Suatu kali Devadatta memanah burung angsa yang sedang terbang. Panahnya mengenai burung itu dan melukainya sehingga terjatuh ke tanah. Pangeran Siddhattha (yang di kemudian hari menjadi Buddha) mengambil burung yang terjatuh itu dan dengan penuh cinta kasih serta belas kasihan mengobati burung itu. Devadatta datang dan meminta burung itu karena ia merasa sebagai pemilik burung yang jatuh itu. Tetapi Pangeran Siddhattha tidak mau memberikannya karena ia ingin merawat burung itu sampai sembuh. Perdebatan keduanya tidak mencapai kesepakatan sehingga masalahnya dibawa ke Dewan Para Bijaksana. Dewan itu memutuskan bahwa burung itu merupakan milik orang yang menyelamatkannya dan bukan milik orang yang ingin membunuhnya. Setelah sehat, burung itu dilepas kembali ke alam bebas.
Cerita ini merupakan contoh pelaksanaan Abhaya Dana. Bhaya berarti ketakutan atau bahaya, jadi abhaya berarti tiada ketakutan atau bahaya. Abhaya dana bermakna perbuatan menolong makhluk hidup agar terbebas dari ketakutan atau bahaya, menyelamatkan hewan yang akan disembelih, memberi perlindungan bagi yang kesusahan, mengusahakan kesembuhan mereka yang sakit, termasuk pula melepaskan burung yang terkurung atau terperangkap.
Abhaya dana merupakan salah satu aspek perwujudan cinta kasih dan belas kasihan kepada sesama makhluk hidup. Dalam kehidupan sehari-hari umat Buddha berjanji melatih diri untuk tidak membunuh makhluk hidup. Dalam ajaran tentang Penghidupan Benar (Samma Ajiva – yang sering salah diterjemahkan sebagai Mata Pencaharian Benar), umat Buddha hendaknya mendapatkan penghidupannya dengan melakukan pekerjaan yang tidak menyakiti makhluk lain dan tidak memperdagangkan makhluk hidup termasuk senjata dan racun yang dapat membunuh makhluk hidup.
Dalam sejarah diceritakan bahwa setelah memeluk agama Buddha, Kaisar Asoka menetapkan peraturan yang melarang perbudakan, kekejaman terhadap hewan dan pembakaran/penggundulan hutan karena akan mengganggu kehidupan hewan di dalamnya. Ia juga merupakan penguasa pertama di dunia yang mendirikan rumah sakit untuk hewan. Asoka membuat dekrit yang menjelaskan kebijakannya dan mengajak rakyatnya untuk mengikuti teladannya. Dekrit Raja Asoka diukir di pilar batu setinggi 40-50 kaki. Dalam dekritnya, Asoka berjanji untuk merawat rakyatnya seperti seorang ayah. Raja juga berjanji tidak akan menggunakan kekerasan, tetapi akan melakukan cara yang baik untuk memenangkan hati seseorang.
Berkaitan dengan Abhaya dana, dikenal pula tradisi yang disebut Fang Shen. Secara harfiah berarti ‘life release’, melepas atau membebaskan kehidupan, yaitu melepaskan atau membebaskan hewan yang terkurung, terperangkap atau yang akan disembelih, dan melepaskannya ke alam bebas. Tradisi fangshen berawal mula di negeri Tiongkok setidaknya pada abad keenam sesudah Masehi. Ketika itu para bhikkhu menganjurkan umat untuk melepas ikan dan kura-kura di kolam vihara. Kemudian banyak vihara menyediakan kolam di mana umat dapat melepas ikan dan kura-kura, membuat sangkar burung bertingkat untuk tempat burung merpati, padang rumput untuk kambing, sapi dan kuda.
Fangshen dilakukan umat Buddha berkenaan dengan perayaan Tahun Baru Imlek dan hari besar lainnya di banyak negara seperti Tiongkok, Hongkong, Singapura, Indonesia, bahkan di Amerika Serikat dan Inggris. Menurut Humane Society International (HSI), ratusan juta burung, ikan, kera, kura-kura dan hewan lainnya terikut serta dalam tradisi Fangshen setiap tahunnya. Bagi banyak orang Fangshen merupakan suatu hal yang ‘eksotik’. Pada saat pelaksanaan Fangshen, umat berkumpul di tempat yang ditentukan dengan membawa hewan yang akan dilepaskan. Sebelum dilepas dibacakan paritta oleh para rohaniwan, setelah itu dilepaslah burung-burung dalam jumlah ratusan atau ribuan ke angkasa bebas, ikan atau kura-kura ke perairan. Menyaksikan hal tersebut tentu membuat hati bahagia, berharap agar hewan-hewan itu memperoleh kebahagiaan dengan beterbangan di udara dan berenang-renang di air….
Namun di balik itu, dalam pengamatan ternyata Fangshen yang dilakukan secara tidak tepat justru lebih memberikan penderitaan ketimbang kebahagiaan pada hewan yang difangshen. Untuk melakukan fangshen dengan hewan yang berjumlah ribuan, tentu perlu memesan dulu di pasar hewan. Penjual akan memesan hewan kepada pemasok yang akan melakukan penangkapan hewan. Hewan yang tertangkap dimasukkan dalam sangkar atau wadah yang mungkin tidak memadai dalam keadaan berdesakan. Menjadi lebih menyedihkan kalau sekiranya dari hewan yang tertangkap itu adalah induk yang sedang mencari makan bagi anak-anaknya yang kelaparan. Dibawa ke pasar untuk diambll oleh pemesan. Pada saatnya hewan-hewan itu dibawa ke tempat yang ditentukan untuk dilepaskan setelah diupacarai. Dalam praktiknya banyak hewan yang terluka dan lemah selama proses itu berlangsung, ada burung yang tidak mampu terbang, ada yang kesulitan mencari makan karena berada di tempat yang asing yang bukan habitatnya. Demikian pula ada ikan-ikan yang dilepas di perairan yang mungkin tidak sesuai untuk kehidupannya, bisa pula menjadi mangsa hewan lain. Ada yang ditangkap kembali untuk dijual lagi.
Sedikit lebih serius adalah kemungkinan terjadinya gangguan keseimbangan ekologi karena pelepasan hewan tertentu dalam jumlah besar, terlebih apabila kemudian hewan-hewan itu beranak pinak yang sehingga merugikan hewan lokal di tempat itu. Ada umat Buddha di Inggris terkena denda sebesar £28,000 karena melepaskan spesies ikan ‘non-native’ di perairan laut yang dapat menimbulkan kerusakan kehidupan kelautan. Ada juga pelepasan ular yang menyebabkan ketakutan penduduk setempat karena ada yang masuk ke dalam rumah.
Di jaman dahulu, banyak orang membuat jebakan burung atau hewan lainnya untuk untuk mendapatkan penghidupan. Melepaskan atau membebaskan hewan yang terperangkap dan menyelamatkannya merupakan Abhaya dana. Ada pula kebiasaan umat Buddha melepaskan hewan dari tempat pemotongan hewan dalam rangka hari ulang tahun, perkawinan, sembuh dari sakit dll. Di Thailand umat Buddha yang tersentuh hatinya melihat burung yang terkurung dalam sangkar, membelinya dan melepaskannya sebagai pelaksanaan Abhaya dana. Ada orang yang berbelas kasihan melihat hewan terlantar atau ditelantarkan di jalan, memungutnya dan merawatnya di shelter yang berisikan ratusan hewan. Kadang kala menerima telepon yang mengabarkan ada hewan seperti anjing terlantar di jalan, maka dikirimlah orang memungut anjing itu untuk dirawat. Kadangkala anjing diberi nama di tempat ditemukan, jadi kalau ditemukan di dekat tukang tambal ban, maka anjing diberi nama ‘tambal ban’………..Demikianlah fangshen ‘beneran’ yang dilakukan karena cinta kasih dan belas kasihan, tanpa memikirkan untuk mengurangi kamma buruk, untuk mendapat keberuntungan apalagi untuk menolak bala…..
Ada sedikit yang menggelitik dalam hati. Akankah lebih baik kalau Abhaya dana atau Fangshen itu ditujukan kepada orang yang sedang menderita kesusahan, ketakutan atau bahaya? Dalam masyarakat banyak orang yang membutuhkan pertolongan, maka tentu ada baik juga apabila kepada mereka diberikan pertolongan walaupun mungkin tidak terasa ‘eksotik’ seperti melihat pelepasan burung di udara atau ikan di air. Sebagai catatan, memberikan dana kepada seseorang yang sedang membutuhkan memberikan buah kamma yang jauh lebih besar ketimbang kepada hewan. Ada perbandingannya. Memberikan makanan kepada seekor hewan akan memberikan buah kamma baik berupa panjang umur, penampakan baik, kesehatan dan kekuatan untuk seratus kali kehidupan. Memberikan makanan kepada seseorang yang bermoral rendah memberikan buah kamma demikian untuk seribu kehidupan. Sedangkan memberikan makanan kepada seseorang yang bermoral baik akan memberikan buah kamma demikian untuk seratus ribu kehidupan. Jadi….why not?
“If you knew what I know about the power of giving, you would not let a single meal pass without sharing it in some way” (Buddha)

















