Kata dukacita merupakan kata yang sangat dikenal, berasal dari Bahasa Pali/Sansekerta. Kata duka dari dukkha yang berarti susah atau menderita, kata cita dari citta yang berarti kesadaran (consciousness).
Kata berdukacita umumnya dipakai untuk menyatakan kondisi batin seseorang yang ditinggalkan oleh anggota keluarganya. Kepada orang yang berdukacita terdapat ungkapan untuk menyatakan simpati, dalam Bahasa Inggris disebut condolence (berasal dari kata condole yang berarti to suffer together). Dalam Bahasa Indonesia terdapat beberapa ungkapan bermakna condolence:
• Pertama, “Turut berdukacita atas wafatnya …….”
• Kedua, “Turut berbelasungkawa atas wafatnya ……” Kata belasungkawa berasal dari kata bela yang berarti turut atau ikut dan kata sungkawa yang berarti sedih (dalam kamus bermakna pernyataan turut berdukacita).
• Ketiga, “Turut berkabung atas wafatnya …….” Ada dua arti berkabung, yang pertama berarti berdukacita karena ada yang meninggal, yang kedua berarti memakai kabung (sebagai tanda berdukacita karena ada keluarga yang meninggal). Dikenal adanya masa berkabung bagi perorangan karena kematian anggota keluarganya. Juga ada hari berkabung nasional yaitu hari yang ditandai dengan kegiatan berduka dan peringatan yang dilaksanakan oleh suatu negara untuk menandai kematian atau pemakaman seorang figur terhormat dari negara tersebut, atau memperingati tragedi besar lainya yang signifikansinya berpengaruh terhadap negara.
Bagaimana umat Buddha menyatakan condolence? Dulu dipakai istilah umum yaitu turut berdukacita. Namun kemudian ungkapan ini tidak lagi dianjurkan karena “dukkha citta” merupakan kesadaran yang seyogianya tidak dikembangkan atau dilekati. Saat ini ada pemakaian istilah “Turut bersamvegacitta atas wafatnya…….”. Apa yang dimaksud dengan samvega?
Samvega berasal dari kata sam yang berarti dengan atau bersama, dan vega yang berarti kekuatan, gelombang, agitasi, kecemasan. Bermakna perasaan syok, kecemasan, kemendesakan batin untuk mencapai pembebasan dan terlepas dari samsara. Samvega inilah yang membuat keterguncangan batin yang sedemikian kuat sehingga Pangeran Siddhattha melepaskan kerajaan dan keluarganya untuk mencari pembebasan dari usia tua, sakit dan kematian. Samvega yang kuat dalam diri umat Buddha akan membuatnya melepaskan kehidupan keduniawian, setidaknya menjadi menjalani kehidupan Dhamma yang sangat bersungguh-sungguh untuk mencapai kemajuan batin menuju akhir derita.
Ada delapan landasan samvega yaitu kelahiran, usia tua, sakit, kematian, penderitaan dalam alam menyedihkan, lingkaran penderitaan yang berakar pada masa lampau, lingkaran penderitaan yang berakar pada masa mendatang, lingkaran penderitaan dalam mencari pangan pada masa sekarang. Samvega dapat pula timbul karena rasa kemendesakan bahwa kematian mengancam dari segala sisi, bahwa karena di masa depan keadaan untuk berlatih religiusitas tidak akan pernah sebagus ini lagi, bahwa mungkin tidak ada lagi guru religius yang baik dan mampu membimbing, bahwa Sangha sebagai panutan berlatih akan menurun.
Selain itu terdapat empat obyek yang dapat menimbulkan samvega yaitu tempat kelahiran (Taman Lumbini), tempat pencapaian Penerangan Sempurna (Buddha Gaya), tempat Khotbah Pertama (Taman Rusa Isipatana), tempat Parinibbana (Kusinara). Untuk menumbuhkan samvega dalam diri, Buddhaghosa menganjurkan untuk melakukan meditasi dengan obyek kematian (maranasati). Samvega sangat penting untuk ditumbuhkan dalam diri karena meskipun merupakan pengalaman yang ‘mengganggu’ tapi akan mengakibatkan perubahan bermakna dalam tingkah laku yang membuat seseorang lebih bersungguh-sungguh dalam melepaskan diri dari derita dan mencapai Pembebasan.
Dari uraian di atas jelas bahwa samvega adalah kondisi ‘keterguncangan batin’ kuat yang memberikan perubahan bermakna dalam perilaku Dhamma seseorang. Oleh karena itu apabila dalam batin keluarga yang kematian anggota keluarga tidak timbul keterguncangan batin sedemikian, maka ungkapan Turut bersamvegacitta adalah tidak tepat karena ‘turut’ siapa? Apalagi yang menyampaikan ucapan itu juga tidak merasakan keterguncangan batin demikian, hanya sekedar menuliskan saja (‘lip service’).
Ada teman bertanya kepada seseorang mengapa memakai samvega citta, dijawab – maaf semua sekarang sudah pakai Pali Samvega citta. Jadi ingat ajaran Sang Buddha: “Jangan menuruti tradisi lisan, ajaran turun-temurun, kabar angin, kumpulan teks, logika, penalaran, pertimbangan, dan penerimaan pandangan setelah merenungkan, pembabar yang tampaknya cukup kompeten, atau karena kalian berpikir: ‘Petapa itu adalah guru kami.’” (Kalama Sutta)

















