Top 10 Penulis

Dunia tanpa aku

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

person standing on boulder during twilight
Photo by Nsey Benajah

Dunia tanpa aku sama dengan aku tanpa dunia. Dunia begitu besar dan aku begitu kecil. Tak sebanding memang jika dikatakan dunia tanpa aku sama dengan aku tanpa dunia. Mungkin karena tingkat kepercayaan diri sudah melesat jauh ke luar angkasa hingga berani mengatakan itu.

Apalagi jika kita melihat betapa luasnya alam semesta ini. Bumi saja mungkin hanya sebesar setitik debu di alam semesta. Apalagi aku. Di tengah-tengah dunia yang begitu besar, aku tak lebih dari satu per sekian debu. Mana mungkin benar bahwa dunia tanpa aku sama dengan aku tanpa dunia.


Jika dilihat dari sisi ukuran, jelas bahwa kita tak sebanding dengan dunia. Namun saat melihat sifat sejati kehidupan bahwa segala sesuatu itu saling berkaitan, sekecil apa pun kita di dunia kita punya kontribusi. Seminim apa pun kontribusinya, tetap saja itu kontribusi. Coba tengok teori chaos.

Disana ada penjelasan tentang efek kupu-kupu yaitu perubahan sekecil apa pun di satu tempat bsa mengakibatkan perbedaan besar. Edward Norton Lorenz mengemukakan sebuah pemikiran bahwa kepakan sayap kupu-kupu di hutan belantara Brazil secara teori dapat menghasilkan tornado di Texas beberapa bulan kemudian.

Mirip dengan sebongkah batu kecil yang dilemparkan ke tengah danau, riak-riak di danau pasti membuat sebuah perubahan yang tak bisa kita tentukan akibatnya. Belajar dari hal ini, kita harus percaya diri bahwa dunia tidak akan menjadi lebih baik tanpa kehadiran kita.

Kalimat terakhir di atas kedengarannya sombong dan terlalu angkuh. “Saya hanya manusia kecil biasa”. “Tanpa saya duni akan baik-baik saja”. “Masih banyak orang hebat lain yang akan mengubah dunia menjadi tempat yang lebih baik”. Itulah pemikiran kebanyakan orang. Akibatnya, mereka duduk diam tak bergeming pasrah melihat semua ketidakbenaran yang terjadi. Polisi diam saja melihat kendaraan umum berhenti di sembarang tempat. Walikota dan bupati diam saja ketika hutan dibakar  dan membuat orang sulit bernafas. Dan kita diam saja saat teman kita membuang sampah ke jalan dari balik jendela mobil. Tak cukup halaman ini menjelaskan begitu banyak hal yang ‘didiamkan’ karena pemikiran bahwa saya tak bisa berbuat apa-apa, ada orang lain yang akan mengurusnya. Jadi, berpikir bawah dunia tidak akan lebih baik tanpa kehadiran saya bukan bermaksud untuk menyombongkan diri, apalagi merasa paling hebat dan jago. Ini hanya sebuah pemicu bahwa saya ikut bertanggungjawab dengan kedamaian, kebaikan dan kebahagiaan di dunia. 

Selain dunia makro, kita juga hidup dunia mikro. Ada lingkungan rumah, ada hubungan dalam keluarga, ada interaksi di tempat kerja, dan beragam dunia lainnya tempat kita berada di sana. Jika di dunia makro kita seperti butiran debu, tapi tidak di dunia mikro. Masing-masing punya peranan penting, sekecil apa pun. Oleh sebab itu, dunia mikro pun tak akan lebih baik jika Anda tidak ada. Jadi jelas, dunia makro dan mikro sama-sama membutuhkan Anda.  Dengan demikian, tugas kita menjadi sederhana. Kita ada di sini. Dunia membutuhkan kita. Mari belajar, tumbuh dan berkembang untuk dunia yang lebih baik. Dimulaid dari dunia mikro, perlahan tapi pasti kita membuat dunia makro menjadi berkembang lebih baik. 

Pilihan

Terpoler Minggu Ini

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

brown statue
Perilaku sombong merugikan karena umat tidak suka pandita yang sombong, dan tidak menghormati mereka. Kesombongan membangun tembok yang memisahkan pandita dengan umat sedangkan kerendahan hati adalah jembatan yang menghubungkan pandita dengan umat.

Tulisan Terkait