai dapat membentuk keluarga bahagia dan sejahtera .
Doa tidak terlepas pula terkait dengan meninggalnya seseorang. Satu frasa yang sering digunakan adalah RIP – Rest in Peace (beristirahat dalam damai) yang berasal dari bahasa Latin ‘requiescat in pace’. Dikenal luas dan banyak dipakai terlepas dari keyakinan seseorang.
Umat Buddha tentu tidak memakai istilah ini karena tidak sesuai dengan konsep agama Buddha tentang kematian yang menyatakan bahwa seseorang yang meninggal akan terlahir kembali sesuai dengan karmanya.
Ada satu ketika seorang terkemuka dunia non Buddhis meninggal dunia. Menjadi sedikit perbincangan, bagaimana menyampaikan ucapan yang sesuai berkaitan dengan hal itu? Akhirnya disepakati ungkapan ‘May he attains Eternal Bliss’ – Semoga ia mencapai Kebahagiaan Abadi. Semoga ungkapan tersebut dapat diterima dengan baik oleh pihak keluarga yang ditinggalkan.
Di satu sisi Kebahagiaan Abadi dalam agama Buddha merujuk pada Nibbana yang tanpa awal tanpa akhir, di sisi lain dapat diterima sebagai Kebahagiaan Abadi sesuai dengan keyakinan masing-masing.
Ada hal yang menarik, di Sri Lanka ada umat non Buddhist yang mengganti RIP saat pemakaman dengan kata-kata ‘svargē sāpa labēva’ – ‘May he attains the bliss of Heaven’.
Berkaitan dengan kematian umat Buddha menyampaikan ungkapan ‘Sabbe Saṅkhārā Aniccā’, mengingatkan bahwa segala yang tercipta tidaklah kekal. Kepada yang meninggal didoakan semoga terlahir kembali di alam bahagia – ‘Sugating Upapajjatu’.
Kepada keluarga yang meninggal dapat disampaikan ucapan Turut Berkabung sebagai tanda simpati atas wafatnya anggota keluarga mereka. Ada juga yang menyampaikan Turut Berduka Cita tetapi ucapan ini dianggap kurang sesuai karena seyogyanya rasa duka sebagai akusala citta tidak dikembangkan.
Ada yang menyampaikan Turut Bersamvega Citta, tetapi inipun agaknya kurang pas karena sejatinya samvegacitta timbul secara spontan dalam diri seseorang, tidak ‘turut’ keluarga yang ditinggalkan bersamvegacitta. Belum tentu pula dalam batin keluarga yang ditinggalkan timbul samvega.
Samvega adalah ‘The oppressive sense of shock, dismay, and alienation that come with realizing the futility and meaninglessness of life as it’s normally lived; a chastening sense of our own complacency and foolishness in having let ourselves live so blindly; and an anxious sense of urgency in trying to find a way out of the meaningless cycle.’
Banyak yang tidak memahami makna sesungguhnya dari Samvega sehingga menganggap Turut Bersamvegacitta adalah pengganti frasa Turut Berduka Cita.
Telah diteliti bahwa berdoa merupakan suatu hal yang dapat berefek positif pada kesehatan mental. Dengan berdoa maka seseorang dapat mengurangi kecemasan dan stress, yang pada gilirannya akan mempengaruhi fisiologi tubuh sehingga dapat meningkatkan kesehatan fisik. Ini tentu berlaku untuk doa dengan tujuan yang baik dan luhur, tidak untuk doa yang bertujuan tidak mulia (hina patthanā).
Adalah benar bahwa dalam agama Buddha doa tidak untuk meminta. Menyadari hukum karma, tidak ada umat Buddha berdoa kepada Buddha atau Mahkluk Agung agar diberi rezeki atau tidak juga berdoa agar Buddha atau Makhluk Agung memberi mukzizat pada dirinya.
Sebaliknya umat Buddha banyak berdoa untuk kebahagiaan dan kesejahteraan di luar dirinya. Dalam setiap puja bakti umat Buddha membacakan sebuah pathanā yang merupakan ‘a universal blessing for quality of life’ :
Devo vassatu kālena,
Sassa sampatti hotu ca,
Phīto bhavatu loko ca,
Rājā bhavatu dhammiko
Semoga hujan turun pada waktunya
Semoga hasil panen berlimpah
Semoga dunia makmur
Semoga raja/pemerintah bertindak benar
Dalam setiap puja bakti umat Buddha mendoakan pula kebahagiaan semua makhluk hidup – Sabbe Sattā Bhavantu Sukhitattā. Saat bertemu atau berpisah menyampaikan doa kebahagiaan dengan mengucapkan Sukhī hotu. Atau doa kesejahteraan dengan mengucapkan Sotthi hotu.
Mendoakan kesuksesan dengan mengucapkan Sampatti hotu. Dalam keadaan sekarang ini dengan banyak penyakit dan masalah, baiklah tulisan ini ditutup dengan doa atau patthanā seperti tertera di atas:
Sabbītiyo vivajjantu
Sabba-rogo vinassatu
Mā te bhavatvantarāyo
Sukhī dīghāyuko bhava
Semoga terhindar dari semua kesusahan.
Semoga terbebas dari semua penyakit.
Semoga terlepas dari semua halangan.
Semoga panjang umur dan bahagia….

















