Dalam Visuddhi Magga dijelaskan mengenai empat obyek meditasi pelindung. Empat obyek meditasi pelindung ini digunakan untuk melindungi diri dari bahaya-bahaya internal dan eksternal.
Bahaya-bahaya internal itu adalah lima rintangan batin (nīvaraṇa) dan kekotoran batin lainnya (kilesā) yang muncul bersama dengan batin dan mengotori serta mencemari batin menjadi tidak bajik dan tidak jinak. Lima rintangan adalah musuh-musuh terdekat kita yang mencegah kita melakukan perbuatan-perbuatan bajik dan merintangi munculnya kesadaran moral, jhana, dan magga dalam meditasi kita.
Bahaya-bahaya eksternal datang dari orang-orang jahat, hewan-hewan berbahaya, hantu, raksasa, raksasi, dan sebagainya. Seseorang mungkin menjumpai bahaya-bahaya ini, terutama ketika berada di alam bebas, misalnya di dalam hutan.
Untuk menangkal bahaya-bahaya ini, seseorang seyogyanya menjalankan meditasi-meditasi pelindung paling sedikit selama beberapa menit setiap paginya sebelum memulai aktivitas keseharian.
Meditasi-meditasi pelindung seperti yang disebutkan dalam Visuddhi Magga ini dapat diadaptasi menjadi perenungan pelindung yang dilakukan secara singkat dengan penuh konsentrasi, yakni: (1) Pemancaran cinta kasih (metta), (2) Perenungan sifat-sifat mulia Buddha, (3) Perenungan kejijikan sesosok mayat, dan (4) Perenungan sifat kematian. Empat perenungan pelindung ini sebenarnya dapat digunakan dalam segala situasi, kapanpun dan dimanapun.
Pemancaran Cinta Kasih (Metta)
Pemancaran cinta kasih bisa dilakukan dengan mengucapkan (bisa diperdengarkan dengan suara atau hanya dilafalkan dalam pikiran) dalam beberapa kali pengulangan secara sungguh-sungguh dan penuh konsentrasi:
“Semoga saya terbebas dari bahaya. Semoga saya terbebas dari penderitaan batin. Semoga saya terbebas dari penderitaan jasmani. Semoga saya selalu sehat dan bahagia.”
“Semoga semua makhluk terbebas dari bahaya. Semoga semua makhluk terbebas dari penderitaan batin. Semoga semua makhluk terbebas dari penderitaan jasmani. Semoga semua makhluk selalu sehat dan bahagia.”
Dengan kita rutin melakukan pemancaran cinta kasih, akan membuat batin kita tenang, tenteram, dan bahagia. Wajah kita akan tampak jernih, tenang, dan menyenangkan. Kita juga akan dicintai oleh setiap orang sehingga tak seorang pun yang akan mencoba untuk membahayakan kita.
Perenungan Sifat-Sifat Mulia Buddha
Perenungan sifat-sifat mulia Buddha harus dilakukan dengan penuh hormat, yakni:
“Sang Bhagavā, Yang Maha Suci, Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna, sempurna pengetahuan serta tindak-tandukNya, sempurna menempuh Sang Jalan (ke Nibbāna), Pengenal Segenap Alam, Pembimbing Manusia Yang Tiada Taranya, Guru Para Dewa dan Manusia, Yang Sadar, Yang Patut Dimuliakan.
Dengan kita rutin melakukan perenungan sifat-sifat mulia Buddha, kita menyebarkan sifat-sifat mulia Buddha ke dalam jasmani dan batin kita. Dengan demikian diri kita akan menjadi lebih bersih dan suci.
Perenungan Kejijikan Sesosok Mayat
Perenungan ini dilakukan dengan merenungkan kejijikan terhadap sesosok mayat. Mayat yang masih baru tentu masih utuh seperti orang yang sedang tidur. Jika dibiarkan beberapa lama, dalam hitungan jam, hari, atau minggu maka mayat tersebut akan mulai membusuk dan menjadi sangat menjijikkan.
Dengan kita rutin melakukan perenungan kejijikan sesosok mayat, akan membantu meredakan hawa nafsu kita dan memotong kemelekatan kita akan tubuh kita sendiri dan juga tubuh orang lain.
Perenungan Sifat Kematian
Perenungan ini dilakukan dengan merenungkan sifat kematian, yakni “Kehidupanku tidaklah pasti; tetapi kematianku adalah hal yang pasti karena yang pernah dilahirkan pasti akan mati.”
Dengan kita rutin melakukan perenungan sifat kematian, akan membantu meredakan kesombongan, keserakahan, dan kemarahan kita.
Seandainya seorang buddhis tidak bisa secara rutin setiap hari mempraktikkan empat perenungan pelindung ini, bisa dilakukan di situasi dan kondisi tertentu sesuai kebutuhan.
Cinta kasih adalah senjata terbaik untuk menaklukkan kemarahan, kebencian, dan dendam. Oleh karena itu, ketika seorang buddhis marah atau timbul dendam terhadap siapa pun, maka ia seyogyanya mengembangkan cinta kasih.
Perenungan sifat-sifat mulia Buddha adalah sarana terbaik untuk mengembangkan kejernihan batin, keyakinan, dan kepercayaan terhadap Buddha. Oleh karena itu ketika seorang buddhis kurang keyakinan dan kepercayaan, merasa bingung, maka ia seyogyanya mempraktikkan perenungan sifat-sifat mulia Buddha.
Perenungan kejijikan sesosok mayat adalah senjata yang paling efektif untuk meredakan hawa nafsu, haus-damba, dan kemelekatan. Oleh karena itu ketika hawa nafsu timbul dalam diri seorang buddhis dan membuatnya gelisah, maka ia seyogyanya merenungkan kejijikan sesosok mayat.
Perenungan sifat kematian sangat efektif untuk mengembangkan perasaan yang mendesak dan mencegah diri seorang buddhis dari pencarian yang tidak patut terhadap kekayaan yang berlebihan dan kesenangan indera. Oleh karena itu ketika seorang buddhis kurang perasaan yang mendesak dan merasa malas untuk berlatih meditasi, maka ia seyogyanya merenungkan sifat dasar dari kematian.
Jika seorang buddhis rutin mempraktikkan empat perenungan pelindung ini setiap hari, dia akan terhindar dari semua bahaya, cita-cita luhur tercapai, dan lima kekuatan atau kecakapan pengendalian berkembang (keyakinan, semangat, kesadaran, konsentrasi atau kemanunggalan batin, dan kebijaksanaan). Perenungan-perenungan pelindung ini jika dilakukan secara rutin, akan membantu meningkatkan kemampuannya sewaktu melakukan meditasi dengan obyek apapun yang dipilih.

















