Top 10 Penulis

God Spot

Tulisan ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan Rumah Mettasik

persons hand with white manicure
Photo by Rishabh Dharmani

Sebuah pernyataan dari Volitaire, seorang filsuf Prancis abad-18’ “Jika Tuhan tidak ada, maka sangat perlu menciptakanNya.”

Pernyataan ini memberikan penekanan bahwa agama sangat penting untuk mengatur kehidupan menuju ke arah yang lebih baik. Aturan moralitas, etika, dan hukum terbukti mampu membuat manusia menjadi lebih beradab.

Pengetahuan manusia terhadap alam semesta adalah terbatas adanya. Beberapa misteri alam masih belum mampu dijawab secara kasat mata, seperti kelahiran, kematian, dan juga asal usul kehidupan dan alam semesta.

Dengan demikian, maka penting untuk melihat agama dari sudut pandang fungsionalis. Sebuah aturan yang dibuat secara terstruktur dan mampu menjawab hubungan diantara manusia dan semesta (atau Pencipta).

Secara umum kita dapat melihat bahwa ada manusia yang lebih religius dibandingkan yang lainnya. Ada yang taat beragama dan ada juga yang tidak menjadikan agama sebagai prioritas dalam kehidupan.

Apakah keimanan manusia dapat diukur? Atau lebih tepatnya, mengapa ada manusia yang lebih beriman dibandingkan dengan manusia lainnya? Apakah ini karena pengalaman, pengaruh lingkungan, atau pengaruh genetika?

Ada sebuah istilah The God Spot yang merupakan bagian dari syaraf yang tersebar di dalam otak manusia yang dapat merespon aspek agama dan Ketuhanan. Dikatakan bahwa titik-titik syaraf tersebut akan menjadi lebih utuh jika dirangsang dengan aktifitas kerohanian.

Teori ini ditemukan oleh ahli riset psikologi dan syaraf, Michael Persinger pada awal tahun 1990-an dan kemudian dilanjutkan dengan berbagai riset lanjutan oleh banyak ilmuwan lainnya.

Menarik diketahui bahwa seseorang yang memiliki kedekatan yang tinggi dengan kekuatan spiritual memiliki aktivitas lobus frontal di otak yang lebih meningkat.

Menurut seorang peneliti dan juga ahli syaraf dari Universitas California Los Angeles, V.S Ramachandran, melalui pengamatan terhadap otak dengan topografi emisi, posisi pada daerah syaraf lobus frontal akan bersinar apabila subyek penelitian mengdiskusikan spiritual.


Diketahui bahwa sisi kanan lobus parestalis berhubungan dengan orientasi diri, dan sisi kiri berhubungan dengan hubungan dengan orang lain. Dalam penelitian, disebutkan bahwa mereka yang lebih “beriman” akan cenderung menggunakan aktivitas yang lebih tinggi dari sisi kiri.

Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa ternyata manusia yang lebih spiritual, cenderung lebih memikirkan orang lain. Hal ini tentunya sejalan dengan berbagai ajaran dan literasi agama yang menyarankan untuk lebih banyak mendahulukan kepentingan sesama dibanding diri sendiri.

Ada yang mengatakan bahwa konsep religius tidak berhubungan sama sekali dengan proses pemikiran berlogika. Manusia yang lebih spiritual biasanya lebih mengutamakan konsep abstrak (intuisi) dalam penjelasan tanpa harus menerima pembenaran berlogika.

Pertanyaan yang belum ada jawaban seperti “siapakah diriku? Mengapa aku berada didunia ini? Apa fungsi diriku? Tidak memerlukan jastifikasi, karena belum ada jawaban ilmiah yang mendasari. Jika seseorang yang selalu tergerak untuk mencari jawaban ilmiah mengenai Ketuhanan, maka akan memicu konflik dalam diri mereka atas makna spiritual.
Hubungan diantara God Spot dan Intuisi.

Menurut Wolf Singer (1990), seorang ahli neurofisiologi kelahiran Jerman, God Spot pada otak manusia memiliki proses saraf yang terkonsentrasi pada usaha yang mempersatukan dan memberi makna dalam pengalaman hidup.

Sedangkan intuisi adalah kemampuan untuk memahami sesuatu tanpa penalaran rasional dan intelektual. Oleh sebab itu, ada hubungan yang cukup erat diantara God Spot otak manusia dan intuisi.

Senang mendengarkan bahwa ranah spiritual berhubungan dengan ranah sains. Sejarah mencatat beberapa konflik besar telah terjadi akibat perbedaan persepsi dari kedua ranah ini. Salah satunya adalah peristiwa konsep “bumi bulat” dari Galileo Galilei yang dihukum mati oleh gereja pada zamannya.

Sering dikatakan bahwa ilmuwan tidak percaya dengan Tuhan, dan sebaliknya keimanan banyak mendapatkan cobaan atas penemuan sains. Menurut penulis, kedua hal ini dapat berjalan beriringan. Bukankah Tuhan menciptakan manusia sebagai personifikasi terbaik dari diriNYa? Bukankah Tuhan menciptakan manusia dengan segala potensi untuk berkembang?

Jangan pernah mengambil sebuah tendensi atas nama keimanan, tanpa adanya bukti rasional yang mendukung. Sebaliknya sesatu yang belum mendapat jawaban jangan menjadi alasan untuk tidak beriman.

Siapa tahu, suatu waktu nanti, mahluk luar angkasa memiliki agama yang sama dengan manusia.

Pilihan

Terpoler Minggu Ini

Terpopuler Bulan Ini

Dari Penulis yang Sama

A family gathering for Chinese New Year, exchanging red envelopes and wearing traditional attire indoors.
Tetesan air mata dari kedua orang tua dan juga dari anak dan para cucu yang melakukannya dengan hikmah. Dilanjutkan dengan wejangan singkat (atau harapan) dari orangtua kepada anak cucunya, saling berpelukan, dan ditutupi dengan ucapan saling memaafkan.
children, boys, play
Menu yang anda suka, belum tentu tidak disukai oleh para sahabat. Namun jangan menjadi rakus, karena kapasitas perut mempunyai batas. Jika anda mengambil sup jagung dari sahabat, berikanlah perkedel jagung sebagai gantinya. 

Tulisan Terkait