Suatu ketika, ada pengusaha kaya raya, sebut saja “A”. Si A sangat pandai dan dengan kepandaiannya dia berhasil mengelola sebuah perusahaan yang berawal dari nol. Perusahaan tersebut kemudian menjadi sebuah perusahaan yang sangat terkenal dan banyak menghasilkan keuntungan.
Sebelum mendirikan perusahaan, A menikah dengan B. Dalam perkawinan mereka, A dan B mendapatkan anak C. Mereka sekeluarga hidup harmonis dan bahagia. Namun sangat disayangkan, setelah keberhasilannya A salah bergaul dengan teman-teman yang kurang baik. Teman-teman A suka berjudi. Salah satunya mereka mengajak A untuk berjudi taruhan bola. Awalnya, taruhan berjudi bola mereka nilainya tidak besar. Namun karena keserakahan dan rasa penasaran, semakin lama taruhan mereka semakin besar.
Tahap awal tentu saja A ada menang dan kalah dalam memasang taruhan. Ketika menang, A sangat bersemangat dan menjadi sangat baik, serta romantis kepada istri dan anaknya. Karena menang taruhan, A gembira dan membahagiakan keluarganya. Namun sewaktu kalah taruhan judi bola, A menjadi sangat buruk kepada istri dan anaknya. A memperlihatkan dua kepribadian yang berbeda. Ketika menang, A senang dan menjadi orang yang menyenangkan. Ketika kalah, A marah-marah dan menunjukkan karakter tidak baik, marah, tidak mau diajak diskusi, dan lain-lain. Inilah salah satu keburukan dari kebiasaan berjudi.
Dengan berjalannya waktu, kehidupan A juga dilalui dengan baik dan perusahaan yang dikelolanya bertambah maju. Dalam hal memasang taruhan untuk berjudi bola, A tetap mengalami saat menang dan ada saat kalah. Suatu hari A berjudi dengan nominal yang cukup besar karena dia mulai lebih percaya diri dalam berjudi dan memasang taruhan. Ternyata A kalah. A penasaran dan mencoba menebus kekalahannya. A memasang taruhan yang lebih besar. Ketika kalah lagi, A bukannya berhenti taruhan judi, malah sebaliknya A memasang taruhan judi lebih besar lagi untuk mencoba mendapatkan kembali uangnya yang hilang akibat kekalahan-kekalahan sebelumnya.
Karena kekalahannya berlanjut, akhirnya rumah yang keluarga mereka tempati pun dipasang untuk taruhan judi. Karena keserakahan A yang berpikir jika memasang taruhan rumahnya mungkin dia bisa menang dan kembali modal. Pikiran A untuk mendapatkan lebih banyak dan lebih banyak lagi, akhirnya semua hartanya dipertaruhkan. Sayangnya A kalah lagi sehingga tamatlah riwayatnya. A pun dicari-cari oleh pihak berwajib untuk membayar hutang yang sudah dijadikan taruhannya, rumah dan semua hartanya pun disita.
Cerita tersebut menggambarkan si A yang kehidupannya sukses dalam usaha yang dia rintis dari nol. Keluarga A pun awalnya bahagia. Namun akibat dari pengaruh teman-teman dan salah bergaul, akhirnya merugikan diri sendiri dan keluarganya. Yang lebih memprihatinkan, akhirnya A menjadi buronan karena aset-asetnya ternyata tidak mencukupi untuk membayar semua hutangnya akibat kalah taruhan judi. Istri dan anaknya menjadi korban dari kelakuan A akibat pergaulan buruk dengan teman-temannya. A telah menjadi “Pencuri diri sendiri”, tidak hanya menghancurkan dirinya sendiri tetapi juga keluarganya.
******
Terkadang pencuri diri sendiri tidak menyadari bahkan malah marah jika diberitahu dan dinasihati oleh orang-orang terdekat atau oleh orang-orang lainnya. Kita harus menyadari bahwa kita adalah pemilik dari perbuatan kita sendiri. Tidak ada orang yang bisa merubah diri kita kecuali kita sendiri mau merubahnya.
Berhati-hatilah dalam memilih teman bergaul. Tidak semua teman mendukung kita untuk maju. Tidak semua teman senang melihat kita berhasil dan sukses. Janganlah kita terpengaruh dengan teman-teman yang kurang baik dan akhirnya kita menjadi pencuri diri sendiri. Ada baiknya kita menghindari atau memutus pergaulan dengan teman-teman yang nyata-nyata dapat berpengaruh buruk bagi diri dan kehidupan kita.
Sadarilah pencuri diri sendiri sangat merugikan dan membahayakan tidak hanya diri kita sendiri tetapi juga orang-orang terdekat kita. Jangan biarkan kita menjadi pencuri diri sendiri. Pergunakan seluruh potensi, bakat, waktu, pikiran, dan tenaga kita dengan baik dan maksimal. Jadilah pemenang bagi diri kita sendiri dan wujudkan diri kita yang terbaik. Niscaya kesuksesan dan kebahagiaan yang lebih luas dalam kehidupan akan menjadi milik kita.
“Sadarilah pencuri diri sendiri sangat merugikan dan membahayakan diri kita sendiri. Jangan biarkan kita menjadi pencuri diri sendiri. Pergunakan seluruh potensi, bakat, waktu, pikiran, dan tenaga kita dengan baik dan maksimal. Jadilah pemenang bagi diri kita sendiri dan wujudkan diri kita yang terbaik.”
(Diambil dari Buku “MotivAction – Motivation for Action”)

















