Ada sebuah kisah mengenai seorang anak laki-laki tuna rungu. Anak ini sejak lahir sudah tidak bisa mendengar, namun kehidupannya dilalui dengan penuh suka cita dan dia sangat mandiri. Pada suatu hari orang tuanya berpikir bahwa yang terbaik bagi anak mereka adalah menjalani operasi guna menyembuhkan pendengarannya. Semua orang beranggapan bahwa pendengaran adalah hal yang baik dan berpikir jika nanti anak itu sudah dapat mendengar maka anak itu pasti akan bahagia karena bisa seperti anak-anak normal lainnya.
Kemudian dilakukanlah operasi untuk menyembuhkan pendengaran anak itu. Operasi berjalan lancar. Anak itu sekarang sudah bisa mendengar. Tetapi setelah pendengarannya menjadi normal, anak itu berkata, “Mengapa kalian melakukan ini kepada saya? Semua bunyi yang tak kuketahui maknanya ini membuatku sangat menderita. Mengapa kalian tidak menanyaiku terlebih dahulu sebelum melakukannya?”
Orang-orang berasumsi bahwa semua orang pasti ingin bisa mendengar. Namun menjadi bisa mendengar ternyata menyebabkan derita hebat bagi anak itu. Orang-orang seharusnya menanyainya terlebih dahulu sebelum melakukan operasi untuk memulihkan pendengarannya. Demikianlah dalam kehidupan ini, banyak hal yang kita kira paling tahu, kenyataannya kita salah dalam mengambil tindakan yang malah merugikan orang lain.
****
Dari cerita tersebut bisa disimpulkan bahwa ketika kita tidak sedang dalam kondisi yang baik, misalnya ketika kita sedang murung atau kurang bugar, saat itu kita berpikir bahwa suatu kritik itu penting. Setelah kita beristirahat dan bisa berpikir dengan lebih tenang, ternyata kritik tersebut menjadi tidak terasa penting sama sekali.
Hal ini mengajarkan kita mengapa kita sering mengkritik, bukan terhadap apa yang orang lain lakukan, namun terhadap apa yang kita sendiri rasakan. Jika kita lelah, sakit, atau merasa kurang nyaman, itu bukanlah waktu yang tepat untuk menegur atau mengkritik orang lain karena niat buruk yang ada pada kita akan membengkokkan realita yang ada. Kita menghakimi mereka. Kita tak mampu membuat keputusan rasional. Berapa banyak dari kita yang pernah saling menghakimi ketika sedang tidak dalam kondisi yang baik?
Ambillah suatu keputusan terbaik yang belum pernah kita lakukan sebelumnya. Jika ada hal terbaik yang bisa membuat diri kita lebih baik dari sebelumnya, sebaiknya kita jangan langsung menolak meskipun hal tersebut belum menjadi kebiasaan dalam diri kita. Tentu saja perubahan dari diri kita yang sebelumnya akan sangat sulit karena kita harus beradaptasi dengan kondisi terbaik yang baru kita lakukan. Dengan berjuang keluar dari zona nyaman, kita sekaligus berjuang mengeluarkan diri kita yang sesungguhnya, salah satunya dengan menggunakan kritik akurat untuk membuat kita mampu mengeluarkan potensi, bakat, dan kemampuan terbaik dari dalam diri kita.
****
Suatu ketika, seseorang mengkiritik kita dan kritikan itu berisi hal yang negatif. Kita merasa kesal. Ketika beberapa hari kemudian kita bertemu lagi dengan orang tersebut, spontan kita langsung ingat, “Oh, orang ini yang pernah mengatakan hal negatif kepada saya.” Bulan depan kita bertemu lagi dengan orang tersebut, kita masih mengingat kritik negatifnya. Ini berlangsung sampai waktu yang lama, bahkan bisa bertahun-tahun kita masih mengingat kritik negatif tersebut. Padahal mungkin orang yang memberi kritik negatif tersebut sudah lama melupakan kritikannya kepada kita.
Kebanyakan dari kita menyimpan hal yang negatif ketimbang hal yang positif. Kita sering menyalahkan orang lain yang sudah mengkritik kita. Kita berpikir bahwa karena dialah maka saya menjadi seperti ini, karena kritikan yang tidak bisa saya lupakan dari dialah maka saya menjadi seperti ini, dan lain-lain.
Ketika kita menyimpan kritik yang negatif, akan sangat merugikan diri kita sendiri. Lepaskan dan hapus daftar kritik negatif yang sudah terekam dalam memori kita. Dengan cara ini, kita berdamai dengan diri kita sendiri. Kehidupan kita akan lebih damai dan bahagia.
***
Sifat alami manusia bermacam-macam, salah satunya adalah ketika kita mendapat kritik yang tidak menyenangkan maka akan kita simpan dalam diri kita. Yang rugi adalah diri kita sendiri. Mereka yang mengkritik kita malah mungkin sudah melupakan apa yang mereka katakan kepada kita. Tetapi kita terus menyimpan kritik dari orang tersebut sampai berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun lamanya.
Jangan menyimpan kritik yang tidak baik tentang diri kita. Jangan ambil kritik itu dan menyimpannya dalam diri kita. Cukup kita tahu dan lepaskan karena yang paling dirugikan adalah diri kita sendiri.
Untuk apa kita menyimpan “sampah” orang lain. Lepaskanlah maka kita akan lebih merasa tidak terbebani dan hidup dengan lebih nyaman.
Tentunya dengan tetap menerima kritik yang positif dan melepaskan kritik yang negatif dari orang lain, kita juga akan lebih mudah untuk mengeluarkan potensi, bakat, dan kemampuan terbaik dari dalam diri kita sehingga kita bisa menjadi diri yang terbaik dan kita akan merasakan sendiri kemajuan dalam batin kita.
Sesungguhnya dengan mampu melepaskan kritik dari orang lain, secara tidak langsung kita sudah belajar mengelola diri dan batin kita karena tidaklah mudah untuk mampu melakukannya.
Kritik terbaik sesungguhnya adalah datang dari diri sendiri. Mengkritik diri sendiri dengan melihat ke dalam diri, akan menjadi motivasi dan semangat bagi diri kita untuk menjadi lebih baik. Dengan mengkritik diri sendiri menjadi lebih baik, kita akan lebih mudah mengeluarkan diri kita yang terbaik, yakni mengeluarkan potensi, bakat, dan kemampuan terbaik dari dalam diri kita. Niscaya kesuksesan dan kebahagiaan yang lebih luas dalam kehidupan akan menjadi milik kita.
“Kritik terbaik sesungguhnya datang dari diri sendiri dan untuk diri sendiri. Mengkritik diri sendiri dengan melihat ke dalam diri sendiri, akan menjadi motivasi penyemangat diri untuk menjadi lebih baik.”
(Diambil dari Buku “MotivAction – Motivation for Action”)

















